Pages

Saturday, March 24, 2012

Penyu Belimbing

jumlah penyu di seluruh dunia ini banyak sekali diantaranya ada yang namanya penu sisik, penyu hijau, penyu lekang dan seterusnya, untuk yang satu ini memang beda karena memiliki kelebihan bila dibandingkan penyu lainnya.

untuk sedikit mengetahui penyu yang satu ini mari kita coba lihat yang disebut penyu belimbing yang memang badannya bergelombang seperti belimbing dan memiliki kelebihan bisa mengatur daya apung



Penyu Belimbing sedang merapat di pantai.
Foto: endangered.nothingbut830.com

Penyu Belimbing memiliki kemampuan selam yang unik.
Mereka dengan rutin menyelam hingga kedalaman ratusan meter dan diketahui hingga mencapai 1250 meter. Penyu Belimbing diduga menempuh kedalaman untuk menghindari predator, mencari mangsa dan menghindari panas di kawasan tropis. Namun, kemampuan mereka dalam mengatur daya apung / buoyancy (baca: 'boyansi') masih dipertanyakan.


Penyu Belimbing menuju ke kedalaman



Sabrina Fossette dari Swansea University menjelaskan bahwa tidak ada orang mengetahui sebelumnya bagaimana penyu menyelam: Apakah mereka berenang/mengayuh langsung ke kedalaman, ataukah mereka menurunkan daya apung mereka dan turun layaknya batu?. Penasaran akan cara penyu Belimbing turun ke kedalaman, Rory Wilson dan kolaborator riset, Molly Lutcavage, mencoba menempatkan data logger (alat perekam kondisi lingkungan) pada penyu Belimbing betina saat mereka merapat untuk bertelur di St Croix, kepulauan US Virgin. Mereka menemkan bahwa penyu Belimbing megatur daya apung dengan menyesuaikan jumlah udara yang mereka ambil sesaat sebelum turun ke bawah.

Penemuan mereka diterbitkan di Journal of Experimental Biology, 12 November 2010 lalu. " Sangat mengagumkan ketika anda melihat penyu Belimbing keluar dari air, bagaikan dinosaurus," ujar Fossette, sesaat pulang dari mengumpulkan data di Samudera Hindia. Fossette, Andy Myers, Nikolai Lebssch dan Steve Gardner menempelkan akselerometer pada lima betina saat mereka lepaskan telur. 8-12 hari kemudian untuk penyu-penyu kembali kepantai lagi untuk melepaskan telur lagi dan kembali ke laut dan saat itulah akselerometer di ambil kembali. Mereka menemukan bahwa hanya dua data dari lima rekaman akselerometer yang bisa diolah. Dari alat perekam data yang berfungsi didapatkan catatan 81 selaman dan setelah dianalisa tim, kedalaman tercatat mulai 64 meter hingga 462 meter.

Penyu Belimbing sedang menetaskan telur di pantai.

Kembali di Universitas Swansea, tim riset menganalisa data temperatur dan tekanan air laut serta akselerasi saat renang yang dicatat oleh logger. Fossette menjelaskan bahwa saat di kedalaman penyu Belimbing juga berenang dan untuk pertamakalinya aktifitas lokomotor penyu saat selam dalam bisa tercatat.

Dari data akselerasi, gerakan penyu Belimbing saat menyelam ke kedalaman menukik dengan sudut rata-rata 41 derajat. Dalam awalan renang-nya, kayuhan lengan sirip penyu bisa membawa penyu melaju selama 3 detik. Namun ketika mereka turun semakin dalam lagi, tenaga kayuhan mereka berkurang hingga tidak berenang sama sekali sesaat daya apung mereka negatif dalam kedalaman maksimum yang mereka capai. Tim riset menemukan bahwa penyelam terdalam memiliki daya apung yang juga lebih lama juga dan cenderung memulai meluncur (gliding) ketika memasuki kawasan paling dalam. Tim riset menduga bawha penyu mengatur daya apung mereka sebelum turun menyelam dengan mengeatur jumlah udara yang mereka ambil di permukaan. Fossette juga mengatakan bahwa dari 80% dari selaman penyu penetas ke dasar, merekacenderung meluncur ketimbang berenang, yang diduga untuk menyimpan energi yang juga penting untuk produksi telur.

Penyu Belimbing kembali kelaut seusai melepaskan telur.

Tim riset saat ini tertarik untuk melihat pola selam Penyu Belimbing di kawasan ruaya mereka di laut Atlantik Utara. Fossette menerangkan juga bahwa telur penetas kehilangan berat badan, sedang kan penyu peruaya cenderung menambah berat badan dari makan; dan dua hal ini mempengaruhi daya apung dan prilaku selam masing-masing penyu. Namun, untuk penyu peruaya, penempelan logger (tagging) pada penyu seberat 400 kilogram dilakukan langsung di laut lepas, tidak bisa di pantai sebagaimana pada penyu penetas, dan itu satu tantangan teknis terbesar dalam penelitian mereka.



Referensi

S. Fossette, A. C. Gleiss, A. E. Myers, S. Garner, N. Liebsch, N. M. Whitney, G. C. Hays, R. P. Wilson, M. E. Lutcavage. Behaviour and buoyancy regulation in the deepest-diving reptile: the leatherback turtle. Journal of Experimental Biology, 2010; 213 (23): 4074 DOI: 10.1242/jeb.048207 
laut dan kita
http://lautkita.blogspot.com/2010/12/diver-sejati-penyu-belimbing-yang.html

Belut Laut yang transparan

Belut laut bertubuh transparan? Ya. Seekor Leptochepalus, yang berarti 'kepala datar', adalah larva transparan dari belut air tawar, belut laut, dan hewan lain dalam Superordo Elomorpha. Jenis ikan laut yang memiliki tahapan larva Leeptochepalus diantaranya yang awam adalah Moray Eel, dan Garden Eel serta belut air tawar yang termasuk dalam famili Anguilidae, dan lebih dari 10 famili belut laut yang tidak umum.

Leptochepalus - larva belut.
(Foto: Ross Hopcroft / University of Alaska Faribanks)
Leptochepali (sebutan jamak untuk Leptochepalus), memiliki tubuh lateral
yang pipih berisi kandungan serupa jeli di dalam tubuhnya dan lapisan tipis otot di luar tubuhnya. Organ tubuh mereka kecil perpaduan karakteristik ini membuat mereka tampak tembus pandang saat hidup. Kandungan sel darah merah di tubuh mereka sangat sedikit hingga mencapai tahapan larva glass eel yang sudah mulai menyerupai belut.

Dibandingkan larva ikan umumnya, mereka bisa tumbuh relatif lebih besar, antara 60 hingga 300 mm dan fase hidup larva mereka lama mulai tiga bulan hingga satu tahun. Pola gerak renang mereka serupa dengan ikan di famili Anguliform lainnya, dan bisa 'perseneling maju dan mundur'. Santapan mereka belum diketahui pasti, sebab tidak dijumpai zooplankton - makanan khas larva ikan - di dalam perut mereka. Diduga mereka makan partikel kecil yang melayang di lautan, dikenal sebagai marine snow.

Untuk menjumpai mereka, kita mungkin perlu berenang cukup dalam, sebab mereka bisa berada hingga 100 meter dari permukaan laut. Mereka ada hampir di seluruh perairan dunia, mulai perairan temperatur-sedang bagian bumi selatan hingga tropis, dimana umumnya belut laut dewasa ditemukan.

Bagi anda yang menekuti sains kelautan, biota satu ini bisa jadi fokus penelitian, sebab masih belum banyak dipahami seluk-beluknya, dan menjadi tantangan biolog laut. Sebab mereka sangat rapuh dan makan partikulat kecil ketimbang zooplankton, dan mereka perenang yang mahir dan bisa menghindari jaring plankton yang umum digunakan biolog untuk mengambil sampel hidup mereka.
sumber referensi
Laut dan kita
http://lautkita.blogspot.com/2011/06/belut-laut-betubuh-tembus-pandang.html

Terumbu karang butuh perlindungan jauh lebih besar lagi.


Saat ini manusia terus meng-asam-kan dan menghangatkan lautan dunia. Kita perlu berusaha lebih giat lagi untuk menyelamatkan Terumbu Karang.

Terumbu dengan koral yang terjaga (atas)
dan koral dalam status kelulushidupan rendah, diselimuti alga (bawah).
(Foto: Siham Afatta / Karimunjawa, Indonesia)

Studi terkini dari tim ilmuwan internasional mengemukakan bahwa pengasaman laut dan pemanasan global akan berlangsung bersamaan dengan dampak lokal manusia seperti penangkapan ikan berlebih dan buangan nutrien dari daratan - terus semakin melemahkan terumbu karang dunia disaat mereka sedang mencoba bertahan saat ini.

Permodelan ekologis yang dilakukan oleh tim yang digagas Dr Ken Anthony dari ARC Centre of Excellence for Coral Reed Studies dan Global Change Institute di The University of Queensland menemukan bahwa: terumbu yang sudah mengalami penangkapan berlebih serta terpapar lepasan nutrien dari erosi di daratan akan semakin rentan akan peningkatan CO2 di atmosfir yang diakibatkan pembakaran bahan bakar fosil.

Studi mereka adalah yang pertama kali menggabungkan proses skala global seperti pemanasan iklim dan pengasaman laut, dengan faktor lokal seperti penangkapan berlebih dan buangan aliran dari daratan (runoff); dalam memprediksi kombinasi dampak pada terumbu karang.

'Resep mudah untuk menghapus terumbu karang dari Bumi'
(Foto: Paul Marshall, Ken Anthony)

"Saat kadar CO2 menanjak hingga 450-500 bagian persejuta (ppm) - sebagaimana diprediksi terjadi di 2050 - sejauh apa usaha kita bisa mengelola dampak lokal di terumbu (seperti perikanan dan polusi dari daratan) menjadi penentu untama mampu bertahannya terumbu karang, jika tidak, alga bisa mengambil alih tempat tumbuh koral di terumbu" - dikutip dari artikel ilmiah mereka.

Kondisi laut yang menghangat menyebabkan kematian koral masal yang berkala karena pemutihan, sedangkan pengasaman air laut - akibat CO2 yang larut dari atmosfir - melemahkan koral dengan menganggu kemampuan mereka membangun struktur koral, membuat koral lebih rentan akan dampak badai.

Jika koral juga dipengaruhi oleh buangan nutrisi (polusi) dari daratan - sehingga 'menyuburkan' alga dan diperparah dengan penangkapan berlebih ikan kakatua dan biota lainya berperan menjaga terumbu bersih dari alga sehingga terumbu bisa pulih kembali setelah sebuah gangguan) - maka, dalam situasi ini, terumbu bisa sepenuhnya dilingkupi alga, menggantikan koral yang menetap diatas terumbu.

Permodelan yang dilakukan tim peneliti, meskipun simulasi dilakukan tidak dalam skenario ekstrim, sudah mampu menghasilkan prediksi kritis bagi terumbu di negara berkembang seperti Indonesia - dimana terumbu karang berdampingan selalu dengan tingkat gangguan tinggi dari aktifitas manusia.

Sederhananya, model mereka menguak bahwa semakin banyak CO2 dilepaskan manusia, semakin sulit keadaan bagi koral untuk bertahan. Koral akan membutuhkan segala macam pertolongan yang mereka bisa dapat dari segala usaha pengelolaan yang manusia bisa lakukan untuk mencegah mereka kalah tumbuh dan dilingkupi rumput laut.

Terumbu karang di negara berkembang, dimana terumbu dunia paling banyak berada, seperti Indonesia; saat ini dihadapkan selalu dengan penangkapan berlebih dan nutrifikasi. Mereka saat ini sangat rentan, dimana kapasitas para pengelola terumbu dan pemerintah menentukan nasib mereka di masa depan.

Dalam sisi global, jika kesepakatan manusia gagal dalam menstabilkan dan mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfir Bumi, maka jenis koral pembangun struktur dasar terumbu seperti Acropora, bisa hilang dalam jumlah besar - meskipun usaha pengelolaan di skala lokal dilakukan sebaik apapun.

Spesifiknya, usaha pengelolaan sekala lokal seperti menjaga populasi ikan herbivori serta pencegahan buangan erosi daratan berlebih, zat pupuk dan limbah dari daratan - menjadi kunci peran dalam menjaga ketahanan koral dalam proses penstabilan CO2 di masa depan.

Di Indonesia, tindakan tidak ramah lingkungan pada terumbu karang terkait dengan instabilitas perekonomian masyarakat pesisir. ±90% nelayan Indonesia adalah nelayan skala-kecil. Namun, Lebih 60% keuntungan tangkap ikan di Indonesia mengalir ke 5% nelayan asing.

Komitmen pemerintah Indonesia dalam menyelamatkan masyarakat nelayan dan pesisir dari kemiskinan, menentukan selamatnya terumbu karang dan kelestarian perikanan Indonesia dalam dekade kedepan. Kesadartahuan dan proaktif masyarakat dalam menjaga kelestarian laut juga akan kritis dalam menentukan nasib pesisir dan laut. 
Luat dan kita: http://lautkita.blogspot.com/2011/02/lautan-yang-mengasam-terumbu-karang.html
Referensi
  • Kenneth R. N. Anthony, Jeffrey A. Maynard, Guillermo Diaz-Pulido, Peter J. Mumby, Paul A. Marshall, Long Cao, Ove Hoegh-Guldberg. Ocean acidification and warming will lower coral reef resilience.Global Change Biology, 2011; DOI: 10.1111/j.1365-2486.2010.02364.x
  • laut dan kita 

Gunakan dua ibu jari kita

Telepon seluler saat ini menjadi perantara kuat komunikasi instan bagi penduduk dunia - bahkan hingga masyarakat yang tidak punya telepon kabel. Jangkauan luas SMS sudah sepatutnya jadi terobosan alat bantu dalam konservasi laut.

SMS sudah menjadi salah satu cara terpopuler untuk komunikasi telepon, terutama di Asia. Cepat, langsung, dan umumnya lebih murah dibanding bicara. SMS juga bekerja dengan baik di kawasan terpencil, walaupun sinyal kadang terbatas untuk transmisi pembicaraan.

Nelayan Filipina berkoordinasi dengan SMS.
Foto: Stella Chiu-Freund / WWF Phillipines
Dengan SMS, kita
yang mau andil dalam konservasi bisa memobilisasi tindakan, mendapatkan informasi, hingga menggalang dukungan. Bayangkan, contohnya, jika saja negara memiliki hotline jaringan SMS untuk jembatani tanggap darurat terkait permasalahan lingkungan pesisir dan laut yang terjadi seketika - seperti tumpahan minyak, perusakan terumbu karang, pembabatan mangrove hingga pencemaran air dari industri -; maka masyarakat tidak perlu menunggu kabar di koran keesokan hari yang sudah telat untuk ditindak lanjuti.

Masyarakat dan stakeholder yang menyaksikan kejadian semacam itu bisa SMS-kan laporan seketika pada hotline untuk dapatkan tanggapan resmi dari pihak terkait atau informal dari masyarakat sendiri. Bahkan dikombinasikan dengan social network melalui internet seluler, tidak menutup kemungkinan masyarakat membagi informasi foto, koordinat lokasi yang bisa perkuat berita tulisan mereka dengan bukti kuat terjadinya ancaman lingkungan.

Bahkan tanpa hotline resmi, kekuatan informal masyarakat bisa bawa perubahan besar.Di Filipina bagian tengah saat ini terbentuk aliansi 900 keluarga nelayan yang saling kirim SMS untuk koordinasikan usaha-usaha konservasi lokal untuk lindungi 150 kilometer busur terumbu atol.

Memanfaatkan telepon seluler yang didonasikan oleh masyarakat Filipina pendukung konservasi dari luar kawasan tersebut, nelayan-nelayan bisa dengan seketika mengingatkan kantor pengelola konservasi di tingkat provinsi hingga kepolisian lokal saat mereka jumpai aktifitas ilegal seperti pengeboman ikan, dan pengangkapan ikan yang dilarang seperti dengan pukat - hampir semua yang saat ini dorong ekosistem pesisir mereka ke penghabisan.

Dengan cara ini pula para pemimpin aliansi nelayan telah laporkan banyak pelanggaran konservasi di kawasan perlindungan hingga masalah terkait kelumpuhan birokrasi dari aparat konservasi pemerintah sendiri. Laporan mereka juga terbuka untuk umum, hingga media massa bisa menyentuh untuk sebarluaskan secara nasional kejadian di skala lokal. Luar biasa.

Di Indonesia, inisiatif serupa sudah dijalankan di Taman Nasional Karimunjawa, Jawa Tengah. Kerjasama antara aparat Balai Taman Nasional Karimunjawa dengan masyarakat dan kelompok nelayan Karimunjawa telah bentuk mekanisme kontak SMS untuk jaga kawasan perairan kepulauan yang dilindungi negara.

Menipisnya cadangan ikan di perairan Karimunjawa, terancamnya kelulushidupan ikan-ikan muda di kepulauan Karimunjawa, serta penyelamatan satwa terancam punah seperti penyu; membutuhkan penurunan intensitas penangkapan ikan, terutama dari cara tangkap yang tidak efisien dan merusak yang datang dari nelayan luar perairan.

Dalam prakteknya, nelayan berkolaborasi dengan aparat Balai Taman Nasional untuk memantau aktifitas perairan di zona konservasi disela rutinitas melaut Nelayan dan melaporkan ke balai melalui SMS jika insiden pelanggaran terjadi. Teknologi seluler menjembatani terobosan pengelolaan kawasan perlindungan laut secara kolaboratif di Indonesia.

Jauh di Afrika, SMS juga andil kuat dalam konservasi. Nelayan di pulau atau perairan pelosok sebelum menangkap spesies ikan lebih lanjut, mereka terlebih dahulu meng-SMS rekan mereka di pasar apakah jenis tersebut harganya sedang baik atau turun. Di Afrika Selatan, peminat ikan segar dan pehobi hidangan laut bisa SMS ke hotline resmi untuk cek apakah ikan tersebut tergolong 'lestari' atau tidak.

Terkait perlindungan spesies dan ekosistem secara tidak langsung, SMS dan teknologi seluler lainnya juga sudah sudah menjembatani kordinasi antara praktisi konservasi dengan donor konservasi - dengan mudah saat ini masyarakat bisa lakukan donasi dengan aplikasi selfon keluaran lembaga konservasi lingkungan internasional. SMS dan jejaring sosial seluler tidak luput juga menjembatani penyebaran berita konservasi, memudahkan pencernaan temuan ilmiah pad amasyarakat seperti contohnya: @laut_kita dan beberapa akun twitter yang di-follow-nya.

Ayo, tunggu apa lagi? Jangan berhenti gunakan dua ibu jari untuk sebar ajakan untuk andil selamatkan lingkungan pesisir dan laut kita.

2/3 Indonesia adalah lautan, pastikan hati dan tindakan kita 2/3 untuk konservasi lautan.
sumber referensi: Laut dan kita
http://lautkita.blogspot.com/search/label/Perikanan%20Lestari

Sistem pasar perikanan yang menerapkan penghargaan bagi praktek yang lestari

solusi untuk perikanan lestari
Perikanan manusia terus sebabkan tangkapan sampingan. Satwa terlindungi yang terancam tidak luput jadi imbas komersialisasi ikan global saat ini.
(Foto: Reuters)
Puluhan ribu ton biota laut tak sengaja tertangkap dan terbunuh akibat armada tangkap perikanan dunia. Inilah yang disebut tangkapan sampingan (bycatch) yang pada praktiknya juga mengancam biota laut terancam punah seperti hiu dan penyu.
Di negara dengan sistem pengelolaan perikanan yang relatif sudah maju, ada peraturan yang membatasi jumlah tangkapan sampingan yang boleh di ambil oleh Nelayan. Namun peneliti perikanan ungkap bahwa pendekatan regulasi tidak cukup melindungi satwa terancam yang populasinya sedang menurun drastis saat ini seperti penyu dan hiu.
Para peneliti ekonomi-ekologi perikanan tegaskan bahwa cara kita menjalankan pasar ekonomi perikanan juga bisa bawa perubahan. Solusi yang mereka ketengahkan adalah 'tradable bycatch credit', atau jika lugas diterjemahkan sebagai 'kredit tangkapan sampingan yang dapat diperdagangkan'.
Sederhananya, pasar ekonomi perikanan yang menerapkan kredit tangkapan sampingan berarti jika ada nelayan yang tak sengaja menjerat biota laut yang dilindungi diantara biota yang jadi tangkapan sampingannya - maka dia harus membeli 'poin' kredit dari Nelayan lain yang berhati-hati dalam tangkapan sampingannya.
Yang berlaku disini adalah, nelayan yang 'nakal' membayar 'denda'-nya kepada nelayan lain yang berhati-hati.
Sayangnya, walaupun sistim perikanan negara-negara dunia saat ini sudah mulai mengatur ke-'ramah-lingkungan-an cara tangkap mereka - sistim perdagangan ikan masih belum ciptakan dorongan finansial yang membuat pelaku tidak menangkap biota laut yang dilindungi. Justru sistem perdagangan ikan dunia saat ini cederung bangun permintaan yang tak henti akan biota laut yang dilindungi.
Balik ke kredit tangkapan sampingan. Dengan peraturan yang membatasi jumlah tangkapan sampingan, seluruh armada tangkap bisa diberhentikan menangkap saat mereka sudah capai jumlah maksimum yang diperbolehkan. Namun, peraturan ini ternyata buat kecenderungan Nelayan dan armada tangkap untuk secepat dan sebanyak mungkin tangkap ikan ketika 'sadar' bahwa jatah jumlah tangkapan sampingan mereka mendekati batas yang diperbolehkan.
Perilaku semacam itu berpotensi melumpuhkan perikanan sebab waktu dan usaha nelayan menjadi 'membabi-buta' tanpa perhatikan perlindungan satwa laut. Selain itu juga, nelayan yang 'tertib' menjaga batas tangkapannya dalam besaran yang lestari dirugikan akibat pupusnya harapan mereka untuk beri peluang populasi ikan laut pulih.
Solusi sederhana dicontohkan dari perikanan di Hawaii, ialah dengan menerapkan batasan kredit tangkapan sampingan bagi armada tangkap tiap tahunnya - misal, 200 kredit atau 'poin' untuk tiap nelayan yang terdaftar.
Contoh rakteknya, anggap jika denda untuk menangkap penyu adalah 250 poin, maka lebihan 50 poin tersebut harus dilunasi dengan membeli 50 poin dari Nelayan lain yang tertib.
Jika selama musim tangkap ternyata semakin banyak penyu yang tertangkap - anggap terburuknya, hingga Nelayan tidak ada kredit lagi - berarti mereka harus membayar harga 'poin' dari denda tangkapan sampingan dengan menaikkan harga ikan yang mereka jual di pasaran.
Ke siapa mereka membayar 'poin denda' tersebut? Ya ke Nelayan lain yang tertib. Jika tidak ada Nelayan yang tertib lagi, maka di bayar ke pemerintah pengawas perikanan. Namun situasi semacam ini jarang terjadi. Sebab yang diharapkan antar Nelayan ada sistem ekonomi yang saling mendisiplinkan antar mereka sendiri.
Satu contoh lain penerapan skema kredit dilakukan juga pada usaha pelestarian populasi ikan pedang / ikan todak yang sudah ditangkap berlebih. Saat Nelayan sudah dapat jatah kredit / 'poin' tangkapan sampingan tahunan mereka, mereka bisa menjual 'poin' tersebut ke pihak pasar/ industri perikanan.
Dengan dibelinya kredit secara tidak langsung nelayan dibayar untuk mengurangi tangkapannya. Tidak hanya mengurangi terbunuhnya ikan todak atau penyu, namun terciptanya subsidi yang datang dari pasar dagang. Dalam hal ini pasaran membeli sedikit mahal dari nelayan sebab mereka 'tertib' otomatis harga ikan pihak industri dipasaran juga akan naik. Disinilah pasar dagang ikan menciptakan kenaikan nilai jual ikan yang mendorong nelayan yang bertanggung-jawab. Inflasi yang positif.
Prakti semacam ini digagas dari pengamatan perikanan negara maju. Skemanya sejalan dengan konsep kredit emisi yang dapat diperdagangkan yang diterapkan perusahaan pencemar dalam industri energi dan manufaktur.
Namun, syarat utamanya adalah pengelola perikanan engara yang menjamin keberadaan pasar perikanan yang terstruktur dengan rapi dengan jalur lalu lintas ikan terpantau dengan kuat mulai penangkal (nelayan), hingga konsumen.
Catatan besar, disini Nelayan punya kekuatan kuat sebagai pelaku industri dalam menetapkan harga ikan. Sedangkan di Indonesia, Nelayan umumnya dikesampingkan akibat banyaknya perantara pasar ilegal, alias 'tengkulak'. Bahkan tidak jarang, tertib atau tidak tertib dalam cara tangkap, Nelayan tidak punya kuasa tentukan harga Ikan yang pantas buat kesejahteraannya.
Indonesia? Bisa saja kalau kita mau berbenah diri.
Digubah kembali dari laporan penelitian dari Geogre Sugihara oleh Siham Afatta

Ikan hasil kerja keras nelayan terkadang harganya tidak membayar keringat Nelayan. Nelayan yang 'memproduksi' ikan memiliki posisi tawar lemah dalam perdagangan ikan mereka sendiri.
(Foto: www.indomaritimeinstitute.org)
Referensi:

2009. Sugihara, G., and H. Ye. Reducing Chinook salmon bycatch with market-based incentives: individual tradable encounter credits (ITEC). A recommended approach for an industry market-incentive plan. Report and Testimony to the North Pacific Fishery Council (February 2009).
laut dan kita

Tuesday, March 13, 2012

Kegiatan penyuluhan

Photo kegiatan dalam gambar

ini adalah merupakan salah satu bagian dari kegiatan dan proses penyuluhan perikanan kabupaten mukomuko dalam rangka pembinaan di lapangan secara terpadu, yang melibatkan tokoh masyarakat terkait,  dan perahu tersebut merupakan salah satu dari kegiatan PUMP dalam rangka penyediaan sarana dan prasara perikanan tangkap terhadap kelompok PUMP Yang dibiayai oleh pemerintah pusat melalui KUB  dalam usaha  peningkatkan produksi perikanan tangkap dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan.

gambar tersebut merupakan kelompok usaha bersama di desa air rami kecamatan air rami kabupaten Mukomuko tahun 2011 bersama pihak terkait dalam pembinaan lapangan secara terpadu .

TEKNOLOGI PENGOLAHAN SELAI RUMPUT LAUT

Selai (bahasa Inggris: jam, bahasa Perancis: confiture) adalah salah satu jenis makanan awetan berupa sari buah atau buah-buahan yang sudah  dihancurkan, ditambah gula dan dimasak hingga kental atau berbentuk setengah padat. Selai tidak dimakan begitu saja, melainkan untuk dioleskan di atas roti tawar atau sebagai isi roti manis. Selai juga sering digunakan sebagai isi pada kue-kue seperti kue Nastar atau pemanis pada minuman, seperti yogurt dan es krim. Selai rumput laut adalah selai yang dibuat dari sari buah (nenas) dan rumput laut ditambah dengan bahan-bahan lain, mempunyai kenampakan  jernih dan transparan serta mempunyai tekstur kekenyalan tertentu.
•    Bahan Baku : Rumput Laut E. cottonii 100% (1000 gr)

•    Bahan - bahan  lain :             
-    Gula pasir 150% (1500 gr)
-    Nenas  100 % ( 1000 gr)
-    Asam sitrat 1% ( 2 gr)
-    Garam 0,25% (0,5 gr)
-    Pewarna secukupnya

•    Alat - alat :
-    Alat Penggorengan
-    Baskom
-    Sendok
-    Kompor
-    Blender

•    Cara Pengolahan :
  • Rendam rumput laut kering hingga rumput laut mengembang. Perendaman dapat dilakukan selama 1 sampai 2 hari. Selama perendaman sebaiknya dilakukan pencucian dan penggantian air rendaman. Untuk mengurangi bau amis, selama perendaman ditambahkan air cucian beras / tepung beras.
  • Setelah  mengembang,  rumput  laut  ditimbang  sesuai  kebutuhan,  ditambahkan air (1 : 1)  dan diblender hingga halus.
  • Rumput  laut   dituangkan   dalam  wajan untuk  dipanaskan  selanjutnya tambahkan gula  pasir dan diaduk
  • Tambahkan nenas, asam sitrat, garam dan dilakukan pengadukan hingga tekstur agak mengental
  • Matikan api kompor, tambahkan pewarna dan simpan pada suhu ruang hingga dingin
  • Selai yang sudah dingin selanjutnya dikemas dan siap untuk dipasarkan.


sumber :
BBP2HP, Jakarta. 2011
http://arif.ipkani.org/index.php?option=com_content&view=article&id=46:teknologi-pengolahan-selai-rumput-laut&catid=36:pengolahan-pemasaran&Itemid=55

Petunjuk Pembuatan Pakan Buatan

Dalam menyusun ramuan untuk pakan buatan harus memperhatikan kadar zat-zat dari masing-masing bahan baku dan disesuaikan dengan kebutuhan.
  1. Bentuk Larutan Emulsi
    1. Sebutir telur itik direbus sampai masak, kemudian diambil kuningnya dan dilarutkan dalam 200 ml air.
    2. Sambil diaduk, tambahkan 40 g tepung kedele halus, 5 g sagu, dan akhirnya 1 g vitamin.
    3. Panaskan larutan sambil tetap diaduk, sampai diperoleh cairan kental seperti lem yang encer. Larutan siap digunakan setelah dingin.
    4. Masa simpan larutan 10 jam dan digunakan untuk makanan burayak ikan yang berumur 3-20 hari.
  2. Bentuk Larutan Suspensi
    1. 20 g kedele direbus sampai masak, agar zat penghambat tumbuhnya hilang, dihaluskan dan diberi air sedikit demi sedikit, kemudian disaring dengan kain mori halus. Telur itik diberi perlakukan serupa dan yang digunakan hanya bagian yang kuning.
    2. Larutan sari kedele dan larutan sari kuning telur dicampur dan diaduk merata.
    3. Digunakan untuk makanan burayak.
  3. Bentuk Roti Kukus
    1. Telur itik dikopyok sampai lumat dan berbuih. Secara berangsur-angsur ditambahkan tepung ikan, tepung terigu, dan tepung susu, sampil terus diaduk dan diberi air sedikit demi sedikit.
    2. Adonan dikukus sampai masak selama 30 menit. Roti yang sudah masak didinginkan dengan kipas angin.
    3. Vitamin B dan C dihaluskan, ditambah tetrasiklin yang telah dibuang kapsulnya dan beberapa tetes vitamin A+D-pleks dan Kalsidol.
    4. Roti kukus yang telah dingin, dibentuk menjadi gumpalan kecil-kecil, kemudian dioleskan pada campuran vitamin dan antibiotik, sambil diremas-remas sampai campuran merata. Roti dapat disimpan dalam lemari es selama 3 hari.
    5. Sebelum digunakan sebaiknya dibuat suspensi, yaitu dengan melarutkannya dalam air melalui kain saringan halus yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran burayak yang akan diberi makan.
  4. Bentuk Pellet
    1. Bahan untuk membuat pelet ada 2 macam, yaitu berupa: tepung kering dan gumpalan (pasta).
    2. Bahan perekat dapat dicampur langsung dengan bahan lainnya saat masih kering, atau disendirikan. Bila disendirikan, bahan tersebut diseduh dulu dengan air mendidih sampai mengental seperti lem encer. Setelah itu bahan perekat dicampur dengan bahan-bahan lainnya.
    3. Pencampuran bahan dimulai dengan bahan yang jumlahnya sedikit dan diakhiri dengan bahan yang jumlahnya paling banyak. Bahan yang berupa pasta dicampurkan paling akhir. Bahan perekat yang dibuat adonan tersendiri, dicampurkan paling akhir. Adonan yang masih kurang basah dapat ditambah air sedikit demi sedikit.
    4. Apabila bahan perekat dicampur langsung dengan bahan-bahan lainnya, maka pembuatan adonan dilakukan dengan air panas sebanyak ± 1/4 berat bahan baku. Pengadukan dilakukan di atas api kecil, agar air tidak cepat dingin.
    5. Pengadukan adonan dilakukan sampai terjadi perubahan warna.
    6. Adonan didinginkan di atas tampir. Apabila menggunakan ragi, maka pencampurannya dilakukan setelah adonan dingin.
    7. Bahan baku yang telah dingin dicetak dengan penggiling daging dan akan diperoleh bentuk batangan-batangan. Batangan basah tersebut dipotong-potong sepanjang 3 cm.
    8. Pelet basah yang telah dipotong-potong dijemur sampai kadar airnya 10- 20%. Pengeringan dihentikan apabila pelet kering, keras dan mudah patah.
    9. Bentuk Remah dan Tepung
      1. Keduanya berasal dari pellet yang sudah kering. Pellet digiling lagi dengan penggiling kopi. Besar kecilnya ukuran butiran tergantung kendor kencangnya setelan gigi-gigi penggilas alat penggiling.
      2. Tepung kasar dan halus dipisahkan dengan ayakan.
        • Untuk benih berumur 20-40 hari, mata saringnya 40-75 sampai 75-105 mikron.
        • Untuk benih berumur 40-80 hari, mata saringnya > 105 mikron.
    10. Bentuk Lembaran
      1. Kuning telur ayam dikopyok sampai lumat, sambil berangsur-angsur ditambah air 100 ml, kemudian ditambah 20 gram tepung terigu.
      2. Adonan dipanaskan sambil terus diaduk sampai adonan mengental menjadi emulsiarutan emulsi yang masih panas dan encer, dioleskan tipis-tipis dan tipis-tipis di atas lempeng aluminium, kemudian dipanggang sampai mengering dan akan mengelupas sendiri.
      3. Lapisan yang telah mengelupas, dikumpulkan. Dalam keadaan demikian mudah pecah-pecah menjadi kepingan-kepingan kecil.
sumber referensi:
http://www.iptek.net.id/ind/warintek/3d1c4.html
http://arif.ipkani.org/index.php?option=com_content&view=article&id=65:pembuatan-pakan-buatan&catid=34:perikanan-budidaya&Itemid=53

Apa itu Stat Planet Map Maker ?

StatPlanet Map Maker merupakan salah satu solusi untuk menampilkan data statistik secara simple dan menarik dilihat.
StatPlanet adalah aplikasi gratis untuk membuat peta tematik dan grafik hanya dengan mengklik tombol. Dengan StatPlanet anda dapat menjelajahi demografi, pendidikan, lingkungan, kesehatan dan indikator sosial-ekonomi dari berbagai sumber seperti UIS dan WHO. Hal ini juga memungkinkan anda menghasilkan peta dan grafik interaktif dengan menambahkan atau mengimpor data Anda sendiri. StatPlanet dapat digunakan baik online atau sebagai aplikasi desktop (stand-alone).
Tujuan StatPlanet adalah untuk mempromosikan pengambilan keputusan berdasarkan pada bukti dengan meningkatkan dan memfasilitasi komunikasi dan interpretasi informasi.
StatPlanet melakukan hal – hal tersebut dengan menyediakan:
  1. visualisasi interaktif menarik yang memfasilitasi interpretasi informasi,
  2. interface yang mudah dipahami dan dapat diakses juga untuk pengguna non-teknis,
  3. visualisasi data secara otomatis (termasuk proses penggabungan dan sinkronisasi data dari sumber yang berbeda), dan
  4. kemudahan penyebarluasan sistem software yang dapat memungkinkan orang untuk mengeksplorasi dan menciptakan visualisasi data - terlepas dari kemampuan teknis, ketersediaan konektivitas internet, dan perangkat keras atau perangkat lunak komputer.

StatPlanet telah dikonseptualisasikan dan sedang dikembangkan oleh Frank van Cappelle sejak tahun 2005. Sejak tahun 2008, pengembangan versi yang disesuaikan dari StatPlanet sedang dilakukan sebagai bagian dari program penelitian SACMEQ di UNESCO Institut Internasional untuk Perencanaan Pendidikan (IIEP).


Mendownload Stat Planet Map Maker
StatPlanet Map Maker dapat di download secara gratis di alamat web http://www.statsilk.com/downloads
..........................

Downloads

All StatSilk software except for StatPlanet Plus & StatTrends Plus are free downloads, and can be freely used, distributed and published on the web. The desktop versions of StatPlanet Plus & StatTrends Plus can also be downloaded for free for use by non-commercial entities. The web version of StatPlanet Plus & StatTrends Plus require a license for both commercial and non-commercial entities.

StatPlanet - mapping software

  • Software for visualizing spatial data through interactive maps, graphs & charts (e.g. country, region, district data).

StatPlanet

Download | Read more
v.3.0 (17 Feb 2012)
Create fully customizable interactive maps & graphs and publish them online (limit of 5 indicators).

StatPlanet Plus

Download | Read more
v 3.0 (16 Feb 2012)
Advanced version of StatPlanet with support for ESRI shapefile maps, large datasets, and other features.

StatPlanet Lite

Lightweight version of StatPlanet. Supports ESRI shapefile maps (limit of 1 indicator).


 

StatTrends - visualization software

  • Software for visualizing any kind of data through graphs and charts

StatTrends

DownloadRead more
v 1.1 (20 Dec 2011)
Create interactive graphs and charts (limit of 7 indicators).

StatTrends Plus

Download | Read more
v 1.1 (20 Dec 2011)
Advanced version of StatTrends with support for large data sets and other features.


 

World stats

  • Software for exploring world stats through interactive visualizations from various international organizations, including UNDP, UNESCO, UNICEF, WHO and the World Bank.

StatWorld

Desktop and web-based version of StatPlanet with over 300 world stats on economy, health, education, gender, population and more. Free educational software.

StatPlanet World Bank

Explore Explore world stats (3000+ indicators) through the World Bank's Open Data Intiative - first prize winner in the World Bank Apps for Development competition. Loading is slower than in StatWorld as all data is retrieved live from the World Bank database.
*Instructions for opening and extracting the files.

Silahkan download


SUMBER; IPKANI
http://arif.ipkani.org/index.php?option=com_content&view=article&id=95:apa-itu-stat-planet-map-maker-&catid=41:teknik-pembuatan-peta-statistik-digital-interaktif&Itemid=65

http://www.statsilk.com/downloads

Mempersiapkan Gambar Peta

Setelah kita mengenal tentang Stat Planet Map Maker, langkah selanjutnya adalah kita harus mempersiapkan gambar peta yang akan kita gunakan dalam membuat peta statistik digital. Terdapat beberapa macam cara yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan gambar peta tersebut diantaranya adalah :

1.    Mengkonversi shape file GIS (.SHP) menjadi vektor yang bisa dikenali oleh Adobe Flash
2.    Mengkonversi gambar vektor (.SVG) menjadi vektor yang bisa dikenali oleh Adobe Flash
3.    Mengkonversi gambar Bitmap menjadi vektor
4.    Menggambar ulang peta langsung dalam Adobe Flash CS 3


Dari keempat cara di atas, yang lebih mudah kita lakukan dan akan dibahas dalam buku ini adalah menggambar ulang peta langsung dalam Adobe Flash CS 3. Mengapa cara itu paling mudah ? karena dengan cara itu kita tidak memerlukan tools dan pengetahuan lain yang cukup rumit.
Untuk memulai bekerja mempersiapkan gambar peta dengan cara menggambar ulang peta secara langsung dalam Adobe Flash CS 3, kita membutuhkan sebuah file gambar peta asli dengan tipe jpg, bmp, atau gif.
Misalnya kita akan membuat peta statistik digital Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah maka terlebih dahulu kita harus mempersiapkan peta asli Kecamatan Giriwoyo.
Contoh :XX

Setelah gambar peta yang asli telah kita siapkan, selanjutnya buka file gambar peta tersebut ke dalam Adobe Flash CS 3. Langkah – langkah menggambar ulang peta menggunakan Adobe Flash CS 3 adalah sebagai berikut :
  1. Klik File -> Import -> Import to Stage; dan pilihlah peta yang akan digambar ulang tersebut
  2. Tampilan :
  3. Setelah gambar peta terimport ke stage adobe flash cs 3, sesuaikanlah ukuran peta agar gambar peta tercover dalam layer
  4. Tampilan :XX
  5. Klik gambar peta yang sudah diimport kemudian Convert gambar peta tersebut menjadi Movie Clip dengan cara klik Modify -> Convert to Symbol -> Movie Clip;
  6. Tambahkan Layer baru di atas Layer peta;
  7. Mulailah menggambar peta pada layer baru dengan menggunakan Line Tool pada Drawing Toolbar. Buat garis mengikuti gari – garis yang ada pada peta asli untuk setiap desa. Hubungkan titik pembuatan garis awal dengan titik garis akhir setiap desanya sehingga gambar menjadi sebuah bentuk tertutup menyerupai bentuk desa pada gambar peta asli;
  8. Perbesarlah tampilan layer jika garis – garis pada peta tidak terlihat;
  9. Setelah terbentuk sebuah gambar desa, berilah warna dengan mengklik Paint Bucket Tool -> Pilih warna -> Rubah Alpha warna pada properties menjadi 40 % -> Klik pada obyek gambar desa yang baru dibuat;

  1. Tampilan :XXX
  2. Lanjutkan menggambar dengan cara yang sama sehingga semua desa yang ada telah tergambar dan membentuk satu wilayah kecamatan;
  3. Setelah semua desa tergambar hapuslah layer yang berisi gambar peta asli, sehingga hanya tersisa gambar peta yang baru
  4. Tampilan :XX
  5. Simpan gambar peta baru tersebut dengan misal dengan nama map_giriwoyo.fla (File -> Save As) pada folder ‘Latihan Peta’.

Setelah kita melakukan 10 tahapan di atas, maka gambar peta untuk bahan peta statistik digital Kecamatan Giriwoyo telah siap. Gambar peta tersebut kita sebut saja dengan istilah “Peta Bahan” yang berupa file dengan format ekstensi .fla gambar ini nantinya akan kita gunakan sebagai gambar peta dalam peta statistik digital.
Bersambung ke Bab Berikutnya


sumber referensi:
Ikani
http://arif.ipkani.org/index.php?option=com_content&view=article&id=96:mempersiapkan-gambar-peta&catid=41:teknik-pembuatan-peta-statistik-digital-interaktif&Itemid=65

Demonstrasi Cara dalam sistim Penyuluhan Perikanan

A.    PENGERTIAN
Demonstrasi Cara adalah metode penyuluhan perikanan berupa kegiatan untuk memperlihatkan secara nyata tentang cara penerapan teknologi perikanan yang telah terbukti menguntungkan bagi pelaku utama/pelaku usaha perikanan.

B.    TUJUAN
Tujuan dari demonstrasi cara adalah untuk meyakinkan orang bahwa suatu cara kerja tertentu yang dianjurkan itu bermanfaat dan mudah dilakukan. Contoh dari demonstrasi cara adalah demonstrasi pembuatan konstruksi kolam dan tambak, demonstrasi cara penebaran benih, lokasi demonstrasi biasanya berada di daerah yang mudah dikunjungi pelaku utama/pelaku usaha.

C.    TEKNIK PELAKSANAAN
Teknik pelaksanaan dari metode ini adalah :
  • Siapkan materi yang akan disampaikan, materi yang dapat didemonstrasikan. Materi ini ditetapkan berdasarkan masalah yang dihadapi pelaku utama;
Contoh materi dalam demonstrasi cara adalah :
a.    Teknik Kawin Suntik Ikan
b.    Persiapan Wadah Pemijahan Ikan
c.    Teknik Persiapan Wadah Budidaya Kepiting Lunak
d.    Teknik Penetasan Telur Ikan Gurame Menggunakan Baskom
e.    Teknik Budidaya Ikan Minapadi Kolam Dalam
f.    Teknik Pengangkutan Benih Ikan Jarak Dekat
g.    Teknik Pengangkutan Benih Ikan Jarak Jauh
h.    Teknik Pengobatan Penyakit Ikan Aeromonas
i.    Teknik Pembuatan Kerupuk Udang
j.    Dan sebagainya
  • Tempat, alat dan bahan untuk demonstrasi dipersiapkan sebelumnya dan diperiksa supaya tidak gagal pada waktunya;
  • Beritakan mengenai tempat, waktu dan maksud demonstrasi seluas mungkin, dapat melalui ketua kelompok, papan pengumuman;
  • Tempat diatur sebaik mungkin sehingga semua hadirin dapat melihat, bertanya dan berdiskusi;
  • Berikan kesempatan pada hadirin untuk mencoba sendiri;
  • Berikan bahan-bahan penunjang yang bersangkutan dengan demonstrasi;
  • Setelah selesai demosntrasi mintakan komentar dari para ketua kelompok berkenaan dengan penerapan cara baru seperti yang didemonstrasikan.
  • Sebagai persiapan dalam pelaksanaan kegiatan demonstrasi cara, buatlah sebuah rencana kerja yang tertuang dalam matrik.
D.    MANFAAT DAN HAMBATAN
  1. Efektif untuk mengajarkan keterampilan,
  2. Menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri,
  3. Merangsang kegiatan,
  4. Mempunyai efek publisitas,
  5. Tidak semua materi dapat didemostrasi carakan,
  6. Memerlukan banyak persiapan dan perlengkapan disamping membutuhkan penyuluh yang benar-benar terampil dan menguasai masalah,
  7. Bila demonstrasi berjalan buruk, akan merugikan programa penyuluhan secara keseluruhan.
  8. Kegiatan demonstrasi cara dapat dilaksanakan di semua tingkatan mulai di tingkat kelompok pelaku utama, tingkat Desa, tingkat Kecamatan, tingkat Kabupaten, tingkat Provinsi sampai di tingkat Nasional.



sumber referensi:
Ikani
http://arif.ipkani.org/index.php?option=com_content&view=article&id=93:iii-pelaksanaan-demonstrasi-cara&catid=38:lainnya&Itemid=59

Mengenal P4S

APA ITU P4S? 
Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S)  adalah: lembaga pendidikan di bidang pertanian dan pedesaan yang dimiliki dan dikelola oleh petani-nelayan baik secara perorangan maupun berkelompok, dan bukan merupakan instansi pemerintah. 
APA TUJUAN P4S? 
1.      Tujuan Umum 
Terselenggaranya program-program pelatihan bagi para petani-nelayan di bidang pertanian, perindustrian dan usaha pedesaan lainnya secara teratur dan berkesinambungan. 
2.      Tujuan Khusus 
a.  Berkembangnya swadaya petani-nelayan dalam meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan wawasan berusaha sesama petani-nelayan. 
b.  Meningkatkan ketrampilan dan kecakapan petani-nelayan pemagang serta keyakinanya terhadap usaha tani sebagai pekerjaan atau sumber mata pencaharian. 
c.  Tumbuhnya kreativitas, sikap kritis, rasa percaya diri, dan jiwa kewirausahaan petani-nelayan pemagang. 
d.  Meningkatkan ketrampilan, kecakapan dan rasa percaya diri petani-nelayan pemagang maupun petani-nelayan pengajar. 
e.  Tumbuh dan berkembangnya hubungan sosial dan interaksi positif antara sesama petani-nelayan. 

APA PRINSIP-PRINSIP P4S ? 
Prinsip-prinsip P4S mempunyai azas dan ciri sebagai berikut: 
1.  Azas-azas P4S adalah demokrasi, swadaya, pengembangan usaha, dan keterpaduan. 
2.  Ciri-ciri P4S adalah dikelola secara swadana oleh petani-nelayan yang usahataninya maju, terletak di lingkungan usahatani milik pengelola dan dilaksanakan dengan prinsip permagangan, serta mendapat dukungan pemerintah daerah setempat.
BAGAIMANA ORGANISASI DAN MANAJEMEN P4S? 
Organisasi P4S adalah sederhana dan dikembangkan sesuai kebutuhan. Keseluruhan manajemen P4S harus mampu mengakomodasi bentuk pelatihan yang bersifat permagangan yang menekankan pada keakraban dan kekeluargaan antara peserta pelatihan dan pengajar/induk semang. Sebagai lembaga swadaya masyarakat P4S dapat bernaung di bawah badan hukum yang berbentuk Yayasan atau Koperasi. 
SIAPA SAJA PESERTA DIDIK P4S? 
Peserta didik P4S adalah petani-nelayan khususnya pemudatani-nelayan/tarunatani-nelayan dan anggota masyarakat lain yang berminat mengembangkan usaha di bidang pertanian maupun non-pertanian. Peserta yang dilatih dapat perorangan ataupun berkelompok. 
Pelatih pada P4S pada dasarnya adalah para petani-nelayan pengelola P4S, yang dapat dibantu oleh para kontaktani-nelayan sekitar, guru, widyaiswara serta penyuluh pertanian setempat dan tenaga lain yang dianggap perlu. 
SARANA PRASARANA YANG HARUS DIMILIKI PENGELOLA P4S 
P4S seyogyanya memiliki sarana prasarana minimum sebagai berikut: 
a.  Tersedianya lahan/obyek usahatani dan non-usahatani yang dapat dipakai untuk praktek. 
b.  Tersedianya tempat menginap bagi peserta, baik di rumah petani pengelola maupun tempat lain di sekitarnya. 
c.  Tersedia ruangan untuk berkumpul dan belajar.
d.  Adanya rencana kegiatan belajar tertulis. 
BAGAIMANA PEMBIAYAANNYA? 
Biaya penyelenggaraan P4S pada dasarnya swadana yang besarnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama antara pengelolaan dan peserta. Tidak tertutup kemungkinan mendapat bantuan dari pihak ketiga sebagai sponsor. Bila perlu pengelola P4S dapat memberikan imbalan atau bentuk kompensasi lain kepada peserta.
BAGAIMANA PENGELOLAAN BELAJAR PADA P4S? 
Dalam menyelenggarakan P4S, perlu dibuat: 
1.      Rancangan pelatihan 
Merupakan kombinasi antara “ikut belajar sambil bekerja” dengan pembekalan pengetahuan/ketrampilan secara terstruktur, berupa bimbingan teori atau praktek, baik di ruangan kelas, laboratorium/workshop maupun lapangan. Rancangan pelatihan sebaiknya disusun sesuai dengan musim dan jenis usahatani. 

2.      Kurikulum dan Materi 
Kurikulum dan materi harus disusun seluwes mungkin disesuaikan dengan permintaan peserta didik, serta kemampuan yang dimiliki oleh penyelenggara pelatihan. Dalam menyusun kurikulum dan materi pelatihan, penyelenggara dapat bekerjasama dengan Balai Latihan Pegawai Pertanian (BLPP), Balai Informasi dan Penyuluhan Pertanian (BIPP), Balai Latihan Industri dan Instansi lain yang terkait. 

3.      Metode Pelatihan 
Metode belajar diutamakan yang memungkinkan peserta didik berpartisipasi aktif, dan menekankan kepada praktek, yang didasarkan atas pengalaman para pengelola. Pelajaran diberikan dalam bentuk kerja nyata sesuai dengan realitas di lapangan, sedangkan teori dalam bentuk kuliah/belajar di kelas hanya diberikan bila perlu saja. 

4.      Sistem Penilaian dan Akreditasi 
Setiap pengelola P4S seyogyanya melaksanakan penilaian terhadap peserta didik melalui ujian/evaluasi akhir peltihan, dan bagi yang lulus diberikan sertifikat. 
EVALUASI DAN BIMBINGAN LANJUTAN 
Bimbingan lanjutan oleh pengelola P4S kepada mantan peserta magang dilaksanakan dengan jalan menjalin ikatan kerjasama dalam upaya menyebarluaskan teknologi, informasi pasar dan pemasaran hasil usahatani/non-usahatani serta memberikan bimbingan dan sekaligus membantu memecahkan masalah yang dihadapi alumni peserta magang. 
Di samping itu, perlu dilakukan evaluasi penyelenggaraan dan evaluasi hasil permagangan secara bersama oleh pemagang, pengelola dan pengajar



semoga ada manfaatnya

Monday, March 12, 2012

Teknik Pendederan dan Pembesaran Ikan Gurame





JENIS
Jenis gurame yang umum terdapat dilingkungan petani terdiri dari 4 jenis antara lain:
  1. BLUE SAFIR
  2. ANGSA
  3. BASTER
  4. BATU

HABITAT
• Digolongkan ikan DATARAN RENDAH dan OMNIVORA
• Habitat alami : Sungai, Danau dan Rawa
• Temperatur optimum 27-30 °C, pH 7-8, kandungan oksigen 4-5 ppm.
• Lebih menyukai kola, dengan dasar tanah
• Menyukai air yang tenang dengan kedalaman 70-100 cm
• Peka terhadap cahaya terutama pada malam hari dan perubahan kualitas air mendadak
• Kebiasaan makan mempunyai sifat yang cenderung kearah aktif pada kondisi menjelang gelap
• Menyukai pakan yang ada di permukaan
• Hindari penangkapan saat hujan



TEKNIK PENDEDERAN
PERSIAPAN
• Luas kolam 100-150 m2, konstruksi dasar kolam tidak disemen
• Pematangan kolam tidak berumput. Dinding bentuk trapezium. Dinding bagian dalam dibuat halus/rata dengan cara di “KEDOK TEPLOK”
• Tinggi pematang 80-100 cm
• Dasar kolam tidak terlalu berlumpur
• Lakukan pengolahan tanah dasar kolam dengan pengapuran dosis 100-200 gram/m2 dan pemupukan pupuk kandang 500-100 gram/m2
• Setelah pengolahan  tanah dasar, lakukan pengairan sampai kedalaman 50-60 cm. Selanjutnya pemasukan air dipertahankan mengalir dengan debit sekitar 1 liter/detik (untuk kolam 100-150 m2)

PEMILIHAN BENIH TEBAR
Kegiatan pemilihan benih tebar merupakan hal yang sangat vital yang perlu diperhatikan kesalahan dalam pemilihan benih tebaran akan berdampak buruk terhadap produksi yang diharapkan. Untuk itu perlu diperhatikan antara lain :
• Kondisi benih benih sehat, tidak cacat/luka dan lincah.
• Warna tidak terlalu hitam,sisik lengkap/tidak ada yang lepas. Tubuh tidak kaku
• Proses penangkapan hati-hati dan dilakukan saat kondisi tidak terlalu terik. Sebaiknya penangkapan tidak dilakukan saat hujan
• Pengangkutan benih dilakukan pagi/sore hari.

PENEBARAN BENIH
Penebaran benih sebaaiknya dilakukan pada pagi/sore hari. Sebelum benih ditebar dikolam, laukan penyusuaian suhu air dalam wadah angkut dengan suhu air kolam pemeliharaan. Untuk tahap pendederan kepadatan benih 10-20 ekor/m2 dengan ukuran benih 50-75gr/ekor.

PEMELIHARAAN
Pakan
Pakan yang diberikan terdiri dari 2 macam yaitu pakan buatan dan pakan hijauan.
Pakan buatan yang diberikan sebaiknya pakan terapung (grower) dengan jumlah pemberian 3-5%/hari dengan frekuensi pemberian 2 kali yaitu jam 06.00 dan 17.00. Hijauan yang diberikan berupa jenis daunt talas-talasan, lemna minor dan Azolla. Jumlah pemberian sekitar 5%hari.

KESEHATAN IKAN
Untuk menekan tingkat kematian akibat serangan penyakit, sebaiknya dilakukan menggunakan garam dapur dengan dosis 20-25 ppm setiap minggu.

PEMANENAN
Pemanenan dilakukan setelah benih mencapai berat 200-250 gram/ekor. Berat demikian dapat dicapai dengan pemeliharaan yang baik dan intensif selama 3-3,5 bulan. Konversi pakan untuk tahap ini sekitar 2-3. Mortalitas berkisar 5-10%.
Pemanenan sebaiknya dilakukan pagi/sore hari dengan memperhatikan hal-hal sbb.
• Tidak dalam kondisi hujan .
• Kedalaman air dipertahankan setinggi 20-30 cm.
• Penangkapan dilakukan hati-hati. Diusahakan sisik tidak lepas.
• Gunakan alat tangkap dari bahan yang halus.
• Masukkan daun-daun kering untuk memudahkan penangkapan.

TEKNIK PEMBESARAN
• Luas kolam optimal sekitar 200 m2. Kolam tanah
• Kedalaman air 70-80 cm
• Dasar kolam tidak terlalu berlumpur
• Persiapan kolam seperti pada tahapan pendederan
• Kepadatan benih tebar (ukuran 200-300 gram/ekor) 1-2 kg/m2
• Pakan yang diberikan berupa pakan buatan terapung (Finisher) dengan jumlah pemberian 2-3%. Hijauan diberikan berupa daunt talas-talasan sebanyak 5-10% tiap 2hari sekali. Waktu pemberian pakan 06.00 dan 17.00
• Lama pemeliharaan 3-3,5 bulan. Ukuran panen 600-700 gram/ekor.
• Saat pemanenan sebaiknya tidak menggunakan alat tangkap

sumber: Bp4k sukabumi
http://bp4kkabsukabumi.net/index.php/Perikanan/Teknik-Pendederan-dan-Pembesaran-Ikan-Gurame.html