Pages

Showing posts with label KEPITING BAKAU. Show all posts
Showing posts with label KEPITING BAKAU. Show all posts

Wednesday, June 13, 2012

MENGENAL KEPITING SOKA

Dalam postingan kali ini saya akan memperkenalkan kepada kita  semua tentang  Kepiting Bakau, terutama jika kita memiliki minat untuk mengetahuinya, hal ini perlu sekali mengingat banyaknya permintaan di masyarakat untuk mengetahui tentang Kepiting bakau dan Bagaimana Tehnik Budidayanya.

Selain itu postingan kali ini juga merupakan jawaban untuk sahabat  dalam Catatan si OBOY  yang ingin mengetahui   Tehnik Budidaya Kepiting Bakau.   Disamping itu juga perlu kita ketahui  bersama bahwa Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan nelayan dan petani ikan  dalam arti luas di seluruh Indonesia,dan meningkatkan eksport, Menteri Perikanan dan Kelautan (2010) telah memaklumkan bahwa produksi perikanan dari penangkapan dilaut dan perairan umum telah mencapai tahap maksimum, sehingga untuk mencukupi kebutuhan konsumsi ikan dalam negeri maupun untuk meningkatkan eksport hasil perikanan, telah diamanatkan untuk meningkatkan produksi perikanan dari kegiatan  budidaya menjadi berlipat 350% pada tahun 2015.


Untuk itu telah menjadi tekat seluruh jajaran Kementerian Perikanan dan Kelautan untuk melakukan berbagai program yang mengarah kepada peningkatan produktifitas budidaya Perikanan meliputi peningkatan /inovasi tehnologi budidaya itu sendiri maupun melakukan deversifikasi jenis biota yang di budidayakan. Kepiting Bakau (Scyla serrata) adalah salah satu jenis biota yang sumberdaya alamiahnya sebenarnya sangat luas mengingat habitatnya meliputi seluruh wilayah hutan bakau dan daerah estuaria. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari lebih 17 000 pulau itu, mempunyai panjang pantai 81 000. Km , semua merupakan wilayah estuaria , dengan  hutan bakau yang luasnya  4,2 juta ha. tersebar di seluruh kepulauan Nusantara . Hutan bakau merupakan habitat asli dari kepiting bakau.  Sementara itu kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kepiting bakau yang tertangkap berupa kepiting yang ukurannya masih kecil2 yaitu rata-rata dengan lebar karapas kurang dari 10 cm dengan berat kurang dari 100 gram. Sangat disayangkan, sebab bila kepiting ukuran tersebut di pelihara (di budidayakan) hanya selama 3-4 minggu saja, dengan diberi pakan berupa ikan rucah , limbah buangan dari pemotongan hewan ,atau limbah sisa makanan dari restoran , yang tentu merupakan bahan yang tidak ada nilainya, maka kepiting tsb . sudah dapat dijual dengan harga mahal karena telah menjadi lebih gemuk bahkan sudah mengandung telur atau sedang bercangkang lunak. 

Bila kita hendak mengembangkan budidaya kepiting secara lebih intensif, tentu diperlukan ketersediaan benih. Sementara ini , kepiting berukuran kecil yang dijadikan benih, berasal dari penangkapan di alam sehingga jumlah dan mutunya tidak dapat diandalkan.  Mempertimbangkan kenyataan yang diuraikan diatas, maka perlu kiranya disiapkan Materi Penyuluhan untuk sebagai bahan  bimbingan kepada para pelaku budidaya yaitu para nelayan , petani tambak dan para pengusaha bidang budidaya perikanan agar mereka dapat mempunyai keahlian dan keterampilan untuk membudidayakan kepiting bakau . 

Budidaya kepiting itu haruslah dimulai dari  
(A)   Melakukan produksi benih dengan mendirikan Panti Pembenihan (Hatchery) khusus Kepiting Bakau.  Dan
(B)   Mempraktekkan tehnik budidaya kepiting bakau, walaupun sementara ini menggunakan benih berupa hasil tangkapan kepiting dari alam yang ukurannya masih kecil-kecil, dengan menerapkan tehnik pemeliharaan kepiting yang sudah dikenal masyarakat waktu ini,ialah  
1)      Pembesaran benih menjadi kepiting ukuran konsumsi.
2)      Penggemukan , 
3)      Produksi kepiting cangkang lunak
4)      Produksi kepiting bertelur ,
 
A. Mengenal Kepiting Bakau
Di Indonesia dikenal ada 2 macam kepiting sebagai komoditi perikanan yang diperdagangkan/  Komersial ialah kepiting bakau atau kepiting lumpur; dalam perdagangan internasional dikenal sebagai “Mud Crab” dan bahasa Latinnya  Scyla serrata dan ada juga kepiting laut atau rajungan yang nama internasionalnya  “Swimming Crab” dengan nama Latin:  Portunus pelagicus.  Kedua macam kepiting tsb nilai ekonominya sama , dan keduanya diperoleh dari penangkapan dialam.
 Dalam Petunjuk ini khusus di uraikan dan dibahas tentang spesies Kepiting Bakau (Scylla serrata ) saja.  
 Kepiting bakau ditangkap dari perairan estuaria yaitu muara sungai , saluran dan petak2 tambak , diwilayah hutan bakau dimana binatang ini hidup dan berkembang biak secara liar. Kepiting bakau lebih suka hidup diperairan yang relative dangkal dengan dasar berlumpur, karena itu disebut juga Kepiting Lumpur (Mud Crab).
 
Sedangkan rajungan , ditangkap oleh nelayan dilaut dekat pantai sampai sejauh 1-2 mil dari pantai, karena rajungan hidup pelagis  (di badan air laut). Namun demikian Kepiting Bakau juga dapat tertangkap di laut dekat pantai, karena kepitng bakau yang hendak kawin dan bertelur, juga berpindah di wilayah laut  dekat pantai.
 Bentuk (habitus) kepiting bakau disajikan pada gambar:1 dibawah ini. Terlihat bentuk badannya yang didominasi oleh tutup punggung (karapas ) yang berkulit chitin yang tebal. 
 
Seluruh organ tubuh yang penting tersembunyi dibawah karapas itu. Anggota badannya berpangkal pada bagian dada (cephalus) tampak mencuat keluar di kiri dan kanan karapas, yaitu  5 pasang kaki jalan. 
 
Kaki jalan  terdepan (nomer 1) berbentuk capit yang besar ; kaki jalan nomer 2,3 dan 4 berujung runcing yang berfungsi untuk berjalan ; kaki jalan nomer 5 berbentu pipih berfungsi sebagai dayung bila ia berenang. Pada cephalus (dada) terdapat organ2 pencernaan, organ reproduksi (gonad pada betina dan testis pada jantan). Sedangkan bagian tubuh (abdomen) melipat rapat dibawah (ventral) dari dada. Pada ujung abdomen itu bermuara saluran cerna (dubur). 
 Pada kepiting jantan , bentuk abdomen itu segitiga meruncing, terbentuk dari deretan beberapa ruas  (gambar : 2).  Sedangkan kepiting betina bentuk abdomen seperti segitiga juga tetapi lebar, dibawahnya terdapat bulu-bulu (umbai-umbai) dimana telur-telurnya melekat ketika dierami. 


B. Habitat dan penyebaran
Kepiting Bakau  terdapat di wilayah perairan pantai  estuaria dengan kadar garam 0 sampai 35 ppt.  Menyukai perairan yang berdasar lumpur dan lapisan air yang tidak terlalu dalam  sekitar 10- 80 cm  dan terlindung,seperti di wilayah hutan bakau.  

Di habitat seperti itu kepiting bakau hidup dan berkembang biak. Dilaut dekat pantai, seringkali nelayan dapat menangkap kepiting bakau yang sudah dewasa dan mengandung telur.  Agaknya kepiting bakau menyukai laut sebagai tempat melakukan perkawinan , namun kepiting bakau banyak dijumpai  berkembangbiak didaerah pertambakan dan hutan bakau yang berair  tak terlalu dangkal ( lebih dari 0,5 m).

 Habitat hutan bakau itulah habitat utama bagi kepiting untuk tumbuh dan berkembang, karena  memang subur dihuni oleh organisme kecil yang menjadi makanan dari kepiting bakau itu. Jadi cocok sebagai “ breeding gound” ( tempat memijah) dan “nursery ground”(tempat anak-anak kepiting berkembang/tumbuh) .

 Kepiting bakau mempunyai daerah penyebaran geografis yang sangat luas , yaitu pantai wilayah Indo Pasific barat, dari pantai barat Afrika Selatan, Madagaskar, India, Sri Langka, Seluruh Asia Tenggara sampai kepulauan Hawaii; Di sebelah utara : dari Jepang bagian selatan sampai pantai utara Australia. Dan di pantai barat Amerika bagian selatan. (Moosa et al., 1985 dalam Mardjono et al., 1994).  


C. Daur hidup dan perkembangbiakan.
 Kepiting bakau ialah binatang Kelas Krustasea sama halnya dengan Udang. Badannya beruas-ruas yang tertutup oleh kulit tebal dari zat khitin. Karena itu secara periodik berganti kulit (moulting) yang memungkinkan binatang ini tumbuh pesat setelah ganti kulit .  Binatang yang masih muda berganti kulit lebih sering dibanding dengan yang tua. Sehingga yang muda tumbuh lebih cepat dari pada yang telah tua.  

Mekanisme ganti kulit itu sejalan pula dengan periodisitas dari saat perkawinannya. Bila Kepiting (juga Udang) sedang tumbuh kembang gonadnya  terjadi ketika kulitnya sedang keras (intermoult) . sedangkan menjelang perkawinan, pasti terjadi proses ganti kulit (mating moult) sehingga kulit yang betina lunak memudahkan bagi pejantannya melakukan proses perkawinan, memasukkan sperma kedalam thelycum alat kelamin) betinanya.S


  Gambar: 3 -  Kepiting berpasangan  ( foto: Aldrianto, 1994)


1. Daur Hidup 
Kepiting  betina yang sudah kawin dan memijah (melepaskan telur-telurnya), telur lalu dibuahi (fertilisasi oleh sperma yang sudah disimpan ketika perkawinan terjadi. Telur yang sudah terfertilisasi tidak dilepaskan kedalam air melainkan segera menempel pada rambut-rambut yang terdapat pada umbai-umbai di bagian bawah abdomen. Di Indonesia yang beriklim tropika telur itu “dierami” selama  20 - 23 hari sampai menetas tergantung tingginya suhu air.  Seekor induk betina kepiting bakau yang beratnya 100 gram (lebar karapas 11 cm) menghasilkan telur 1 – 1,5 juta butir. Semakin besar /berat induk kepiting, semakin banyak telur yang dihasilkan.
 
Telur yang baru difertilisasi ( dibuahi) berwarna kuning –oranje . Semakin berkembang embrio dalam telur, warna telur akan berubah menjadi semakin gelap yaitu kelabu akhirnya coklat kehitaman ketika hampir menetas.  Induk yang mengerami telur biasa sedikit atau tidak makan sama sekali. Induk itu selalu menggerakkan kaki-kaki renangnya  dan sering tampak berdiri tegak pada kaki  dayungnya , agar telur-telur mendapat aliran air segar yang cukup oksigen.
Bila waktunya telur menetas, induk kepiting itu menggarukkan kaki-kaki jalan dan kaki dayungnya  terus menerus dengan cepat ,  untuk memudahkan pelepasan larva yang segera menyebar kesekelilingnya. . Disini fungsi kaki-kaki jalan itu penting, jika jumlahnya tidak lengkap atau cacat, akan mengganggu proses penetasan  tsb.
 
Hanya sebagian kecil saja telur yang tidak menetas dan akhirnya rontok tidak menetas.  Proses penetasan telur lamanya 3-5 jam. Telur yang baru menetas disebut stadia pre-zoea hanya dalam waktu 30 menit berubah menjadi stadia Zoea 1 .  Ada 5 sub stadia Zoea yaitu Zoea-1, Zoea-2, Zoea-3, Zoea -4 dan Zoea-5. Semakin lanjut sub –stadia, terjadi penambahan organ tubuh sehingga semakin sempurna untuk pergerakan, menangkap makanan dan metabolisme tubuhnya.  Setiap sub-stadia memerlukan waktu 3-4 hari untuk berubah menjadi sub-stadia selanjutnya. Sehingga tingkat Zoea seluruhnya memerlukan waktu 18-20 hari untuk menjadi  stadia selanjutnya yaitu megalopa.

Zoea-1 warna tubuh transparan, panjang tubuhnya 1,15 mm, matanya tidak bertangkai. Zoea-1 geraknya masih lamban, makanannya fitoplankton . dan zooplankton yang lamban geraknya yaitu Brachionus plicatilis.

Zoea-2  geraknya lebih gesit sejalan dengan semakin berkembangnya anggota tubuh baik dalam ukuran maupun jumlahnya.. Panjang  tubuhnya 1,50 mm .  Mata bertangkai.

Makananya masih berupa fitoplankton yang ukurannya lebih besar seperti Tetraselmis chuii , Chaetoceros calcitran.  Kedua jenis fitoplankton itu selain sebagai pakan untuk Brachionus juga menyerap gas hasil metabolisme (metabolit) dari larva itu sendiri. Jadi sebagai pembersih air.
 
Sub-stadia Zoea-3  , ukurannya  lebih besar 1,93 mm .Dapat memangsa nauplii Artemia.  Beberapa organ tubuhnya disajikan pada Seekor Zoea-3 dapat memakan nauplii artemia sebanyak 30 ekor per-hari.

 Sub-stadia Zoea-4 ,panjang tubuhnya  2,4 mm.  Pada stadia ini telah terbentuk pleopoda (kaki renang) dan pereiopoda (kaki jalan). Tampak aktif berenang karena itu lebih aktif menangkap pakannya.
 
Sub-stadia Zoea-5 panjang tubuhnya 3,4 mm, lebih efektif menangkap mangsanya dan geraknya lebih gesit.
 
Stadia berikutnya ialah Megalopa . Ukuran tubuhnya semakin besar, sehingga tidak lagi diberi pakan nauplii artemia melainkan dapat memakan artemia  instar-5 . Panjang karapas 2,18 mm (termasuk duri rostral), lebar karapas 1,52 mm ; panjang abdomen 1,87 mm panjang tubuh total (termasuk duri rostral) 4,1 mm.  Mempunyai pereopoda 5 pasang . Abdomen terdiri  7 segmen memanjang kebelakang. Stadia berikutnya ialah  Stadium Crab (kepiting muda). Bentuk dan anggota tubuhnya sudah seperti pada kepiting dewasa. Kebiasaannya cenderung di dasar perairan. Memakan makanan yang ada didasar atau yang tenggelam. Makanan yang diberikan berupa cacahan cumi-cumi, udang kecil dsb. Tetapi juga dapat memakan nauplii artemia yang planktonis.  Biasanya juga diberi pakan buatan berupa mikro pellet yang kaya nutrisi, seperti yang biasa untuk larva udang.
 
Pada Gambar:4 disajikan daur hidup dari Kepiting Bakau  khususnya masa larva sampai benih kepiting kecil (crablet). Pada kondisi normal di Panti Pembenihan (Hatchery) , lama waktu perubahan dari menetas sampai menjadi  stadium Megalopa  21-23 hari.  Dari Megalopa menjadi Stadium Crab-5  ialah 10-12 hari . Sehingga lama waktu pemeliharaan larva

sejak telur menetas sampai menjadi benih kepiting  (crab-5) siap jual  hanyalah 30 – 35 hari.

Gambar : 4 .- Daur  Hidup   Kepiting Bakau.


Untuk di ketahui :
  1. Kepiting Bakau atau kepiting Lumpur (Scylla serrata), tempat hidup alami (habitat) nya di wilayah pantai berair payau, terutama di wilayah hutan bakau yang berlumpur tebal, saluran dan tambak-tambak, sampai menjangkau laut dekat pantai. 
  2. Sedangkan wilayah penyebarannya terbentang dari pantai timur benua Afrika sampai pantai timur  kepulauan Nusantara,  dan terbentang dari wilayah Jepang selatan sampai bagian utara benua Australia.
  3. Tubuh kepiting bakau terdiri dari ruas-ruas yang tertutup oleh  kulit tebal cangkang) dari bahan khitin. Untuk memungkinkan pertumbuhannya, secara periodic kepiting  berganti kulit (moulting) sebagaimana lazimnya pada binatang Kelas Krustasea dan Ordo Dekapoda  yang berkaki 10 (5 pasang).
  4. Bagian kepala dan dada (cephalus dan thorax) menyatu dan tertutup oleh  karapas (cangkang ). Kaki-kakinya nampak mencuat kesamping kiri dan kanan. Bagian Badan (abdomen) terdiri dari 6-7 ruas berbentuk segi-tiga yang melipat   dibawah bagian cephalothorax. Pada jantan, abdomen berbentuk segi tiga runcing, yang betina berbentuk segitiga melebar. 
  5. Kepiting  jantan dan betina dewasa pada ukuran berat 100 gram atau lebih. Jantannya lebih besar karena lebih cepat tumbuh disbanding yang betina. Bila kawin, kepiting jantang merangkul betina nya dari atas karapas, berlangsung 3-4 hari. Pada saat itu, betina berganti kulit. Dalam keadaan lukitnya masih lunak, terjadi kopulasi yaitu transfer spermatofora dari jantan kedalam kelamin betina. Sekali kawin, sperma yang disimpan didalam thelikum betina , cukup untuk membuahi telur-telur  hinga 2 kali pemijahan. 
  6. Selesai kawin, mereka berpisah, betinanya akan mengalami perkembangan telur didalam gonada-nya. Setelah matang gonad, telur akan dikeluarkan dan dibuahi oleh sperma yang diperoleh sewaktu kawin.  Sekali memijah, seekor kepiting betina bias menghasilkan  1 juta sampai 3 juta butir telur. Telur-telur yang telah dibuahi itu akan menempel dan nampak bertumpuk /bergumpal pada umbai-umbai (bulu-bulu kaki-kaki renang) dibawah andomen.
  7. Telur yang baru keluar berwarna kuning –oranye, sejalan dengan perkembangan embrio , telur berubah warna menjadi kelabu , sampai coklat kehitaman  menjelang menetas.  Lama waktu pengeraman temur  10-12 hari . Ketika mengerami telur, induk betina selalu mengerakkan kaki-kaki renang , sehingga telur-telur memperoleh aliran air dengan kadar oksigen cukup tinggi  yang  sangat dibutuhkan oleh embrio yang sedang tumbuh
  8. Telur menetas menjadi stadia Pre-zoea, yang dalam waktu hanya 30 menit berubah menjadi stadia Zoea  yang hidup sebagai plankton di air. 
  9. Zoea ber metamorfosa  menjadi berturut-turut Z-1, Z-2, Z-3 ,Z-4 dan Z-5. Setiap kali perubahan , zoea berganti kulit dan organ-organ tubuhnya semakin sempurna dan gerakannya semakin gesit serta ukuran tubuhnya bertambah besar.  Zoea hanya berukuran 1,4  - 3,2  mm panjangnya.  Megalopa panjang badannya 4 mm .
  10. Sejak menetas telur menjadi megalopa lamanya 18 0- 20 hari pada suhu air 20-32oC.  Kemudia Crabklet atau benih kepiting , berbentuk sudah seperti kepiting dewasa , panjangnya hanya 2 cm. Benih kecil ini cenderung hidup dan makan di dasar perairan. 
  11. Kemudian  pada umur 50 hari setelah telur menetas  ukuran benih kecil itu hanya 2,3 cm.  Ukurannya dianggap cukup besar  setelah umur 70 hari sejak menetas atau di sebut crablet  instar 40.  yaitu 21 mm. Ini sudah dapat mulai di deder di kolam  yang subur dengan pakan alaminya. Dari stadium Z-1 sampai menjadi crablet-1 lamanya 30-40 hari .
  12. Makanan Stadia Z-1 sampai Z5 adalah fitoplankton Tetraselmis dan Chaetoceros yang di kultur didalam Pembenihan. Juga diberi Brachionus , zooplankton laut yang juga dapat dikultur. Dan nauplii Artemia yang baru ditetaskan dari kista. sedangkan  Makanan Megalopa  berupa Artemia yang ditetaskan umur 3 hari . Sedangkan Benih kecil (crablet diberi pakan Artemia tetasan umur 3 hari dan cacahan cumi-cumi, kerang atau udang-udang kecil. 

Selanjutnya:


Sumber Referensi:
Kementerian kelautan dan Perikanan
Badan pengembangan sumber daya Manusia Kelautan dan perikanan
Pusat pengembangan Penyuluhan Perikanan


Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan

Tehnik Pembenihan Kepiting Bakau


Postingan ini merupakan Kelanjutan dari postingan sebelumnya, Masih sekitar Kepiting Bakau, untuk diketahui sebenarnya Tehnik  Pembenihan kepiting bakau telah berhasil di coba kan  pada tahun 1992 -1994 di Balai Budidaya Air Payau Jepara  dan di Balai Besar Budidaya Pantai, Gondol, Bali.  Namun demikian sampai sekarang tehnologi pembenihan komoditi yang sebenarnya mendapat pasaran cukup besar dan menjanjikan di luar negeri ini, ternyata juga masih belum mendapat tanggapan dari para pengusaha swasta, sehingga belum dikembangkan.  Disamping Kendala yang dihadapi pada waktu itu , sudah diidentifikasi dan masih perlu untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. 


Kendala termaksud ialah  a.l . derajat kehidupan (sintasan) larva menjadi megalopa masih rendah yaitu 3-5 %  walaupun  derajat penetasan telurnya tinggi, sedangkan seekor induk kepiting yang beratnya 100 gram dapat menghasilkan telur 1-1,5 juta butir. Penyebab dari mortalitas yang besar ini disebabkan a.l. oleh sifat kanibalisme (memakan sesamanya) . Sebenarnya sintasan yang rendah ini biasa terjadi pada pemeliharaan larva hewan- hewan air seperti udang windu, udang galah, vannamei, ikan kerapu , ikan kakap , dsb.  namun demikian setelah berjalan beberapa waktu , ternyata kendala tehnis itu dapat diatasi , karena faktor manusia yaitu para pelaksana/tehnisi telah semakin terampil dan menguasai keadaan 


A. TEMPAT DAN WADAH PEMELIHARAAN 
1. Lokasi
Panti Pembenihan Kepiting Bakau  harus berlokasi di dekat pantai karena memerlukan air sebagai media kehidupan larva  ialah air payau dengan kadar garam 25-35 ppt.; pH 7,5 – 8,5.  Perlu adanya sumber air tawar yang jernih dan  kuntitasnya mencukupi.Kegunaan air tawar ini untuk memcuci bak dan peralatan, untuk keperluan para pekerja sehari-hari .dan untuk mengencerkan kadar garam pada air media pemeliharaan itu sendiri bila diperlukan. 

Persyaratan lain seperti, bebas pencemaran , mudah dijangkau oleh akses komunikasi (jalan ) dan fasilitas yang mudah dan murah (listrik, tenaga kerja).

Memungkinkan untuk berproduksi sepanjang tahun ( minimal 8 bulan/tahun) .Bebas bencana alam dan  sesuai dengan Rencana Tata Ruang Daerah, sehingga tidak tumpang tindih dengan peruntukan pembangunan lainnya. Bebas dari gangguan keamanan pada umumnya Persyaratan tsb adalah lazim dibutuhkan oleh sesuatu Panti Pembenihan berbagai komoditas  akuatik maupun bukan . 


2. Prasarana, Tatak Letak dan Desain bangunan
2.1. Prasarana
Panti Pembenihan Kepiting Bakau memerlukan prasarana yang umum pada panti panti pembenihan udang  terperinci sbb.:
  1. Fasilitas  pengadaaan air laut dan air tawar : berupa bangunan dan bak-bak untuk penyaringan air dilengkapi dengan system filter, system airasi.
  2. Fasilitas bak-bak dibuat dari beton dan/atau fiber glass  sesuai dengan kapasitasnya, untuk keperluan pemeliharaan calon induk, pematangan gonad, perkawinan;  bak-bak penetasan telur (untuk induk yang mengerami), bak pemeliharaan larva  ,megalopa dan crablets), bak kultur fitoplankton, zooplankton dan penetasan Artemia.
  3. Bangunan pendukung : Bangsal tempat panen dan packing, laboratorium pemeriksaan kualitas air dan penyakit, persiapan pakan tambahan, gudang penyimpanan bahan kimia, obat-obat, dsb.
  4. Bangunan pelengkap : kantor manajemen dan administrasi, asrama tehnisi, dapur, garasi,  ruang pengepakan hasil, dsb.
  5. Peralatan penting : seperti pompa- pompa penyedot/ celup untuk air laut dan air tawar,  sesuai dengan kebutuhan, blower, unit mesin pembangkit listrik (Gen set), refrigerator, kendaraan roda-4 dan roda-2. telepon , computer, dsb. 


2.2. Tata Letak dan desain bangunan
Tata letak dan desain bangunan diatur untuk memudahkan dan efisiensi pekerjaan. Bak-2 pemeliharaan harus dalam ruangan (indoor), memungkinkan pengaturan cahaya (matahari atau listrik) menurut kebutuhan,  dilengkapi dengan fasilitas desinfeksi/ pencucian, karantina, dsb. Panti Pembenihan untuk Kepiting bakau ini dapat menggunakan Panti pembenihan yang biasanya untuk pembenihan udang windu atau vannamei. 


B. PEMATANGAN  GONAD INDUK KEPITING BAKAU.
1. Calon Induk
Kegiatan tehnik Pembenihan dimulai dari perolehan calon induk kepiting. Calon induk kepiting dapat diperoleh dari alam yaitu hasil penangkapan di tambak-tambak  atau perairan hutan bakau di sepanjang pantai.  Dapat juga calon induk di dapat dari penangkapan nelayan di laut.  Kepiting yang dijadikan calon induk untuk pembenihan harus diseleksi  yang telah dewasa yaitu yang ukuran karapasnya lebar  tidak kurang dari 10 cm  dan berat tak kurang dari 100 gram untuk yang betina; yang jantan berat minimum 120 gram dan panjang karapas 12 cm atau lebih. Ini disebabkan karena kepiting jantan tumbuh lebih cepat walaupun umurnya sama dengan yang betina.

Kepiting betina, abdomennya berbentuk segitiga yang lebar melipat dibawah (ventral) dari dadanya. Yang jantan  abdomen berbentuk segitiga yang sempit, juga melipat di bagian ventral dada. ( Gambar:2).

Betina yang tertangkap di laut kebanyakan yang sudah dewasa dan menjelang perkawinan. Kesehatan calon induk harus diperhatikan yaitu dipilih yang kulitnya bersih tidak ada organisme penempel (fouling).
 Anggota tubuh (kaki jalan, kaki renang, dll) lengkap dan tidak cacat. Kelengkapan anggota tubuh ini penting dan berperan dalam keberhasilan pemijahan dan penetasan telurnya.

Agar produksi benihnya bagus dan telurnya banyak, kepiting betina dipilih yang berat badannya  200 gram atau lebih , panjang karapas 8 cm dan lebar karapas 11-12 cm.  Ca;on induk jantan berat 300 gram,  panjang  dan lebar karapas  8 dan 11 cm. Perbedaan ukuran jantan dan betina ini disebabkan kepiting jantan lebih cepat tumbuh disbanding yang betina.

Dalam proses pematangan gonad , calon induk kepiting dipelihara didalam bak dengan kepadatan 5 ekor/M2 , dengan  perbandingan jantan : betina  2 : 3.


Calon induk sebelum dimasukkan kedalam bak pemeliharaan induk perlu di adabtasi lebih dahulu didalam bak  penampungan selama 3 hari. Adaptasi ini perlu untuk penyegaran kondisi calon induk karena pengangkutan. Kepiting yang pada umumnya dilakukan dengan system kering (lembab) . metoda penagangkutan kepiting hidup dengan system kering ini dimungkinkan  bila jarak angkut cukup dekat : 1-3 jam perjalanan. 


2. Pematangan gonad
Kepiting betina agak sukar mencapai kematangan gonad terutama diluar musim pemijahan alami.  Untuk mempercepat kematangan gonad, dilakukan tehnik ablasi tangkai mata seperti dilakukan terhadap induk udang. (Mardjono dkk., 1992) . 

Prinsip ablasi mata ialah dengan memanfaatkan system hormonal yang terjadi pada binatang kelas Krustasea pada umumnya, yang diungkapkan oleh Adiyodi dan Adiyodi, 1970 dalam Nurjana dkk. 1985; Mardjono dkk.1992) . 

Teori ini menjelaskan bahwa pada tangkai mata Dekapoda kelas Crustacea, terdapat kelenjar yang menghambat pematangan gonad  yang disebut organ X. . Adanya rangsangan dari luar  yang diterima oleh  susunan syaraf pusat , memerintahkan organ X untuk mengeluarkan hormone yang  disebut “Gonade Inhibiting Hormone “ (GIH) . GIH sebelum dilepas kedalam sirkulasi tubuh , di tampung lebih dahulu didalam  Sinus Gland yang juga terletak pada tangkai mata . Fungsi dari GIH  secara langsung menghambat perkembangan  kelenjar hormone sex jantan (androgenic hormone)  atau Ovarium pada  binatang betina ; sehingga sperma pada jantan dan /atau sel telur pada betina  terhambat perkembangannya.  Dapat pula GIH mempengaruhi perkembangan gonada secara tidak langsung yakni dengan menghambat  aktifitas Y-organ. Y-organ ialah kelenjar yang terletak pada pusat syaraf pada kepala dan juga pada thorax ; Y –organ menghasilkan hormone GSH (Gonade Stimulating Hormone) yang fungsinya mendorong perkembangan gonad yaitu merangsang pembentukan sperma pada individu jantan dan pembentukan sel telur pada individu betina. 

Dengan demikian jika X Organ dihilangkan  dengan cara pemotongan tangkai mata maka GIH tidak terbentuk, berarti tidak ada yang menghambat perkembangan telur dan sperma, berarti telur dan sperma akan cepat terbentuk . 

Akibat lain yang terjadi ialah Y organ bebas menghasilkan GSH sehingga ada rangsangan untuk  pematangan gonad menjadi kuat atau dipercepat. . 

Fungsi lain dari Y organ ialah  berperan  pada tingkah laku birahi , mengendalikan proses penyerapan air, proses ganti kulit dan pembentukan zat warna.

Ablasi  (pembuangan) tangkai mata (tentu termasuk juga menghilangkan bola mata)  hanya pada individu betina , karena individu jantan organ sex-nya mudah dapat berkembang cepat dan sempurna secara alamiah , walaupun dipelihara didalam bak.

Uji coba telah dilakukan di Balai Budidaya Air Payau Jepara  (Mardjono dkk.1992) mengungkapkan bahwa walaupun kepiting betina dapat matang gonad di tambak namun laju perkembangan gonadnya lambat bila dipelihara di dalam bak.  Apabila dilakukan ablasi mata, maka individu betina tersebut lebih cepat mengalami pematangan gonad  disusul dengan proses perkawinan dan kehamilan (pengeraman telur) , walaupun diluar musim kawin yang alamiah. 

Musim pematangan gonad dan perkawinan kepiting bakau terjadi pada musim hujan ialah pada bulan November sampai Februari . selain bulan-bulan tsb. kepiting dapat matang gonad apabila di ablasi mata. Namun demikian diketahui juga bahwa kepiting dapat bertelur di berbagai bulan sepanjang tahun dibeberapa daerah, bilamana kondisi alam cukup menimbulkan perangsang.

Metoda ablasi mata pada kepiting sama dengan yang diterapkan pada udang windu yaitu memotong salah satu tangkai mata (unilateral ablation) pada betina saja. 

Ablasi baik dilaksanakan siang maupun malam hari , namun dengan syarat ketika kepiting betina tidak sedang ganti kulit , melainkan harus sedang berkulit keras; juga agar dipilih kepiting betina yang sehat, dan tida bercacat pada anggota tubuhnya.  Apabila berkulit lunak , luka karena ablasi akan menyebabkan keluarnya

banyak cairan tubuh sehingga kepiting dapat mati ; sedangkan kecacatan dan tidak lengkapnya anggota badan akan berakibat terganggunya proses perkawinan, kehamilan dan penetasan telur, sehingga jumlah larva akan sedikit yang menetas.


Gambar:5– Diagram system hormon dalam proses reproduksi Kepiting (Dekapoda) ,
menurut Adiyodi & Adiyodi, 1970.


C. BAK PEMELIHARAAN
Agar memperoleh hasil yang baik dalam prose pematangan gonad induk kepiting diperlukan bak konstruksi semen ukuran 3 x 4  x 1 m  (12 m3). Bentuk bak dapat dibuat persegi  ataupun oval, dilengkapi dengan saluran pemasukan dan pembuangan air berbentuk  pipa goyang  yang mudah dioperasikan untuk mengatur ketinggian air maupun untuk pengeringan.

Sebaiknya disediakan minimal 2 buah bak untuk pematangan gonad , bak2 itu terletak berdekatan agar memudahkan dalam pengoperasian , karena kepiting yang telah matang gonad perlu segera diseleksi dan dipindahkan kedalam bak terpisah.

Intensitas cahaya yang mengenai bak-bak itu harus diperlemah dengan cara memberikan tutup dari bahan yang masih dapat  ditembus sinar matahari tetapi intensitasnya kurang.  Juga atap berfungsi agar bak tidak kena curahan air hujan secara langsung.

Bak pemetangan induk itu harus diberi dasar lapisan lumpur campur pasir setebal 15 – 20 cm, dengan ketinggian air 30-80 cm.  dasar bak juga diberi tempat berlindung (shelter) dari potongan-potongan pipa paralon berdiameter 3-4 inci  karena kepiting dihabitat aslinya suka bersembunyi didalam lubang-lubang.

Bak perlu dilengkapi dengan aerasi , 1 batu aerasi setiap 2 m2. Aerasi dipasang setinggi 5 cm diatas lapisan lumpur dasar, agar lumpur tidak teraduk oleh proses airasi itu. Kadar oksigen dalam air diupayakan 6-7 ppm. Batu-batu airasi perlu dibersihkan secara periodic  untuk menjaga kestabilan gelembung udara.  



D. PEMELIHARAAN INDUK
1. Media pemeliharaan
Air media pemeliharaan dengan kadar garam 30-32 ppt yang sebelumnya disaring lebih dahulu dengan saringan pasir  (sand filter) sebagaimana lazimnya pada hatchery untuk udang.  pH air berkisar 7,5 -8,5 . DO 5-7 ppt.

Dasar bak pemeliharaan induk kepiting perlu diberikan lapisan lumpur yang sebelumnya sudah di bersihkan dan disterilkan dengan cara di rebus  sampai mendidih , lalu didinginkan. Percobaan yang telah dilakukan membuktikan bahwa, induk kepiting yang dipelihara di bak yang tanpa substrat berupa dasar lumpur, hasil perkembangan telurnya kurang baik, sedikit dan daya tetas kurang. (Rusdi dkk.,1998). 


2. Pakan
Pakan untuk calon induk dan induk kepiting ialah cacahan  daging ikan, cumi-cumi yang masih segar. Pengalaman di BBAP Jepara menunjukkan bahwa cumi-cumi harus diutamakan, karena baik untuk merangsang perkembangan gonad bagi binatang krustasea : udang ,kepiting. (Mardjono dkk,1992). Banyaknya pakan  5-10% berat biomassa perhari.  Pakan sejumlah itu diberikan dua kali per-hari , jam 8.00 pagi dan jam 17. 00 sore. Sebelum pakan diberikan, dasar bak dibersihkan dengan cara menyipon untuk menyedot pakan yang ang masih tersisa. Bila pakan yang tersisa banyak, maka pemberian pakan berikutnya harus dikurangi. Sebaliknya bila pakan tidak bersisa , pakan yang diberikan harus ditambah.   


Pembersihan bak hanya dilakukan pada pagi hari saja, kecuali bila terjadi hal yang buruk, misalnya ada gejala pembusukan dengan terlihatnya banyak busa dipermukaan air, atau air berbau busuk. 


Selain pakan alami berupa daging ikan dan cumi-cumi mentah segar, juga diberi pakan buatan berupa pelet kering yang biasa diberikan untuk induk udang windu. Pakan pellet khusus untuk induk udang itu mengandung nutrisi jang baik sebagai pelengkap ,dengan kandungan protein dan lemak esensial, vitamin dan mineral . Diberikannya cukup 2-3 kali per-minggu, dengan dosis 2 % berat biomassa. 


3. Ablasi mata
Ablasi mata dilakukan setelah calon induk dipelihara 3-5 hari didalam bak, setelah induk-induk itu terlihat sehat , gesit dan nafsu makannya baik. 

Calon induk betina yang hendak di ablasi dipilih yang berkulit keras dan sehat. Pelaksana ablasi kepiting harus dilakukan oleh tehnisi yang terampil memegang kepiting agar tidak meronta. Pemotongan mata berikut tangkainya dilakukan dengan gunting yang tajam dan dipanaskan lebih dahulu , sehingga luka bekas terpotong segera kering dan tidak mengeluarkan banyak cairan. 


Selesai ablasi uni-lateral (sat mata), kepiting direndam di dalam ember berisi larutan  PK 5 ppm selama  15 menit, untuk mencegah infeksi. Setelah itu kepiting dipindahkan kedalam bak pemeliharaan yang telah dipersiapkan sebelumnya, dimana kepiting betina pasca ablasi itu di pelihara bersama dengan kepiting jantan, dengan perbandingan jantan : betina  2:3. 3-5 hari pasca ablasi biasanya sudah ada betina yang siap untuk perkawinan. 


4. Proses Perkawinan
Kepiting Bakau melakukan perkawinan di perairan estuaria (Arriola,1940 dalam Mardjono dkk. 1994). Perkawinan  terjadi biasanya saat suhu air naik. Menjelang perkawinannya, kepiting betina mengeluarkan cairan kimiawi perangsang yaitu pheromone kedalam air yang akan menarik perhatian kepiting jantan. Selanjutnya kepiting jantan yang berhasil menemui kepiting betina  sumber pheromone itu, lalu naik ke atas karapas kepiting betina yang sedang dalam kondisi pra lepas cangkang (premolt). Kepiting jantan tsb. membantu proses ganti kulit kepiting betina tsb.  Selama kepiting betina mengalami  proses ganti kulit, kepiting jantan akan melindungi nya selama kurang lebih  2-4 hari sampai cangkang terlepas dari tubuh  kepiting betina . Kondisi seperti itu disebut  “doubler formation” atau “ premating embrace”.

Setelah cangkang terlepas dari tubuh kepiting betina, tubuh betina dibalikkan oleh yang jantan sehingga sekarang pada posisi berhadapan  untuk terjadinya kopulasi. Semetara itu cangkang betina masih dalam keadaan lunak. “Spermatofora” dari kepiting jantan akan disimpan didalam “spermateka” kepiting betina.  Menurut Fielder dan Heasman,1978 dalam  Mardjono dkk., 1991).  Perkawinan kepiting ini dapat terjadi di waktu siang maupun malam hari.

Fielder dan Heasman  (1978) mengungkapkan bahwa spermatofora yang tersimpan pada kepiting betina sekali kawin mencukupi untuk pembuahan dua kali peneluran sekor kepiting betina.  Telur yang telah matang gonad  dalam ovarium betina  akan turun ke oviduct  dan dibuahi oleh sperma, selanjutnya  telur yang telah dibuahi itu dikeluarkan lalu menmpel pada umbai- umbai (rambut-rambut pada pleopoda) untuk dierami  oleh induk betina itu. Sekali bertelur induk kepiting dapat  mengeluarkan 1-8 juta butir telur , tergantung dari berat badan induk betina. , namun biasanya yang berhasil menempel pada umbai-umbai hanya 1/3  nya.  


5. Perkembangan Telur Dalam Ovarium
Pada kepiting bakau, telur berkembang menuju pematangan untuk siap dibuahi, setelah terjadi kopulasi (perkawinan).  Jantan dan betina melepaskan diri , dan cangkang induk betina menjadi keras kembali. 


6. Pengamatan Kematangan Telur
Mulai sepuluh hari setelah di ablasi mata dan selanjutnya pengamatan dilakukan berselang 3 hari kemudian., dilakukan pengamatan tingkat  perkembangan gonad.  Berbeda dengan udang, kepiting bercangkang sangat tebal sehingga pengamatan gonad hanya dapat dilakukan melalui bagian belakang karapas tempat bersambungan dengan abdomen.  Bagian ini tampak menggembung bila telur kepiting berkembang penuh. Dan berwarna kemerahan cerah.  Fielder dan heasman (1978) dalam Mardjono (1994) membuat  tingkat perkembangan telur kepiting bakau menjadi 4 tingkatan , sbb. : 
1.       Tingkat I: belum matang (immature), yaitu belum ada tanda-tanda perkembangan telur pada induk betina .
2.       Tingkat  II: Sedang dalam proses pematangan (maturing)  perkembangan telur sudah mulai terlihat penuh, berwarna kuning, namun belum tampak menonjol penuh.
3.       Tingkat III: Matang (ripe). Telur kepiting telah dibuah dan dikeluarkan serta      menempel pada  umbai-umbai dibawah abdomen. Saat baru ditempelkan ,telur berwarna kuning muda. Selanjutnya embrio makin berkembang didalam telur dan warna telur berubah menjadi kelabu, coklat kehitaman , bila hamper menetas. Lama pengeraman (inkubasi) telur 14-20 hari.
4.       Tingkat IV: Salin (spent). Seluruh telur telah menetas. Ruang dibawah abdomen terlihat kosong.


Pada tingkat kematangan  II akhir, telur dikeluarkan dari ovarium lalu dibuahi. Selanjutnya  telur yang sudah dibuahi itu keluar tidak membuyar kedalam air melainkan melekat pada  bulu-bulu di kaki renang (pleopoda) yang disebut umbai-umbai dibawah abdomen  mengalami masa pengeraman. Pada panti pembenihan, saat induk mulai terlihat mengerai telur, segera dipindahkan  kedalam bak pengeraman/ penetasan.  Masa pengeraman telur 14 – 20 hari.


7. Pengeraman dan Penetasan
Induk yang sedang mengerami telur, mengipaskan kaki renangnya secara teratur , sehingga telur-telur itu memperoleh air segar yang banyak mengandung oksigen. Pada masa pengeraman tsb. induk berenang-renang dengan kaki renangnya yang terus=menerus bergerak dan sering berdiri pada kaki jalan. Sehingga telur-telur terus menerus memperoleh air segar dan banyak oksigen . Hal ini penting untuk perkembangan embrio. Masa telur yang semakin tua, warnanya berubah  warna menjadi kelabu kemudian coklat kehitaman.

Masa pengeraman banyak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Pada lingkungan dengan kadar garam 30-33 ppt dan suhu berkisar antara 26-30 oC pengeraman dapat berlangsung baik dan perkembangan telur normal.


Induk yang di ablasi proses pematangan telur berlangsung sedikit lebih cepat dan didapatkan jumlah induk matang telur lebih banyak . (Mardjono dkk.,1994).

Bak untuk pengeraman dapat digunakan bak berukuran 2 x 2 x 0,5 m , terbuat dari semen atau fiber glass.  Sebagai media pemeliharaan digunakan air laut dengan kadar garam minimal 28 ppt suhu 28oC.

Untuk mengurangi kecerahan cahaya matahari, bak perlu ditutup dengan anyaman bambu (gedeg) atau plastic yang tidak terlalu gelap. Kepadatan kepiting dalam bak pengeraman  1 ekor/m2 .

Selama proses pengeraman induk tidak diberi pakan. Penggantian air dilakukan setiap hari sebanyak 75%. Aerasi dipasang  1 batu aerasi/m2 dengan tekanan aerator diatur agar tidak terlalu kuat dan tidak terlalu lemah.


Gambar : 6-  Mengeram telur pada umbai-umbai


E. PENETASAN TELUR
Setelah telur-telur berwarna kehitaman, proses penetasan akan segera berlangsung. Penetasan biasanya berlangsung pada pagi hari. Larva yang baru menetas disebut pre-zoea yang sekitar 30 menit kemudian akan bermetamorfosa menjadi Zoea-1.

Pada masa penetasan ini pre-zoea disebarkan kedalam air secara terus menrus selama 3 – 5 jam. Seekor induk kepiting dengan berat 100 gram (lebar karapas 11 cm) dapat menghasilkan telur sebanyak 1 – 1,5 juta butir.  Pada proses penetasan itu, kaki dayungnya dikipas-kipaskan dan  kaki-kaki jalan induk di garuk-garukkan kepada umbai-umbai segingga telur lepas secara bertahap. Disinilah fungsi kai-kaki jalan sehingga kelengkapan anggota badan induk sangat berperan dalam kesempurnaan proses reproduksi sajak perkawinan sampai penetasan  telurnya.  Akhirnya hanya sebagian kecil dari telur yang akhirnya rontok gagal menetas.

Induk kepiting yang telah melepaskan larva yang baru menetas itu, segera dipindahkan kedalam bak pemeliharaan induk dan dirawat guna memulihkan kondisi induk . Masa pemulihan ini akan berlangsung selama 4 – 7 hari . setelah itu induk dikembalikan kedalam bak perkawinan bersama kepiting jantan. 



F. PEMELIHARAAN LARVA
1. Bak Pemeliharaan Larva
Bak untuk pemeliharaan larva kepiting  dapat  berbentuk bulat,  oval ataupun segi empat.  Ataupun bentuk-bentuk lain. Pada dasarnya bak yang biasa untuk memlihara larva udang dapat juga untuk memelihara larva kepiting.  Yang terpenting ialah bahwa bak tidak boleh mempunyai sudut tajam sehingga merupakan “sudut mati “dimana akan terkumpul kotoran disitu. Bahkan larva itu sendiri akan terjebak pada sudut itu.  

Dasr bak harus di disain agar cukup miring supaaya dapat dengan tuntas dikeringkan.  Pembuangan air berupa “pipa goyang “ atau “system sifon” agar pembuangan air mudah dan tuntas. 

Volume bak sebaiknya tidak terlalu besar, cukup 5 – 10 m3 dengan kedalaman bak 1 m.Sehingga diisi air dengan kedalaman maksimum 80 cm.  Ukuran ini akan memudahkan dalam pengelolaan , seperti penggantian air; sedangkan larva yang dipelihara sebaiknya dapat terdiri dari larva yang seumur (hari menetasnya bersamaan ) walaupun dari induk yang berbeda. Hal ini penting untuk mengurangi kemungkinan perbedaan laju pertumbuhan sehingga akan cenderung kanibal. 


2. Media Pemeliharaan
Media pemeliharaan larva digunakan air  yang diambil langsung dari laut yang jernih, yang disaring dengan saringan pasir, disusul dengan penyinaran sinar ultra violet atau perlakuan dengan klorine 50 ppm  untuk sterilisasi dari bacteria dan lain lain organisme renik yang mungkindapat menimbulkan pengakit pada larva kepiting.  

Salinitas 30-33 ppt, pH 7,5 – 8,5. Kadar oksigen terlarut harus diupayakan stabil antara 6-7 ppm, dengan memasang aerasi. Jumlah batu aerasi  1 per-m2    dengan jarah antar batu aerasi 0,5 m, yang digantung dengan bantuan tali membentuk segi empat  dimana setiap sudutnya digantungkan batu aerasi, sebagaimana lazimnya pada bak pemeliharaan larva udang.  Kekuatan aerasi diatur agar tidak terlalu kuat dan tidak terlalu lemah. Fungsi dari aerasi itu selain untuk menambah kelarutan oksigen dalam air, juga untuk menggerakkan pakan larva agar selalu dalam kondisi melayang diair agar tidak mudah tenggelam didasar. 


3. Penebaran
Larva yang baru menetas , diperoleh dari bak penetasan dinama induk yang mengeram di pelihara secara terpisah.  Setelah pre-zoea berubah menjadi zoea -1 , saatnya untuk dipindahkan ke bak pemeliharaan larva.

Pemindahan larva dilakukan pada pagi atau sore hari. Lrva dikumpulkan dengan menggunakan gayung atau “cimplung” agar larva terambil bersama massa airnya. Selanjutnya ditampung di dalam ember sambil diaerasi lambat.  Bila sudah terkumpul dalam jumlah cukup banyak, larva di pindah dalam waskom , lalu diapungkan dipermukaan air bak larva untuk 30 menit lamanya , sambil sedikit demi sedikit air dari bak yang akan ditebari itu dimasukkan sedikit demi sedikit kedalam waskom agar teraklimatisasi. Akhirnya waskom dimiringkan sehingga larva dapat keluar sendiri menyebar kedalam air bak pemeliharaan larva itu.

Kepadatan larva didalam bak pemeliharaan  75-100 ekor /liter.  Jadi satu bak larva yang volume airnya 4000 liter  (4 m3) dapat ditebari 400 000 ekor Zoea-1 Larva sejumlah itu berasal dari seekor induk kepiting saja. Bahkan dari seekor induk , larvanya dapat ditebar kedalam bak yang volume airnya 8 m3.

Larva kepiting sangat bersifat kanibal. Karena itu kepadatan sangat mempengaruhi tingkat sintasannya, apalagi kalau pakan nya tidak mencukupi. Pakan yang kurang menyebabkan perkembangan larva tidak sehat, sehingga banyak mati , selain kanibalisme.  Sewbvaliknya bila pakan berlebihan, akan menyebabkan mutu air memburuk, menyebabkan banyak kematian juga pada larva. 


4. Pengelolaan Pakan
Di alam larva kepiting memakan berbagai organisme renik plankton seperti Diatomae, larva-larva dari  Echinodermata, moluska dan cacing, dsb. Didalam bak pemeliharaan , pakan yang diberikan juga harus disesuaikan dengan sifat alami dari larva itu.


4.1. Pakan Alami
Dalam pemeliharaan larva kepiting diberi pakan berupa pakan alami dari berbagai organisme plankton  hewani (zooplankton) dan  fitoplankton yang ukurannya sesuai dengan stadia Zoea.

Pakan untuk Zoea – 1 sampai Zoea-3.  berupa zooplankton Brachionus sp dan fitoplankton jenis Chaetoceros sp. yang dihasilkan dari kultur di laboratorium.

Pakan untuk Zoea- 4 dan  Zoea -5 dan Megalopa  berupa  nauplii Artemia  yang ditetaskan dari kista Artemia dan fitoplankton Chaetoceros sp. dan ditembah Tetraselmis sp.. Kegunaan dari fitoplankton itu walaupun mungkin secara langsung tidak dimakan oleh larva kepiting, tetapi berguna sebagai penyeimbang lingkungan dalam air  karena fitoplankton itu dalam proses fotosintesisnya dapat menyerap zat-zat hara yang beracun bagi larva kepiting yang dipelihara.

Dosis Brachionus , Chaetoceros  yang diberikan  kira-kira 10 liter ( satu ember)  kultur yang sudah disaring sehingga padat untuk bak volume 1 M3.  Demikian juga Tetraselmis sp. juga  sebanyak 10 liter kultur yang sudah disaring.

Sedangkan untuk Zoea-4, Zoea-5 dan Megalopa dosis nauplii Artemia  diperkirakan  2 gram kista ditetaskan  untuk diberikan kepada setiap 100 000 larva kepiting. Jadi jika kita memelihara seluruhnya  5 juta larva kepiting  , maka setiap hari perlu di tetaskan kista artemia sebanyak 10 gram.

Tetasan nauplii artemia tsb. diberikan pada pagi hari, setelah dilakukan pembersihan bak dengan sipon dan air bak dig anti 1/3 volume dengan air yang segar.  


4.2. Pakan Buatan
Dalam pemeliharaan larva kepiting selain pakan alami juga diberi pakan buatan.  Pakan buatan mengacu kepada jenis pakan yang diberikan kepada larva udang windu.  Tujuan pemberian pakan buatan ini untuk melengkapi zat nutrisi yang  kemungkinan tidak terdapat pada pakan alami.

Larva kepiting mulai stadium Zoea -1 sudah dapat memakan pakan buatan . banyaknya ransum dan ukuran  jenis pakan buatan yang diberikan  dirubah sesuai dengan tingkat perkembangan larva.


Larva stadium Z-1  dan Z-2 diberi pakan sebanyak 0,5 ppm. Artinya kedalam bak pemeliharaan larva yang volume airnya 1 M3 (1000 liter) diberi pakan  berupa butir-butir mikropelet sebanyak  0,5 gram .  Jika volume air 5 M3 maka banyaknya pakan 5 x 0,5 gram. = 2,5 gram.per-M3 volume air bak.

Untuk stadium Zoea-3,  dosis pakan 0,6 ppm ; atau  sebanyak 0,6 gram per-M3 air bak. Untuk stadium Zoea-4 , dosis pakan  0,65 ppm ; atau sebanyak 0,65 gram per-M3 air bak.

Untuk stadium Zoea-5, dosis pakan 0,75 ppm ; atau sebanyak 0,75 gram per-M3 air bak.

Mulai stadium Megalopa sampai instar ( stadium Crab) ransum pakan ditingkatkan menjadi 1 ppm  sekali pemberian.

Pemberian pakan buatan (mikropelet) tsb. sehari diberi kan 6 kali , yaitu berselang waktu 4 jam.  Dengan cara itu diharapkan larva dapat terus menerus mendapat makanan, pakan tidak boleh berlebihan dan karena selalu ada pakan didalam air pemeliharaan, larva menjadi berkurang sifat kanibalisme-nya.

Ukuran partikel pakan juga harus disesuaikan dengan ukuran stadium larva.  Untuk  stadium Zoea-1 sampai Zoea-5 ukuran pelet 50 mikron, diberbesar bertahap sampai 100 mikron . Selanjutnya untuk stadium Megalopa dan Crab  ukuran pelet lebih besar yaitu 200 mikron sampai 500 mikron. Ukuran-ukuran besarnya mikropelet itu dapat di baca pada kaleng wadah pakan larva  yang dijual.

Stadium Megalopa lebih suka tinggal didasar bak (benthic)dan makan Artemia yang sudah ditetaskan berumur 4-5 hari (instar 4-5). Dosis pakan  tetasan kista sebanyak 3 gram  untuk 100 000 ekor Megalopa per-hari. Ukuran panjang total tubuhnya  4,1 mm. Sifatnya cenderung kanibal. Sehingga terjadi banyak penyusutan jumlahnya. Untuk mengurangi kanibalisme, di dalam air bak perlu diberi tempat persembunyian berupa  rumbai-rumbai yang dapat dibuat dari tali rafiyah yang diikat segerombol diberi pemberat agar dapat ditegakkan didalam air. Jumlah rumbai-rumbai ini hendaknya cukup banyak. Lama masa Megalopa ini 7 hari, bermetamorfosa menjadi stadium Crablet (benih kepiting).

Pada stadium Crab-1 sampai Crab-5  yaitu benih kepiting ,  bentuk dan organ tubuhnya sudah seperti pada kepiting dewasa.Panjang karapas 2 mm sampai 3 mm; berat badannya 5 – 9 mg. Pada stadia Crab anakan kepiting makan dari dasar bak Pakan yang diberikan berupa daging ikan , cumi-cumi yang masih segar dan dibersihkan, lalu dicacah .  Dosis pakan  perhari diperkirakan  sebanyak 50-100 gram untuk 100 000 ekor benih  Crab-1 sampai Crab-5.  Pemberiannya pakan secara di onggokkan pada 4-5 titik. Sementara diberi pakan itu , aerator dihentikan. Kemudian harus diamati  apakah pakan yang diberikan itu segera habis dalam waktu  10 menit. Bila cepat habis, maka selang 3 - 4 jam , perlu diberi lagi cacahan  pakan yang sama. Demikian dalam sehari pemberian pakan  untuk stadium Crab  sebanyak 6 kali. Bila Crab terlihat sangat rakus atau nafsu makan bagus, maka dosis pakan harus dinaikkan. Sebaliknya kalau nafsu makan kurang, atau lambat memakannya, maka pada pemberian berikutnya dosis pakan dikurangi. 

Pengamatan dan pengaturan dosis pakan itu penting , untuk mencegah terjadinya kanibalisme, bila benih crab itu kelaparan dan pakannya kurang. Sebaliknya jika pakan terlalu banyak bersisa, menyebabkan kualitas air menurun, karena pembusukan sisa pakan itu. Hal ini akan menyebabkan banyak kematian pada benih kepiting. 

Penelitian telah dilakukan pada pertumbuhan benih stadia Crab dimana pada umur 50 hari (terhitung sejak Zoea-1) berat badannya mendekati 500 mg panjang karapas mendekati 10 mm ( 1 cm). Ini ukuran yang diperkirakan sudah cukup kuat untuk di jual sebagai benih untuk di deder pada tempat yang lebih luas di luar ruangan. Misalnya didalam hapa yang dipasang ditambak yang subur dengan pakan alaminya. Namun tentu saja harus selalu dilindungi terhadap hama pemangsa karena itu masih di pelihara didalam hapa. 


G. Pengelolaan Kualitas Air
Kualitas air tempat larva kepiting dipelihara , merupakan faktor penting yang harus dijaga agar tetap dalam kondisi optimum  dan stabil.  Dalam Panti Pembenihan, biasanya dilakukan pergantian air bak larva sebanyak 20-40% dari volume bak setiap 2 hari.

Penggantian air dilakukan dengan lebih dahulu menyedot air dari dasar bak menggunakan sipon yaitu slang berdiameter 2 -3 inci yang diberi tutup ujungnya dengan kain kelambu yang lubangnya tidak terlalu kecil, memungkinkan kotoran yang mengendap didasar bak tersedot.  Sebagian air dari dasar bak akan terbuang  sebanyak 20-40% volume. Kemudian bak diisi lagi dengan air yang masih segar  dan salinitas 30-33ppt , suhu 28-30 oC sama dengan air yang lama. Sedangkan kadar Oksigen tentu dapat dipertahankan  6-7 ppm bila aerator terus menerus terpasang. Dan dijaga kebersihannya. Kotoran-kotoran dan sisa-sisa pakan didalam air akan membusuk dan menyerap banyak O2. Karena itu kebersihan  air dan dasar serta dinding bak harus dijaga, dengan cara di sipon  dengan cermat.

Penggantian air itu dimulai pada zoea-2 sebanyak 20%  setiap 2 hari sekali , sampai Zoea-3 , selanjutnya sampai Zoea 5 ganti air sebanyak 40%.

Pada stadium Megalopa, sebaiknya dipanen, untuk memindahkan Megalopa kedalam bak lain yang sudah dipersiapkan dalam kondisi bersih dan diberi rumbai-rumbai untuk persembunyian  terhadap sesamanya. Megalopa bersifat benthic  yaitu senang berada didasar bak.  Ukuran besarnya  panjang karapas 2,1 mm, panjang abdomen 1,87 mm, panjang tubuh total dari ujung duri rostral sampai ujung belakang  abdomen 4,1mm.
Padat penebaran Megalopa  10-20 ekor/M3.diperkirakan dapat mengurangi sifat kanibalisme.


H. Pengendalian Penyakit
Penyakit pada larva kepiting dapat terjadi pada semua stadium . Disebabkan adanya bacteria, jamur dan Protozoa yang terdapat dan berkembang didalam air bak pemeliharaan. Ini disebabkan oleh kotoran dan sisa-sisa pakan. 

Penelitian mengenai larva kepiting belumlah banyak dilakukan. Namun demikian haruslah diwaspadai masalah penyakit ini.  Penyakit dapat timbul dari interaksi antara 3 faktor yaitu faktor lingkungan,fartor keberadaan organisme penyakit dan faktor kondisi inang atau organisme itu sendiri (yaitu larva yang dipelihara) yang dalam kondisi lemah.

Lingkungan, yang kondisinya tidak stabil (kotor, kualitas air tidak stabil) menyebabkan kondisi larva stress, lemah, nafsu makan menurun, akibatnya mudah diserang penyakit.  Penyakit itu disebabkan keberadaan organisme penyakit itu yang ada didalam lingkungan /bak. Keberadaan organisme penyebab penyakit itu memang ada dimana-mana, tetapi akan dapat merebak bila kondisi airnya kotor. Bila kondisi bersih, tidak banyak sisa-sisa kotoran dsb.  dan kualitas air selalu terjaga stabilitasnya/ cocok untuk kehidupan larva yang dipelihara, makanan cukup dan bergizi yang sesuai dengan kebutuhan larva, maka larva juga kondisi nya akan selalu sehat, kuat, dan tahan penyakit.

Itulah caranya kita mengendalikan kondisi  larva yang kita pelihara , agar kita upayakan selalu dalam kondisi sehat dan ini dapat dicapai jika kita bekerja dengan cermat, cermat, dan cermat. 


1. Penggunaan Obat
Banyak jenis anti biotika yaitu obat yang membasmi bacteria, jamur, protozoa, tetapi virus tidak dapat dibunuh oleh antibiotika karena virus tidak dapat melakukan metabolisme sendiri, melainkan  sepenuhnya numpang hidup pada organisme lain.  Jenis penyakit pada larva kepiting , tentu juga serupa dengan yang menyerang larva udang yang sekarang sudah banyak diketahui. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa larva yang terlanjut sakit, sulit untuk disembuhkan dengan obat apapun. Karena itu cara pencegahan harus diutamakan, yaitu memelihara  lingkungan agar stabil dan optimal bagi kehidupan larva, pakan yang baik mutunya, menjaga kebersihan, dan menghindari/melindungi bak-bak pemeliharaan dari kontaminasi/penularan bibit penyakit. 


2. Penggunaan Antibiotik
Obat anti biotika  sekarang dilarang oleh Pemerintah penggunaannya untuk perikanan, karena menyebabkan organisme penyakit menjadi resisten (tidak mati  oleh obat tsb.) dan adanya obat yang menyebabkan kanker pada manusia bila pemakaian jangka panjang dan obat tertentu itu mengendap dalam bahan makanan.

Untuk pencegahan penyakit pada Panti Pembenihan, diperkenankan untuk pembersihan saja yaitu menggunakan obat disinfektan yang berupa bahan kimia , seperti larutan PK 2-3 ppm,  deterjen , sabun untuk mencuci bak dll. , formalin 100- 200 ppm untuk mematikan bakteri dan juga virus.

Demikian semoga penjelasan-penjelasan  dalam postingan ini dapat membantu anda dalam menerapkan dan membawa keberhasilan dalam budidaya Perikanan pada umumnya.  


untuk diketahui  
Calon Induk dan induk kepiting yang sudah mengandung telur dapat diperoleh dari penangkapan di alam. Persyaratannya ialah organ tubuhnya lengkap, tidak cacat dan bebas penyakit. Kulitnya bersih, agak mengkilap.

Calon induk itu dapat dipelihara didalam bak pada suatu bangunan Panti Pembenihan yang semula dipakai untuk pembenihan Udang Windu. Jadi bentuk bak pemeliharaan induk dapat berbentuk bulat ataupun empat persegi panjang, dengan kedalaman air 80 – 100 cm. Dasar bak harus diberi lapisan Lumpur tanah lihat setebal 10-15 cm. Lumpur itu sebelum di masukkan kedalam bak lebih dahulu disterilkan dengan cara direbus hingga mendidih  untuk ematikan bibit penyakit yang mungkin dapaty menyerang kepiting.  Adanya Lumpur ini menjadi prasyarat bagi kepiting untuk pematangan gonadanya sengan sempurna. Padat penebaran di dalam bak pemeliharaan ialah 1-32  ekor/m2, perbandingan jantan: betina 1 : 2.


Pakan untuk calon induk  ialah cacahan daging cumi-cumi, kekerangan, udang kecil , dan daging ikan yang semuanya lebih dahulu dicuci hingga bersih. Banyaknya pakan (ransum) 5-10 % berat kepiting seluruhnya, per-hari. , pemberian   pagi dan sore .

Dapat juga  diberi pakan berupa pelet kering kualitas untuk induk udang windu  (kadar protein 35-40%) dengan dosis 2-3 % per-hari . Dosis itu dibagi 2 untuk pagi dan sore. 

Ablasi mata dapat dilakukan setelah calon induk di pelihara selama 3-5 hari , agar beradaptasi. Calon induk yang di ablasi harus berkulit keras. Yang dipotong  betina saja , salah satu mata saja.  Alat pemotong mata ialah gunting  tajam yang lebih dahulu di panaskan , agar lukanya cepat kering  dan tidak mengeluarkan banyak cairan. Setelah di ablasi mata, calon induk direndam didalam larutan PK 3-5 ppm selama 10 -15 menit untuk sterilisasi, setalh itu dimasukkan kembali kedalam bak pemeliharaan induk bersama kepiting jantannya agar dapat melakukan perkawinan . 

Setelah kawin dan induk betina keras kembali kulitnya, maka didalam tubuhnya akan berkembang gonadanya , sampai  stadia 2 , kemudian telur dikeluarkan dan terjadi fertilisasi dengan sperma yang sudah disimpan oleh si betina itu ketika kawin.  Sekali bertelur betina kepiting dapat meghasilkan telur sebanyak 1 juta – 3 juta tergantung dari berat tubuhnya. 

Telur yang sudah di fertilisasi lalu melekat pada bulu-bulu kaki renang , dibawah abdomen untuk di erami. Selama pengeraman induk betina berenang-renang sambil selalu mengibaskan kaki-kaki renang , agar air segar dengan banyak kandungan oksigen , mengaliri telur-telur yang embrionya sedang tumbuh itu. Lama pengeraman telur 10-12 hari pada suhu 28-30 oC dan  kadar garam 12- 30 ppt. 

Telur menetas setelah telur berwarna coklat disebabkan embrio yang sudah besar duidalam telur. Telur menetas menjadi Pre-zoea yang hanya dalam waktu 30 menit berubah menjadi stadia Zoea-1 . Setiap 3-4 hari Zoea itu berganti kulit menjadi stadia  Zoea-2, Zoea-3, Zoea-4 , Zoea-5.  Setiap berubahjadi lebih lengkap organ tubuhnya dan ukurannya semakin besar. Gerakan semakin gesit menangkap mangsanya.

Pakan Zoea ialah fitoplankton (Tetraselmis dan Chaetoceros) dan Zooplankton (Brachionus sp) dan nauplii artemia. Fitp dan zooplankton itu di kultur di dalam Panti Pembenihan.

Zoea-5 akan berubah menjadi stadia Megalopa yang berukuran 4 mm. Sifatnya  kanibal (memakan sesamanya), karena itu didalam bak harus diberi banyak tempat persembunyian , yaitu  potongan  jaring bekas atau tali rafiayah yang di ikat seperti rerumputan di rendam dalam air.   


Setelah  5-7 hari Megalopa akan berubah menjadi stadium Crablet  (kepiting  kecil) bentuknya sudah sama dengan kepiting dewasa.  Kecenderungannya hidup didasar bak Ukuran Crablet -1 hanya 1,5 cm , setelah  50 hari  sampai 70 hari  besarnya sudah cukup untuk di pelihara di kolam air payau ( pendederan.  Karena itu sudah dapat di jula sebagai benih kepiting . Ukurannya sekitar 5 cm. 

Selama dalam pemeliharaan di Panti Pembenihan, Pengelolaan air harus dilakukan , yaitu bak pemeliharaan induk maupun bak larva harus di bersihkan dengan cara di sipon . Air yang terbuang bersama kotoran diganti dengan air baru

yang sudah di filter, dan kualitas airnya  sama, yaitu salinitas 30-32 ppt, suhu air 28-30 oC.
Penanggulangan penyakit pada Pembenihan kepiting harus diutamakan pencegahannya. Dengan cara memelihara  kebersihan bak  dengan menyipon kotoran setiap hari dan mengganti dengan air baru yang telah di saring dan kualitasnya sama dengan air yang lama. 

Pemberian pakan harus teratur dan cukup dosisnya. 

Penggunaan anti biotika tidak diperkenankan , karena anti bioitika merupakan bahan kimia  yang akan mengendap dalam tanah dan air sehingga dalam jangka lama dapat mematikan organisme lain. Ada jenis anti biotika yang diketahui menyebabkan kanker pada manusia. 

Yang diperkenankan ialah beberapa bahan kimia sebagai disinfektan  seperti PK  (Kalium Permanganat)  2-3 ppm , Klorine  50 – 100 ppm  yang membunuh bacteria, jamur, dan  cepat terurai/rusak.


Sumber Referensi:
1.       Kementerian kelautan dan perikanan Republik Indonesia
2.       Badan Pengembangan sumberdaya Manusia Kelautan dan perikanan
3.       Pusat penyuluhan kelautan dan perikanan Republik Indonesia


Selanjutnya Baca juga


Demikian semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan
selamat mencoba dan terima kasih

TEHNIK BUDIDAYA KEPITING BAKAU


Postingan ini merupakan Kelanjutan dari postingan sebelumya, seperti yang sudah kita ketahui saat ini  para peminat Kepiting Bakau semakin hari kian semakin Bertambah, sedangkan para konsumen yang meminati kepiting ini juga semakin banyak baik dari dalam negeri Maupun Luar negeri.............Kurangnya pengetahuan terhadap Tehnik budidaya kepiting Bakau-Soka dapat memperlambat produksi dari jumlah yang ada terutama  di pasaran,  sehingga jika penangkapan dari alam, yang kesinambungan dan volume produksinya tidak dapat diandalkan, bahkan juga dapat di khawatirkan Habitat dan Regenerasi Kepiting Bakau akan menjadi Berkurang, ini juga pernah disampaikan sahabat saya Dalam Dunia Bloger Seperti catatan si OBOY,  Khususnya untuk Daerah Tarakan. Oleh karena itu sudah saatnya diusahakan secara lebih rasional yaitu melalui system budidaya.  

Tehnologi budidaya kepiting bakau itu telah diperkenalkan dan dipraktekkan di banyak negara seperti Jepang, Australia, China, India, Sri Langka, Philippina, Malaysia, dan tentu saja Indonesia. Khususnya di Negara kita sendiri,  usaha ini masih bersifat kecil-kecilan dan tidak berkesinambungan  karena kendala sumber benihnya mengingat di Indonesia belum ada yang mendirikan usaha Panti Pembenihan Kepiting. 

Budidaya kepiting dapat dikembangkan melalui beberapa jenis usaha , selain Pembenihan , yaitu : 
  1. Pembesaran dari benih menjadi kepiting ukuran konsumsi ; 
  2. Penggemukan yaitu memelihara kepiting hasil tangkapan dari alam yang beratnya dibawah standar menjadi ukuran konsumsi ; 
  3. Produksi kepiting cangkang lunak yaitu memelihara kepiting  yang sudah berukuran konsumsi tetapi bercangkang keras menjadi bercangkang lunak saat ganti kulit;  
  4. Produksi kepiting betina yang mengandung telur (matang gonad.). 

Tujuan utama dari Budidaya kepiting ialah agar harga jualnya lebih tinggi , sehingga meningkatkan penghasilan nelayan penangkap kepiting. Apabila produk dari budidaya itu dapat meningkatkan ekspor tentu akan menaikkan devisa Negara.  


A. Lokasi Budidaya Kepiting
Daerah yang cocok untuk lokasi budidaya kepiting  ialah  tambak yang bisa untuk budidaya bandeng dan udang. Tambak yang dasarnya berlumpur lebih cocok untuk kepiting.  Kadar garam airnya yang optimal berkisar 10-25 ppt . Sifat air lainnya yang cocok adalah : suhu 28-33 oC , pH 7,5 -8,5 dan DO lebih dari 5 ppm.


B. Benih kepiting
Terus terang saja Selama ini  dihasilkan dari penangkapan. ukurannya sangat bervariasi. Anakan kepiting yang berukuran berat  30-50 gram  dijadikan benih untuk budidaya  unit pembesaran .
Kepiting tangkapan yang ukurannya 150-200 gram menjadi benih untuk unit Penggemukan, terdiri dari kepiting jantan dan betina. Kepiting  ukuran itu juga dijadikan benih untuk unit  produksi cangkang lunak dan juga unit produksi kepiting bertelur, (betina saja.).

Benih kepiting untuk dibesarkan di lokasi lain, diangkut dengan cara yang sama seperti mengangkut kepiting untuk konsumsi.  Yaiut diikat capit-capitnya dengan tali , lalu digantungkan terbalik didalam bak atau ember yang diisi air payau. Pedagang biasanya membuat bak untuk penagngkut  itu ukuran garis tengah 50 cm.  Dapat juga dibuat dari fiber glass berbentuk kotak ukuran 50 x 50 cm , dalam 60 cm. 

Bak ukuran itu dapat memuat 150-200 ekor kepiting kecil-kecil berat 20-50 gram/ekor. Selama diangkut, kepiting direndam dalam air payau 10-25 ppt. Pengangkutan selama 7-8 jam , mortalitasnya berkisar 0 -40 %. (Gunarto,1989 dalam Cholik,1991).  


Seperti telah di dokumentasikan oleh  Cholik & Hanafi, 1991,  Tehnik budidaya kepiting yang dipraktekkan diberbagai daerah di Indonesia, dideskripsikan dibawah ini.

1.    Wadah
Wadah untuk memlihara kepiting  pembesaran, penggemukan , kepiting bertelur maupun kepiting cangkang lunak, diberbagai daerah dikembangkan sendiri oleh para petani dan nelayan tradisional secara sederhana, disesuaikan dengan kemampuan dan lokasi yang memungkinkan. 

1.1. Kotak dari bambu
Wadah  penggemukan itu kebanyakan dibuat dari bambu ukuran kotak 2 x 0,5 x 0,2 m  .Terbagi menjadi 2 bagian ( lihat gambar). Yang masing-bagian diberi tutup. Ruangan kotak itu disekat-sekat menjadi kotak-kotak kecil masing- masing  30 cm2. cukup untuk diisi dengan 1 ekor kepiting di setiap kotak tersebut.  Wadah seperti ini digunakan oleh para nelayan di Cilacap (Jawa Tengah ) dan juga di Bone (Sulawesi Selatan), untuk memelihara kepiting bertelur.

1.2. Kotak  plastik
Wadah yang mungkin digunakan juga ialah kotak dari plastic ukuran 60 x 40 x 20 cm.  Kotak ini juga di beri sekat-sekat menjadi 9 ruang masing-masing untuk 1 ekor kepiting.
Sistem kotak kecil ( disebut sistem baterei pada kandang ayam!) , ini berarti sangat hemat ruang atau padat penebaran tinggi ,yaitu 40 ekor kepiting per-M2.  
Dengan system ini mortalitas  hanya 5 % atau kurang, karena kepiting tidak dapat saling menyerang atau memangsa. Menurut Cholik (1991) kematian itu disebabkan oleh kegagalan  pada waktu ganti kulit.

Gambar: 7– Kotak bambu terapung  sistem baterei .

1.3. Kotak dari jaring  (Jaring apung)
Khusus untuk memelihara kepiting, Jaring apung yang dibuat berukuran kecil,  2,5 x 2,5 x 1 m  Bingkai diibagian atas dari papan sedikit agak lebar, sedemikian rupa sehingga papan bingkai itu menjorok kedalam , dapat menghalangi kepiting  keluar.  (lihat gambar : 8 )   dibawah ini.  Agar tidak hanyut terbawa arus, setiap sudut  diberi jangkar dengan  ikatan tali, seperti pada gambar itu.


   Gambar::8. Kotak Jaring Apung   (menurut Cholik dan Hanafi, 1994)

Metoda pemeliharaan kepiting dilakukan di petak tambak air payau . Petak luasnya  20 x 50 m = 100 m2,  petak tambak itu diberi pintu air 2 buah : satu untuk pemasukan air dan  satu untuk pembuangan. Didalam petak itu di sekat-sekat menjadi beberapa bagian dengan cara memasang pagar dari bambu.  Setiap bagian  ukurannya  misalnya 5 m x 10 m . dibagian  sekeliling pagar bambu dibuat lebih dalam berbentuk saluran keliling (caren ) sedalam 50-60 cm , sedangkan dibagian tengahnya menjadi pelataran yang dapat terendam air sedalam  30-40 cm.   (lihat gambar dibawah ini.) Metoda ini dapat ditemui di daerah Kamal, dan Tangerang  

1.4. Kotak berpagar tanpa caren
Dapat juga kotak-kotak yang dibuat dengan sekatan pagar bambu di dalam petak tambak, dibuat tanpa caren . Di dalam kotak-itu di bagian dalam pagar, dipasang bambu atau  gedek 0,5 -1 m dibawah permukaan air, dimana kepiting dapat berteduh. Seperti di  Lukis dibawah ini.. : Gambar: 7 menurut Cholik & Hanafi, 1991.



Gambar:9.Sekat petak tambak dengan pagar bambu.


1.5. Pagar dari jaring  dengan pintu air
Pemagaran  tambak dapat juga dipakai jaring  yang dipasang tegak menggunakan tihang-tihang kayu atau bambu. Pintu air juga dipasang saringan dari kerei bambu , seperti pada gambar: 10, dan tanpa caren  dalam pagar itu. Ditengah diberi pelataran terendam air 40-60 cm dimana kepiting mendapatkan makanan alami yang tumbuh disitu..
Gambar: 10 Pagar dari jaring berpintu air




Kotak dengan system pagar itu selain dipasang didalam petak tambak, dapat juga dipasang pada suatu teluk yang dangkal (lihat gambar: 13). Metoda ini dijumpai dipraktekkan petani tambak di Sumatera Utara. 


2.      Metoda  Pemeliharaan Kepiting
Telah diuraikan diatas, bahwa pemeliharaan kepiting  dilakukan dengan 4 macam  tehnik sesuai dengan tujuan jenis produksinya . Pada bagian ini diuraikan satu persatu. 


2.1. Pembesaran Benih
Yang paling banyak dilakukan metoda ini yaitu pembesaran kepiting hasil tangkapan yang masih berukuran kecil ( kurang dari 50 gram) dipelihara menjadi ukuran yang layak di konsumsi yaitu ukuran lebih besar dari 200 gram .  Pembudidayaan ini dilakukan secara tradisional yang bersifat ekstentif.  


2.2. Tempat Pemeliharaan
Tempat pembesaran ialah tambak yang biasa untuk memelihara bandeng dan udang.  Agar kepiting tidak keluar dari tambak, dibuatlah kurungan atau sekeliling tanggul tambak dipasang pagar dari bambu yang cukup rapat.  

Luas petak tambak yang dipergunakan untuk memelihara kepiting bervariasi, tergantung dari kepemilikan petani dan kondisi pengirannya dan juga aspek keamanan dipertimbangkan. Namun kisaran luas petak  antara  100 m2 sampai 0,5 ha. Petakan yang lebih besar lebih sukar di kelola , misalnya pengaturan air dan biaya pembuatan pagar akan lebih besar, sehingga biaya harus disesuaikan pula dengan kemampuan petani. 

Padat penebaran  sebaiknya 2 ekor/m2.  Derajat kehidupan dipengaruhi oleh kepatan tebar. Karena kepiting bersifat kanibal, semakin padat resiko dimangsa oleh sesamanya semakain besar.  Percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa pada padat tebar 1 ekor/m2 derajat kehidupan 77 % ; kepadatan 3 ekor.m2 sintasan 49% dan kepadatan 5 ekor/m2 sintasan hanya 32 % (Gunarto dan Cholik, 1990). Maka disepakati bahwa kepadatan tebar sebaiknya 2 ekor/M2  dimana sintasan dapat dicapai 70 % atau mungkin lebih. 
Lama pemeliharaan  3 bulan , dimana dari benih kepiting  berat awal 50 gram rata-rata , akan menjadi kepiting  dengan berat rata-rata 200 – 300 gram. Ukuran yang umum dipasarkan.


2.2.1. Pakan
Pakan yang diberikan ialah ikan rucah yang harganya murah atau binatang-binatang pengganggu di tambak seperti ular, belut yang dipotong-potong kecil-kecil. Di Negara lain seperti Malaysia dan Philippina , dianjurkan untuk memberi pakan kepiting  dengan bahan-bahan buangan dari penyembelihan hewan ( jerohan) ayam, dan ternak lain. Banyaknya ransum 3-5 % berat biomassa kepiting  2-3 kali sehari. Pemberian yang terlalu banyak , pakan akan bersisa dan membusuk dalam tambak sehingga kurang baik akibatnya bagi kepiting. Karena itu petani harus mengamati keadaan mutu air tambak, sehingga bila terjadi hal yang memburuk, dapat dilakukan pergantian air, pada waktu terjadi pasang. 


2.2.2. Pemanenan
Pada system pemeliharaan di tambak dengan pagar bambu  itu, cara pemanenan  Secara sederhana yaitu dimulai dengan membuang sebagian air tambak sampai kedalaman dalam petak  30 cm. Beberapa orang akan turun kedalam tambak membawa  keranjang untuk wadah kepiting yang ditangkap dan membawa sebatang bambu . Bambu itu di tancapkan  pada dasar tambak, lalu di tangkap oleh kepiting hingga dapat ditangkap dengan tangan saja.  Tetapi cara ini sering menyebabkan capitnya lepas, sehingga harga jualnya turun.  

Penangkapan secara total biasa dilakukan dengan pengeringan tambak, sehingga kepiting dapat ditangkap dengan seser, dan yang tersembunyi didalam lumpur dapat di juga ditangkap dengan seser dari bambu atau pengki untuk memungkinkan  mengeruk lapisan Lumpur tempat kepiting bersembunyi. 

2.2.3. Mengikat Kepiting Kepiting  mempunyai capit yang kuat, dan anggota badannya mudah putus, sedangkan bila anggota badan tidak lengkap, harga jualnya akan menurun.  Karena itu keterampilan cara mengikat kepiting  haruslah dipelajari dengan cermat. Dibawah ini disajikan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengikat kepiting hidup  dengan cara yang baik dan benar, agar kepiting tidak putus angota badan dan orang yang mengikatnya tidak terluka seperti di lukiskankan oleh  Rattanachote dan Dangwatanakul ( 1991).
Gambar:  14 - Mengikat Kepiting (Rattanachote & Dangwatanakul , 1991)
  
2.3. Penggemukan Kepiting
Penggemukan kepiting dilakukan  menggunakan wadah berupa kotak dari bambu yang di apungkan d dalam petak tambak. Konstruksi kotak bambu  (system) baterai) seperti dibahas pada buti r : 5.1.Setiap kotak kecil diisi seekor kepiting. 
Dengan system kotak-kotak kecil ini, sangat hemat dalam pemakaian ruang , dimana jumlah yang dipelihara  40 ekor kepiting per- m2. Lama pemeliharaan penggemukan ini hanya 3-4 minggu. Dari benih awal yang sudah berukuran 150-200 gram/ekor.  


2.4. Produksi kepiting cangkang lunak
Kepiting Bakau Oleh para petani  di Jawa Barat, kepiting cangkang lunak disebut kepiting “soka”.
Kepiting ini  mempunyai sifat secara periodik berganti kulit. Sementara kulitnya lepas, akan diganti dengan kulit baru yang masih lunak untuk beberapa jam lamanya sebelum menjadi keras kembali. Ketika cangkang lunak itu kepiting juga berkesempatan untuk tumbuh membesar. 

Frekuensi ganti kulit , pada yang masih muda  lebih cepat, semakin tua frekuensinya semakin jarang. 
Kepiting yang di pelihara sudah berukuran cukup besar yaitu 150-200 gram /ekor, dan lama pemeliharaan 2-3 minggu saja.  Pergantian kulit ini secara alami  dirangsang oleh faktor alam yaitu saat air pasang tinggi dari laut masuk  . Juga dipengaruhi oleh banyaknya pakan . Karena itu dalam pemeliharaan kepiting harus diberi pakan dalam jumlah cukup , tidak boleh kelaparan.

Bila wadah yang dipergunakan sistem baterei, dimana kepiting seekor dipelihara dalam satu kotak , sehingga tidak saling memangsa, maka derajat kehidupan selalu tinggi bahkan tidak ada yang mati.

Wadah yang digunakan dianjurkan seperti dilukiskan pada butir 5.1. diatas. Jadi sama dengan wadah untuk tujuan Penggemukan kepiting. 


2.5. Produksi kepiting bertelur
Para konsumen di restoran-restoran internasional, banyak menggemari kepiting yang mengandung telur. Memang kepiting yang penuh mengandung telur  sangat lezat . Telurnya berwarna merah jingga memenuhi seluruh rongga dibawah karapas.  Harganya menjadi berlipat 3-4 kali dibanding dengan kepiting yang gemuk tetapi tidak mengandung telur ! 

Yang dipelihara untuk ini tentu hanya kepiting berjenis kelamin betina saja, dan ukurannya sudah mencapai 200 gram atau lebih.  Petunjuk untuk postingan  ini telah diterangkan bahwa kepiting betina dapat dipercepat proses pematangan gonadnya dengan cara diablasi salah satu matanya.

Untuk jenis produksi ini , sebaiknya digunakan wadah berupa kotak-kotak dari bambu juga (sistem baterei) dimana seekor kepiting dipelihara di dalam satu kotak seperti digambar dan dijelaskan pada butir 5.1. 

Kepiting betina yang dipilih untuk dipelihara  ialah yang sudah cukup ukurannya ( dewasa) yaitu 200 gram atau lebih. Tidak ada tanda-tanda berpenyakit. 

Mula-mula kepiting betina tsb dipelihara dengan diberi pakan yang bermutu baik yaitu ikan rucah yang segar , juga cumi-cumi dan kerang-kerangan. Bahan pakan itu tentu harganya cukup mahal, tetapi harga produksinya juga mahal, sebagai kepiting bertelur .

Banyaknya ransum 2-3 % berat tubuh kepiting per-hari. Jenis pakan tsb. cara pemberiannya dicuci bersih lebih dahulu , lalu dipotong-potong kecil-kecil agak mudah dimakan oleh kepiting yang memang ukurannya sudah cukup besar. Pakan ini diberikan  selang sehari , mengingat kadang didaerah tertentu jenis cumi-cumi dan kerang-kerangn tidak selalu mudah diperoleh dan harganya cukup mahal.  

Selain pakan  tersebut diatas, kepiting  juga dapat diberi pakan berupa pelet kering yang biasa diberikan untuk udang ditambak , yaitu pelet udang klas “grower” (untuk udang yang sedang tumbuh ).Dosis pelet kering itu 2-3 % berat kepiting/hari, yang diberikan 2 kali , pagi dan sore. Malahan pakan pelet itu dapat diberikan sebagai pakan yang utama setiap hari.  Kepiting ternyata suka makan pelet kering itu.  3 hari setelah kepiting dipelihara, sehingga sudah cukup beradaptasi, lalu dilakukan ablasi mata. 

Kepiting dipegang dengan tehnik khusus agar japit dan anggota tubuh lainnya tidak putus.  Biasanya hanya tehnisi yang sudah terampil yang dapat dengan sempurna melakukannya.

Lalu satu mata kepiting itu di potong dengan gunting yang lebih dahulu dipanaskan (dibakar), agar lukanya cepat kering dan tidak mengeluarkan banyak cairan. Selesai ablasi, kepiting di rendam sementara didalam ember yang diisi larutan PK  3 ppm agar tidak infeksi. Setelah di desinfeksi selama 5 menit, kepiting  dikembalikan ke dalam kandangnya /kotaknya . Pemeliharaan selanjutnya , berupa pemberian pakan dan pengaturan pengairannya agar menjamin kepiting calon induk tsb. hidup optimal.

Biasanya setelah 3 hari , telur didalam gonadanya sudah mulai tumbuh dan 7 hari  gonada sudah berkembang penuh.  Tandanya dapat dilihat di bagian belakang tubuhnya di batas antara karapas dengan abdomen yang terlipat itu , mengembang dan berwarna merah -jingga.  Maka kepiting ini harus segera di panen dan dijual kepada pemesan.

Kepiting yang bertelur ini sebenarnya merupakan calon induk yang dapat dipelihara di Panti Pembenihan agar menghasilkan anak-anak kepiting. Yaitu sebelum di ablasi , lebih dahulu dikawinkan, agar betina ini mendapat sperma dari pejantannya un tuk fertilisasi telur-telurnya.  Namun karena tujuannya untuk konsumsi  di restoran, maka tidak perlu dikawinkan lebih dahulu.

Hal yang perlu dijaga oleh setiap petani yang memelihara kepiting, terutama untuk eksport, haruslah menjaga agar anggota badan (kaki-kaki, japit, dll) tidak putus. Karena anggota tubuh yang cacat akan menurunkan nilai jualnya.


Jadi Pada Prinsipnya dalam Usaha Budidaya Kepiting bakau ini, Ada 4 metoda budidaya kepiting  menurut  Produk yang dihasilkan , yaitu 
1.       Pembesaran dari benih menjadi kepiting  ukuran konsumsi.
2.       Penggemukan : kepiting jantan betina  agar menjadi lebih gemuk, harga meningkat
3.       Produksi kepiting cangkang lunak.
4.       Produksi kepiting bertelur. 


Lama pemeliharaan, pada no. 1 , 1-2 bulan , tergantung ukuran benih di awal pemeliharaan dan ukuran permintaan pasar/konsumen.

Pada no:2 ,  hanya 3-4 minggu. Pada no: 3,  3-4 minggu  Pada no:4 , 3 minggu sampai 1 bulan.
a.  Wadah  pemeliharaan  ada beberapa macam. Yang paling baik hasilnya ialah system Baterei,  berupa kotak dari bambu yang disekat-sekat  menjadi kotak-kotak kecil ukuran 30 cm2, masing-masing untuk wadah  satu ekor kepiting. Dengan kotak- kecil ini kepiting lebih aman terhadap kanibaisme , ketika sedang dalam kondisi ganti kulit. Sehingga wadah semacam ini menghasilkan derajat kehidupan 95-100%. 

b.  Wadah  berupa jaring apung, dapt digunakan , dengan ukuran 2,5 x 2,5 x 1 m  dipasang pada perairan  umum , diberi jngkar agar tidak terhanyut oleh arus.    Bila dipelihara jantan atau betina saja  secara terpisah, akan dapat mengurangi kanibalisme.

c.   Tambak bekas memlihara udang dan bandeng, dapat di sekat-sekat dengan  kerei bambu yang di tancapkan  20=30 cm kedalam Lumpur  agar kepiting tidak lolos.  Di bagian tengah kotak di beri pelataran tanah yang lebih tinggi , agar kepiting mencari makan. Sedangkan caren keliling yang agak  dalam ( 30-50 cm) kepiting dapat berteduh.    Pemeliharaan ini untuk pembesaran  dan /atau penggemukan kepiting. Hasilnya  mortalitas mencapai 10-20 % karena kanibalisme.

d.  Pemeliharaan kepiting didalam pagar (pen culture) dengan pagar bambu itu dapat juga dipasang pada teluk yang dangkal. Biasanya kepiting  sebagai benih (diawal pemeliharaan sudah cukup besar (100-150 gram)  agar menjadi gemuk sebelum di jual. 

e.  Wadah pemeliharaan berupa bak dari semen seperti di dalam Panti Pembenihan yang biasanya untuk udang, baik untuk memelihara kepiting calon induk sampai mengandung telur tingkat 2, tetapi tidak sampai memijah.  Ini perlu rangsangan  pengembangan telur /gonada dengan cara  ablasi mata, seperti diterangkan pada Materi Pokok 2. Disini hanya dipelihara kepiting betina saja, pejantan tidak diperlukan  karena yang berproduksi telur hanya yang betina saja. Bila dicampur jantan, malahan bisa  menyebabkan lebih banyak kematian karena kanibalisme.  

Budidaya (pemeliharaan kepiting) kesemuanya memerlukan pemberian pakan  yang harus diberikan secara cermat. Pakan harus  mencukupi dosisnya yaitu 5-10 % berat kepiting yang dipelihara seluruhnya ( biomassa) per-hari, diberikan 2 kali sehari.   Pakan harus dari bahan yang mudah didapat dan harganya tidak mahal, seperti, ikan rucah, kotoran dari penyembelihan hewan, sisa-sisa makanan dari restoran. Bila harga pakan  mahal misalnya pelet, tentu tidak menguntungkan bagi petani. 

Cara pemanenan kepiting dapat secara serentak (panen total) yaitu mengeringkan seluruh tambak tempat pemeliharaan kepiting.  Atau panen secara selektif, bial menggunakan system baterei, dimana kepiting yang bercangkang lunak  di panen. Yang lain, dipelihara lebih lanjut sampai ganti kulitnya.  

Cara panen sebagian (selektif) juga dilakukan untuk kepiting bertelur. Yang sudah mengandung telur saja yang dipanen.  Penanganan kepiting setelah dipanen haruslah dilakukan secara cermat supaya tidak mematahkan kaki-kakinya. Kepiting yang cacat, nilai jualnya akan menurun.  

Kepiting yang dipelihara didalam petak tambak yang diberi berpagar, waktu air surut, air didalam petak juga di surutkan sampai tinggal 20 cm. Ketika pasang naik, air di masukkan melalui pintu air, kepiting akan berenang menentang arus air laut yang mengalir masuk. Ini memudahkan pengumpulan kepiting yang berenang menentang arus air itu. Sifat  yang berenang menentang arus ini disebut “rheotaxis”. 

Kepiting yang ditangkap segera diikat secara sistematik dengan cara ikatan yang benar  agar kaki  atau capit tidak patah.  Hanya orang yang sudah terampil melakukan pengikatan yang berhasil mengerjakannya.  Karena itu para peserta kursus harus  berlatih mengikat kepiting dengan benar.

Pengangkutan jarak dekat, sampai 2-3 jam perjalanan, kepiting yang sudah diikat dengan benar, digantungkan terbalik dimasukan ke dalam kotak, sepanjang perjalanan harus dipercik dengan air payau, agar tetap basah. Metoda pengangkutan ini dapat berhasil hidup 90 % atau lebih.  



Keterangan
Postingan ini di maksudkan sebagai bahan pengetahuan  teori dasar bagi para pelaku utama , Pengusaha dan para pemerhati  budidaya Kepiting. Kemungkinan besar para pembaca  sama sekali belum pernah belajar yang mendalam tentang   Budidaya Perikanan pada umumnya dan budidaya kepiting bakau pada khususnya.  Namun demikian, para pembaca dan pengguna ini mempunyai minat yang cukup terhadap budidaya perikanan. Oleh karena itu  Artikel ini sebagai pengetahuan dasar, haruslah di pelajari dan dipahami secara sungguh-sungguh sebelum yang bersangkutan memulai  melakukan budidaya kepiting bakau.  Tanpa mempelajari teori sebagai dasar, kiranya mustahil, seseorang akan dapat memulai usaha budidaya kepiting ini.  

Juga setelah pelaku budidaya dan pengusaha, memulai usaha ini, tentu secara terus menerus mengingat dasar pengetahuan ini dan juga harus mengikuti  perkembangan  dan kemajuan tehnologi yang mungkin terjadi dikalangan para pelaku utama budidaya kepiting yang lain dan para peneliti serta akademisi yang pasti melakukan penelitian di bidang budidaya kepiting. 

Sangat di anjurkan agar para pelaku budidaya kepiting , mengikuti perkembangan tehnologi budidaya kepiting yang lebih mutahir, yaitu dengan cara menyimak tulisan/publikasi baik berupa karya-karya tulis, seminar, diskusi,  maupun publikasi dari media elektronik (inter net)  baik siaran yang bersumber di dalam maupun di luar negeri.  

Demikianlah , petunjuk singkat ini  merupakan pengetahuan awal untuk budidaya kepiting yang merupakan rangkuman dari berbagai   hasil penelitian para  peneliti/ cendekiawan bidang perikanan yang publikasinya  tersebar di berbagai perpustakaan, sehingga ini memudahkan para pemula dalam menimba ilmu khususnya budidaya Kepiting.  Semoga Karya tulis ini  dapat bermanfaat untuk perkembangan pembangunan Perikanan khususnya Budidaya Perikanan , lebih khusus lagi Budidaya


Untuk diketahui sebagai tambahan
Tambahan  1
1.       Tubuh kepiting berkulit/ bercangkang keras terdiri dari zat khitin. Kulit keras itu menghambat pertumbuhan, karena itu Kepiting secara periodic  berganti kulit, untuk mendapat kesempatan membesarkan tubuhnya. Bentuk tubuh kepiting tambak dari bagian dorsal (atas) berupa karapas yang membulat , sedangkan bagian kepala dada dan organ tubuh bagian dalam seperti alat pencernaan makanan, alat reproduksi , dsb. berada di dalam/ tertutup oleh karapas tsb. Bagian abdomen berupa segitiga terbentuk dari beberapa ruas , melipat erat dibawah ( bagian ventral) dari tubuhnya. Kaki jalan ke-1 berbentuk capit yang besar . kaki-kaki jalan no 2,3,4 berujung runcing berfungsi untuk berjalan; pasangan kaki jalan nomer 5 , berupa kaki dayung. 

2.   Pada kepiting jantan abdomen berbentuk segitiga yang sempit; pada betina berupa segitiga yang melebar.  Pada betina kaki-kaki renang berbulu sebagai tempat melekatnya telur-telurnya setelah dibuahi, dan yang sedang dieramkan. Pengeraman telur lamanya 10-12 hari , dilakukan olrh induk betina.

3.   Tempat hidup atau habitat kepiting bakau ialah wilayah perairan estuaria  yaitu hutan bakau, tambak , saluaran dan sungai sampai laut dekat pantai yang berair payau. Adapun wilayah penyebarannya  meliputi perairan pantai didaerah Indo-Pasifik, dari pantai timur benua Afrika, sampai kepulauan Polynesia, dari pulau-pulau di Jepang bagian selatan sampai pantai utara benua Australia. 

4.  Kepiting melakukan perkawinan di perairan estuaria sampai di laut. Telur setelah dibuahi , ditempelkan pada umbai-umbai (bulu-bulu kaki renang dibawah abdomen induk betina. Lama pengeraman telur 10-12 hari, menetas menjadi Pre-zoea yang setelah 30 menit, berubah menjadi Zoea-1 yang hidup planktonis dan makanannya terdiri fitoplankton : Chaetoceros sp. , Tetraselmis sp.  dan zooplankton yang ukurannya lebih kecil-kecil : Brachionus sp. dan nauplii Artemia.. Zoea bermetamorfosa setiap 3-4 hari untuk ber-turut-turut menjadi Zoea-2, Zoea-3, Zoea-4 dan Zoea -5. Total lamanya 18-20 hari, berubah menjadi stadia Megalopa. Megalopa berumur 5-7 hari berubah menjadi Crablet , yaitu benih kepiting kecil yang organ tubuhnya sudah menyerupai kepiting besar. Crablet berganti kulit setiap 4-7 hari berganti kulit dan tumbuh menjadi berukuran lebih besar. Pada umur 50-70 hari Crablet sudah dapat di jual sebagai benih kepiting untuk di deder ditempat yang lebih luas. 

5.      Benih kepiting yang dihasilkan di Panti Pembenihan berupa stadia Crablet berukuran 2-5 cm ( pada umur 50-70 hari)  untuk di pelihara di tempat pembesaran hingga bebrapa bulan lamanya menjadi kepiting ukukuran konsumsi dengan berat  150-200 gram atau lebih.  Namun sementara ini, benih kepiting   hasil tangkapan dari alam, telah berukuran  berat 30-50 gram . yang juga dijadikan benih dari awal pemeliharaan pembesaran menjdai kepiting ukuran konsumsi. 


Tambahan  2
  1. Calon induk dan induk kepiting dapat diperoleh dari hasil penangkapan di alam. Dengan syarat , anggota badannya utuh tidak ada cacat dan tidak ada penyakit. Calon induk dan induk kepiting  dipelihara  didalam bak-bak  didalam Panti Pembenihan.
  2. Pematangan gonad dilakukan dengan tehnik ablasi satu mata pada kepiting betina . Tehnik ablasi ini mendorong mempercepat proses pematangan gonad pada binatang Krustasea pada umumnya (termasuk udang dan Kepiting). Selain itu, agar proses pematangan gonad berhasil sempurna, harus juga di barengi dengan pemberian pakan yang bernilai gizi sesuai dengan kebutuhan kepiting , dan pengelolaan kualitas air yang sesuai. Telah diketahui juga bahwa bak pemeliharaan induk harus diberi dasar Lumpur agar perkembangan gonad menjadi baik ( telur yang dihasilkan banyak dan kemampuan pertumbuhan larva akan baik).
  3. Induk kepiting  setelah diablasi dipelihara di dalam bak yang di beri  dasar lapisan Lumpur , kedalaman air 50-80 cm diatas lapisan Lumpur , cukup aerasi dengan 1 batu aerasi per –m2 . Pakan berupa daging cumi-cumi , ikan , kekerangan yang segar dengan dosis ransum 5-10% berat  biomassa per-hari yang diberikan 2 kali pagi dan sore. Untuk kelengkapan gizi, dapat diberi pelet kering berkualitas seperti untuk induk udang windu ( kadar protein 40%), sebanyak 2-3 % biomassa per-hari dan diberikan 2-3 kali per-minggu.
  4. Pada Panti Pembenihan, Zoea-1 sampai Zoea 5 diberi pakan  berupa fitoplankton (Chaetoceros sp . dan  Tetraselmis sp.) dan zooplankton (Brachionus sp. dan nauplii Artemia sp.) semuanya disediakan  sebagai kultur di dalam Panti Pembenihan. Stadia Megalopa  ukuran lebih besar dan bersifat lebih agresif dan kanibal. Agar mengurangi kematian akibat kanibalsme, bak perlu diberi tempat persembunyian berupa  potongan jaring-jaring bekas atau tali rafiah yang dibuat ikatan dan pemberat agar tenggelam sampai dasar bak.  Megalopa pakan  berukuran lebih besar , maka diberikan Artemia yang ditetaskan umur 5 hari banyaknya pakan sekenyangnya. Setelah Megalopa umur 10 -12 hari akan berubah menjadi Crablet (benih kepiting). Sifatnya hidup didasar  (bentik). Pakan berupa  cacahan daging ikan, udang atau kerang yang di blender. Sampai kenyang. Umur 50-70 hari  benih kepiting dapat dijual untuk dipelihara di pendederan dalam kolam tanah (tambak) atau didalam hapa yang dipasang di dalam petak tambak.
  5. Penanggulangan penyakit diutamakan dengan cara memelihara kebersihan bak dan ruang dan lingkungan Panti Pembenihan. Penularan dari luar di cegah dengan pelaksanaan Cara Budidaya yang Baik  dan Bio security. Pemakaian anti biotika telah dilarang penggunaannya karena akan bersifat mengendap didalam Lumpur dan beberapa menyebabkan kanker pada manusia. Dianjurkan pemakaian bahan kimia sebagai disinfeksi yaitu merendam benih dan kepiting yang baru didatangkan dari luar  denga larutan PK 2-3 ppm selama 10-15 menit untuk membunuh organisme pemyakit seperti bacteria, jamur, protozoa. Atau sebagai disinfektan juga dapat dipakai larutan formalin 100-200 ppm selam 15-20 menit.

Tambahan 3
1. 4 macam cara budidaya Kepiting dibedakan menurut tujuan produksi yang akan dihasilkan , yaitu : 
  1. Pembesaran   : dari benih menjadi kepiting ukuran konsumsi (200gram atau lebih)
  2. Penggemukan   : kepiting  yang masih ukuran cukup besar 100-150 gram, dipelihara  3-4 minggu menjadi  kepiting berat 200-300 gram atau lebih, agar harga jualnya lebih tinggi.
  3. Produksi kepiting cangkang lunak (kepiting soka), dari kepiting yang berukuran sudah besar  untuk menjadi kepiting yang baru ganti kulit (berkulit lunak). Masa pemeliharaan 3-4 minggu. 
  4. Produksi kepiting bertelur .  Kepiting betina berukuran 150-200 gram dipelihara kira2 1 bulan , dirangsang perkembangan gonadanya dengan cara ablasi mata, ditunggu 1-2 minggu pasca ablasi agar gonada berkembang . Gonad yang berkembang dapat dilihat dari celah belakang karapas yang berwarna merah dan nampak menggembung penuh telur.

2. Wadah  pemeliharaan 
  1. Wadah  pemeliharaan  ada beberapa macam. Yang paling baik hasilnya ialah system Baterei ,  berupa kotak dari bambu yang disekat-sekat  menjadi kotak-kotak kecil ukuran 30 cm2, masing-masing untuk wadah  satu ekor kepiting. Dengan kotak- kecil ini kepiting lebih aman terhadap kanibaisme, ketika sedang dalam kondisi ganti kulit. Sehingga wadah semacam ini menghasilkan derajat kehidupan 95-100%. 
  2. Wadah  berupa jaring apung, dapt digunakan, dengan ukuran 2,5 x 2,5 x 1 m  dipasang pada perairan  umum, diberi jngkar agar tidak terhanyut oleh arus.    Bila dipelihara jantan atau betina saja secara terpisah, akan dapat mengurangi kanibalisme.
  3. Tambak bekas memlihara udang dan bandeng , dapat di sekat-sekat dengan  kerei bambu yang di tancapkan  20=30 cm kedalam Lumpur  agar kepiting tidak lolos.  Di bagian tengah kotak di beri pelataran tanah yang lebih tinggi, agar kepiting mencari makan. Sedangkan caren keliling yang agak  dalam ( 30-50 cm) kepiting dapat berteduh. 
  4. Pemeliharaan ini untuk pembesaran  dan /atau penggemukan kepiting. Hasilnya  mortalitas mencapai 10-20 % karena kanibalisme.
  5. Pemeliharaan kepiting didalam pagar (pen culture) dengan pagar bambu itu dapat juga dipasang pada teluk yang dangkal. Biasanya kepiting  sebagai benih (diawal pemeliharaan sudah cukup besar (100-150 gram)  agar menjadi gemuk sebelum di jual. 
  6. Wadah pemeliharaan berupa bak dari semen seperti di dalam Panti Pembenihan yang biasanya untuk udang , baik untuk memelihara kepiting calon induk sampai mengandung telur tingkat 2 , tetapi tidak sampai memijah.  Ini perlu rangsangan  pengembangan telur /gonada dengan cara  ablasi mata, seperti diterangkan pada Materi Pokok 2.  Disini hanya dipelihara kepiting betina saja , pejantan tidak diperlukan  karena yang berproduksi telur hanya yang betina saja. Bila dicampur jantan , malahan bisa  menyebabkan lebih banyak kematian karena kanibalisme.


3.  Sampai saat ini Bebeapa hal yang Mungkin di  lakukan di Indonesia.
Kendalanya ialah kekurangan benih karena belum ada usaha Panti Pembenihan kepiting Bakau dan selama ini hanya diperoleh dari penangkapan di alam. Juga karena pakan untuk pembesaran kepiting  yang terutama terdiri dari ikan rucah, tidak selalu mudah diperoleh dan persaingan dengan keperluan konsumsi lain.



Sumber Referensi:
Kementerian Kelautan dan perikanan
Badan pengembangan sumberdaya Mnusia kelautan dan perikananan
Pusat penyuluhan kelautan dan perikanan
Selanjutnya Baca juga


Demikian semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan
selamat mencoba dan terima kasih
Demikian selamat mencoba, semoga postingan ini bermantaat dan dapat membantu sebagai tambahan atau wawasan.....