Pages

Showing posts with label RUMPON. Show all posts
Showing posts with label RUMPON. Show all posts

Saturday, June 9, 2012

MENGENAL RUMPON

Rumpon  merupakan salah perlengkapan dalam istilah perikanan tangkap khususnya penangkapan ikan yang dalam kurun waktu yang belum lama dan banyak digunakan oleh para nelayan baik skala kecil maupun besar. Pancing tegak dapat ditemui di wilayah perairan dalam.  Terutama di sekita rumpon  laut dalam.  Daerah penangkapannya terletak pada alur ruaya ikan-ikan pelagis besar. 

Postingan ini menjelaskan seluk beluk rumpon Mulai Yang terdiri sari:

Tujuan penulisan dalam postingan ini adalah memberi informasi teknologie yang berkaitan dengan penangkapan Ikan  di Laut dengan Sarana Prasarana Rumpon, pancing tegak.

PENGENALAN RUMPON
Didalam  Melakukan Metoda penangkapan yang mendasari teknologi penangkapan ikan, terdapat empat faktor utama yang harus anda pahami, yaitu:
1.       Ikan apa yang hendak ditangkap (Biologi Ikan), 
2.       dimana ikan akan ditangkap (fish ground),
3.       bagaimana sifatnya (fish behaviour)
4.       dan berapa jumlah yang akan/boleh ditangkap (stock assessments dan kelestarian). 

Dari keempat faktor di atas, fish ground merupakan faktor penentu dalam menentukan keberhasilan penangkapan ikan, tanpa mengetahui fish ground ikan yang menjadi tujuan daerah penangkapan adalah pekerjaan menangkap ikan yang sia-sia. 

Fishing  ground di alam merupakan suatu lingkungan kehidupan yang disukai ikan untuk berkumpul.  Berbagai faktor yang menyebabkan ikan mau berkumpul di lingkungan yang sesuai untuknya, yang dapat dipelajari pada mata kuliah biologi perikanan. 

Secara umum ikan akan berkumpul yaitu:
1.       Pada saat makan,
2.       saat hendak memijah,
3.       dan saat bermigrasi (tuna adalah ikan yang bersifat higly migratory).

Sebuah pertanyaan yang selalu menggelitik para nelayan adalah bagaimana menangkap ikan yang paling mudah.  Jawabannya sederhana mungkin “jawaban bodoh” adalah menangkap ikan yang sedang “ngumpul” dan syukur-syukur “diem”.   Pernyataan “ngumpul dan diem” inilah yang memacu para nelayan berupaya mengumpulkan ikan dengan berbagai cara.  Cara yang sudah lama kita kenal adalah dengan menggunakan rumpon (fish agregate device) dan menggunakan atraksi cahaya.  

Mencari fish ground alam bukan pekerjaan mudah. Contoh yang paling sederhana adalah pada penangkapan ikan kembung dengan menggunakan payang tradisional,  kumpulan ikan hanya dapat diketahui oleh para nelayan yang sudah berpengalaman, atau berdasarkan pengetahuan yang diturunkan dari orang-orang tua mereka, bahkan tidak jarang dibarengi dengan mistis.  Contoh pada perikanan modern, bagaimana hunting purse seiner “around the ocean, by day, by weeks, even by month” hanya untuk mencari dan mengejar kumpulan-kumpulan ikan tuna yang sedang bermigrasi.


Di Indonesia penelitian-penelitian tentang keempat hal tersebut di atas terutama mengenai ikan-ikan yang hidup di kawasan perairan Indonesia boleh dikatakan masih langka.  Banyak data yang masih tersimpan di benak-benak para nelayan, para fishing master dan nakhoda kapal penangkap ikan bahkan perusahaan perikanan.  Indonesia sudah mencoba suatu langkah yang didasarkan pada teknologi penginderaan jarak jauh (Indrajah, remote sensing) sehingga mampu memantau perubahan suhu dan kandungan klorofil di permukaan laut hampir diseluruh perairan Indonesia. 

Namun demikian perlu diingat bahwa, teknologi ini didasarkan pada pendeteksian perubahan suhu permukaan dan pergerakan air laut, sehingga untuk menentukan suatu fishing ground diperlukan data pendukung utama, yaitu data (insitu) hasil tangkapan.  Data inilah yang sulit diperoleh selain untuk melakukan penelitian yang demikian memerlukan biaya yang tidak sedikit dimana kita (Indonesia) belum banyak memilikinya.   Data indrajah dapat diperoleh setiap saat, namun data hasil tangkapan kontinuw dari waktu ke waktu pada fishing ground yang sama masih menjadi pertanyaan besar.   

Secara nasional Indonesia (dalam hal ini Departemen Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perikanan telah menerapkan Proyek Fishing Log Book) dimana data hasil tangkapan di berbagai tempat pendaratan ikan dan kapal-kapal penangkap “diharapkan” dapat dicatat.  Selain itu Indonesia telah lama mengenal teknologi pendeteksian bawah air (Underwater fish detection devices). Dari hanya untuk memperkirakan kedalaman perairan hingga sekarang dapat digunakan untuk memprediksi baik karakteristik  perairan maupun biotanya.  Data hasil pendeteksian fish finder diproses dengan menggunakan program analisis seperti EP 500 pada komputer PC sederhana, atau secara life video sehingga dapat diprediksi jumlah densitas per spesies dan ukuran per ekor, berdasarkan layer tertentu dari dasar laut hingga ke permukaan dan kawasan, bahkan kecepatan dan arah pergerakan (schooling maupun individu), berdasarkan ukuran layer.  Mungkin suatu saat berbagai upaya di atas akan dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan suatu daerah penangkapan ikan tertentu pada waktu tertentu dan tersedia secara kontinu sekaligus “dapat dipahami dan mudah serta disukai” oleh para nelayan.

Berbicara mengenai fishing ground, tidak boleh terlepas dari berbagai kondisi perairan yang dinamis, kitapun harus memahami physical oceanography-nya, harus mengetahui kondisi dasar perairannya, dan lain sebagainya semua faktor alam yang mempengaruhi teknologi penangkapan ikan, seperti arus, angin, musim, gelombang, dll.).  Kondisi fisik daerah penangkapan akan sangat mempengaruhi Teknik Penangkapannya (fishing technique), Kapal Penangkap (fishing vessel), Disain Alat Penangkap Ikan (fishing gear design), Perlengkapan Kapal Penangkap Ikan (fishing equipment), Perlengkapan Komunikasi (communication equipment),  Perlengkapan Navigasi (navigational equipment), Kualifikasi dan kualitas SDM (fishing master, nakhoda, dan anak kapalnya), Biaya Operasional (bahan bakar, pelumas, bahan makanan, hak dan jaminan sosial bagi awak kapal seperti: gaji, premi, asuransi, sakit, bahkan keluarga yang ditinggalkannya), hingga manajemen. 

Ikan pada umumnya adalah predator, yang besar memakan yang lebih kecil, yang paling kecil memakan crustacea, crustacea memakan plankton.  Sehingga pada salah satu mata rantai makannya adalah sangat tergantung dengan adanya unsur hara, chlorophyl dan sinar matahari menciptakan proses photosintesanya. 

Indonesia memperoleh sinar matahari sepanjang tahun. Hampir seluruh pulau-pulau besar memiliki sungai yang mengalirkan “bahan unsur hara, yang belum terdekomposisi..??”, pada kenyatanya, dengan terjadinya penggundulan hutan, maka yang dialirkan adalah sampah hutan dan endapan lumpur.  Diperparah lagi dengan hampir punahnya hutan mangrove dimana terciptanya awal rantai makanan biota laut.  Dengan kata lain sebesar apapun ikan di samudra sana, makanannya berawal di mangrove.   Belajar dari phenomena ini maka terciptalah fish ground buatan.  Awalnya rumpon dibuat untuk menghasilkan unsur hara ditengah laut dari daun kelapa yang membusuk, kemudian terciptalah photosintesa, berlanjut dengan tumbuhnya phitoplankton, zoo plankton, berkumpul pula crustacea, dan biota  laut tingkat tinggi yang berukuran makin besar dan makin besar akibat adanya sifat predator. 


Kita mengenal dua jenis fish ground,
1.       pertama adalah fish ground alami,
2.       dan kedua adalah fisih ground buatan. 

Fish ground alami adalah fish ground yang sudah ada di laut. 
Sedangkan fish ground buatan adalah fish ground yang diciptakan oleh manusia yang dibuat semirip mungkin dengan fish ground alami, yang dikenal dengan rumpon (Fish Aggregate Devices; FAD).  


Ditinjau dari konstruksi dan lokasi pemasangannya rumpon dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1.       rumpon dangkal
2.       dan rumpon laut dalam.

Dewasa ini, dengan diciptakannya alat pendeteksi bawah air (fish finder) yang cukup terjangkau harganya.  Rumpon tidak lagi dibuat untuk menciptakan rantai makanan, tapi rumpon dimanfaatkan sebagai attractor di fish ground yang telah diketahui melalui fish finder. 


Ditinjau dari segi pengoperasiannya dibagi menjadi dua pula, yaitu :
1.       Rumpon tidak tetap (rumpon kenvensional yang berasal dari Tegal, Pekalongan, dan sekitarnya),
2.       Rumpon tetap (rompong di Sulawesi dan payaos dari Filipina). 


Sedangkan ditinjau dari segi bahan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
1.       Rumpon yang terbuat dari bagian tumbuhan.
2.       Rumpon yang terbuat bukan tumbuhan
3.       Rumpon yang terbuat dari gabungan bagian tumbuhan dan bukan tumbuhan 


Fishing ground buatan :
Fishing ground buatan adalah suatu metoda bagaimana mengumpulkan ikan dengan menciptakan suasana atau lingkungan yang mirip dengan habitat asli dari jenis ikan yang hendak dikumpulkan. Pemilihan bahan untuk rumpon didasarkan pada penciptaan kondisi lingkungan tersebut.  Salah satunya untuk menciptakan rantai makanan.  Rantai makanan dibagi dalam dua proses.  Proses pertama menciptakan rantai makanan (food chain) yang akan menghasilkan kelimpahan zooplankton dan macronekton.  Proses kedua adalah menciptakan berlangsungnya hukum alam pada kehidupan ikan yaitu sifat predator (ikan besar memakan ikan yang kecil).  Pada proses yang kedua inilah yang diharapkan terjadi pengumpulan berbagai jenis dan ukuran ikan, dimulai dari ikan-ikan kecil hingga yang lebih besar secara bertahap.  Bila diperkirakan telah berkumpul ikan-ikan dalam jumlah yang banyak maka fungsi rumpon telah tercipta dengan baik. 


Rumpon Buatan dari Bagian Tumbuhan Proses dekomposisi pada tumbuhan yang direndam di air laut hingga menghasilkan makanan yang diperlukan melalui beberapa tahapan.

1. Tahap pertama: Proses pembusukan (dekomposisi) tumbuhan (chlorophyll) akan menumbuhkan diatomeae.

2. Tahap kedua: Melimpahkan diatom yang sangat diperlukan sebagai makanan bagi phytoplankton.
3.  Tahap ketiga:  Terkonsentrasinya phytoplankton yang merupakan makanan utama bagi zooplankton.  (Phytoplankton dan zooplankton telah ada melimpah di seluruh lapisan perairan laut yang dapat cepat berkembang biak).  

Setelah melimpahnya zooplankton maka akan mengundang ikan-ikan kecil untuk berkumpul dan memakannya.   Pada tahapan ini terjadilah proses kedua yaitu, penciptaan kondisi lingkungan  dimana ikan besar memakan ikan kecil.  Sekaligus memberikan perlindungan kepada ikan kecil untuk tidak dimakan secara langsung oleh ikan-ikan besar.   Sifat perlindungan rumpon terhadap ikan kecil ini ditujukan untuk memperpanjang waktu sehingga ikan-ikan dari berbagai jenis dan ukuran dapat lebih banyak berkumpul dalam jumlah yang besar.  Ilustrasi rumpon koonvensional beserta komponennya disaji pada gambar di bawah ini


 gambar 2.1 dan 2.2
gambar 1.1. Rumpon Buatan Konvensional



 Gambar 1. 2 Komponen rumpon konvensional

PERSYARATAN:
1.       Tumbuhan harus yang mengandung banyak chlorophyll dan segar (bukan kering).
2.       Harus dapat cepat membusuk dan tahan lama (sekitar 15 hari) atau lebih (beserat memanjang dan liat).
3.       Harus dapat menciptakan lingkungan yang teduh (untuk berlindung dari biota yang tingkatnya lebih tinggi dan sinar matahari langsung).
4.       Mudah diangkat, diperbaharui, dipindah dan murah harganya.    


Rumpon Buatan dari Bahan Bukan Tumbuhan Proses pengumpulan ikan di rumpon sama dengan yang dijelaskan di atas, hanya saja ada perbedaan proses yang terjadi pada rumpon yang terbuat dari bahan bukan tumbuhan. 

Rumpon yang terbuat dari tumbuhan tidak mampu bertahan lama (15 hari), sehingga diperlukan perbaikan, penambahan atau penggantian rumpon yang mengakibatkan pemborosan waktu, dan biaya yang berefek pada non efisiensi.   Proses siklus rantai makanan dan siklus kehidupan biota laut dari rumpon non tumbuhan (Gambar 113 – 115) adalah  bersumber dari food chain dan coral life  cycle,  yaitu memberikan tempat tumbuh atau menempel biota karang sesuai dengan tingkat yang paling rendah hingga tingkat tertinggi dalam proses pembentukan lingkungan karang yang diupayakan untuk menciptakan habitat dari jenis ikan tertentu.

Rumpon laut dalam dapat dipasang pada kedalaman antara 270 – 3.700 m, dengan berbagai disain mulai dari pelampung bambu, drum, pontoon besi, pontoon alumunium, dan fiber glass. 

Perkembangan FAD dengan berbagai keberhasilannya dalam menarik perhatian ikan untuk berkumpul dalam jumlah besar, telah mempengaruhi seluruh tingkat perikanan, tidak hanya perikanan artisanal atau subsistence, dapat meningkatkan hasil tangkap dan dapat melakukan penangkapan harian (one day fishing) juga  perikanan komersil dapat meningkatkan hasil tangkapannya dengan tajam, leisure fishing hampir setiap hari dapat menangkap ikan.  


FAD juga dapat mengurangi konsumsi bahan bakar, dengan mengurangi waktu pencarian (searching time) ikan, ikan-ikan besar yang berada di bawah rumpon dapat ditangkap dengan hand line sementara kapal drifting (Shomura, et al., 1982).  Rumpon jenis demikian ditampilkan pada gambar 2.3.


PERSYARATAN:
Secara teknis material apapun yang direndam di air laut merupakan media tumbuh atau tempat menempelnya biota karang.  Namun tujuan pembuatan rumpon ini tidak terlepas dari persyaratan harus mudah ditangani, mudah dipindah atau mudah diperbaiki,  sehingga dihindarkan bahan-bahan non tumbuhan yang tidak mudah korosif, dan aerodinamis.   


Gambar 1. 3  Rumpon Buatan dari Bahan Bukan Tumbuhan


  Gambar 1. 4 Rumpon Buatan dari Bahan Tumbuhan dan Bukan Tumbuhan


Rumpon untuk Menangkap Nener Ikan bandeng
adalah jenis ikan yang dapat hidup di dua perairan yang berbeda kadar garamnya, yaitu perairan laut dan perairan payau.  Saat akan memijah bandeng pergi ke perairan laut yang memiliki kadar garam tinggi, dan  saat ikan akan beranjak dewasa bandeng akan berpindah ke air payau, diawali  dari bandeng masih berbentuk burayak (nener).   Burayak akan beruaya mencari air yang berkadar rendah dengan menelusuri tempat-tempat terlindung pada tepian pantai, atau sungai. Dewasa ini bandeng dapat dibudidayakan di tambak air payau.  Namun benihnya ditangkap dari alam dengan menggunakan rumpon.  Rumpon paling sederhana yang terbuat dari jalinan daun pisang kering ini dipasang memotong alur ruaya nener dengan tujuan memberikan perlindungan buatan.  Gambar 192 berikut mengilustrasikan bagaimana seorang nelayan menangkap burayak bandeng di tepian pantai.


1.5. Ikan-ikan yang Tertarik pada Rumpon
Rumpon memikat berbagai jenis ikan pada berbagai kedalaman bedasarkan musim sepanjang tahun.    Ikan-ikan tuna berukuran kecil biasanya mengelompok di dekat permukaan.  Tuna yang lebih besar seperti Madidihang (Yellowfin tuna), tuna mata besar (bigeye tuna) dan albakora (Albacore)  umumnya mengelompok didekat rumpon pada kedalaman 50 meter hingga 300 meter, terkadang juga berada di dekat permukaan khususnya pada malam hari.  Ikan lainnya seperti lemadang (rainbow runner), marlin, cucut, layaran juga biasanya tertarik rumpon

 Gambar 1. 5  Ikan pelagis yang tertarik pada rumpon


Situs FAD terbaik tambat adalah daerah datar yang luas dengan kemiringan sedikit atau tidak ada. Daerah yang luas adalah penting karena, forreasons dijelaskan dalam bagian 2C, path sebenarnya jangkar dari keturunan selama penyebaran agak unpredict-mampu. Akibatnya jangkar mungkin berakhir beberapa ratus meter dari tempat pendaratan dimaksudkan. Flatareas sempit, lereng tajam, dan drop-off curam, semua meningkatkan potensi jangkar berakhir di kedalaman yang salah. Thiscould menyebabkan kerusakan tambat atau stres dan kegagalan premature


Penempatan Rumpon
Pemasangan rumpon memerlukan beberapa persyaratan, diantaranya adalah dasar perairan,

Dasar Perairan:
Kontur dasar perairan terbaik untuk menanamkan rumpon adalah dasar datar yang luas atau sedikit kemiringan. Daerah yang luas adalah penting karena, alur pergeseran jangkar saat diturunkan sangat tidak bisa diprediksi. Akibatnya mungkin jangkar terletak beberapa ratus meter dari tempat penanaman yang telah ditentukan


 Gambar 1. 7 Dasar perairan yang baik untuk menanamkan rumpon (Gate, 198)

Dasar rata yang sempit, slope yang sempit, lereng curam,  Flatareas sempit, lereng tajam, menyebabkan meningkatkan potensi penempatan jangkar yang keliru, menyebabkan terjadinya kegagalan.  Perhatikan gambar 1.6. Dasar laut datar atau landai juga akan membantu mencegah jangkar terseret ke kedalaman air yang dalam ketika terjadinya



 Gambar 1. 6  Dasar perairan

 tegangan geser rumpon akibat cuaca buruk. Dasar perairan yang berbentuk gunung yang curam, jurang laut, atau celah sempit harus dihindari, karena akan menyebabkan kegagalan prematur penanaman rumpon, misalnya akibat gesekan tali pada batu atau pegunungan. Rumpon bisa hilang atau bergeser jauh, jangkar bisa terseret ke dalam air yang lebih dalam, atau penanaman mungkin tidak berfungsi sesuai dengan desain yang direncanakan.  


Kedalaman: 
Rumpon yang ditempatkan di perairan dangkal kurang dari 500 meter umumnya tidak efektif mengagregasi tuna. Selain itu, biaya penanaman rumpon meningkat sebanding dengan kedalaman, karena semakin dalam semakin panjang tali tambat yang dibutuhkan.

Rumpon yang ditempatkan di perairan dalam, Rumpon yang ditanam pada kedalaman antara 1000 - 2000 m umumnya berfungsi dengan baik. Pada kondisi tertentu, bagaimanapun, mungkin perlu untuk menanamkan rumpon di kedalaman yang lebih besar

 gambar.Kisaran Kedalaman Penanaman Rumpon

Kondisi Laut dan Cuca:

Gambar Perairan yang berarus kuat

Berhati-hati, untuk menghindari wilayah perairan yang bercuaca buruk, dan laut yang terlalu bergelombang, untuk mengurangi nelayan untuk memperbaiki rumpon.  Pada kondisi seperti ini, biaya investasi akan tinggi dibanding denngan manfaat yang dihasilkannya. Perairan yang berarus kuat harus dihindari. Seperti juga cuaca buruk dan laut kasar, arus kuat akan meningkatkan ketegangan pada tali rumpon, menyebabkan komponen tali cepat rusak.  Ilayah ber arus deras sering terjadi di ujung pulau (tanjung), dan selat sempit di antara pulau-pulau yang berdekatan.    Jarak antar rumpon: Umumnya rumpon akan mengagregasi lebih efektif jika ditempak pada jarak sekitar 4 – 5 mil laut dari terumbu karang ke arah laut.   Jarak antar rumpon sekitar 10 – 12 mkil laut.  Jjarak ini cukup untuk menghindari interferensi dari karang dan rumpon lainnya  Tentu saja selalu ada pengecualian. Beberapa rumpon yang ditanam lebih dekat ke pantai telah berhasil mengagregasi ikan secara efektif. Wilayah yang memiliki dasar curam (slope) tidak mungkin untuk menanam rumpon pada jarak 4 atau 5 mil laut dari pantai karena terlalu dalam. Namun demikian, ketika memilih sebuah situs baru yang belum pernah diuji sebelumnya, bila memungkinkan gunakan jarak tersebut di atas.


 Gambar jarak rumpon

 Aksesebilitas dan Keselamatan:
Rumpon harus ditempatkan agar aman untuk dicapai dari pelabuhan.  Letak lokasi dan jarak dari pantai tergantung pada kondisi laut dan jarak operasi yang aman untuk perahu berukuran kecil.  Nelayan sangat berpengalaman mengenai faktor dan kondisi laut disekitarnya.   


 Gambar 1.11. Akses bilitas Rumpon
 
Umumnya untuk meningkatkan keselamatan dengan mengonsentrasikan rumpon pada suatau wilayah yang dikenal.  

 Jadi pada prinsipnya kita mengetahui bahwa:

1. Fish ground merupakan faktor penentu dalam menentukan keberhasilan penangkapan ikan, tanpa mengetahui fish ground ikan yang menjadi tujuan penangkapan adalah pekerjaan menangkap ikan yang sia-sia.

2. Fish ground terbagi menjadi dua jenis, pertama adalah fish ground alami, dan kedua adalah fish ground buatan

3. Ditinjau dari segi bahan, bahan rumpon dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
a.       Rumpon yang terbuat dari bagian tumbuhan.
b.      Rumpon yang terbuat bukan tumbuhan
c.       Rumpon yang terbuat dari gabungan bagian tumbuhan dan bukan tumbuhan   

4. Pemilihan bahan untuk rumpon konvensional adalah didasarkan pada penciptaan kondisi lingkungan yang mirip dengan kondisi lingkungan yang disukai oleh ikan.  Salah satunya untuk menciptakan rantai pertama makanan.  Rantai makanan dibagi dalam dua proses.  Proses pertama menciptakan rantai makanan yang akan menghasilkan kelimpahan zooplankton.  Proses kedua adalah menciptakan berlangsungnya hukum alam pada kehidupan ikan yaitu sifat predator.

5. Proses siklus rantai makanan dan siklus kehidupan biota laut dari rumpon non tumbuhan adalah bersumber dari coral life cycle, yaitu memberikan tempat tumbuh atau menempel biota karang sesuai dengan tingkat yang paling rendah hingga tingkat tertinggi dalam proses pembentukan lingkungan karang yang diupayakan menciptakan habitat dari jenis ikan tertentu.

6. Rumpon  telah mempengaruhi seluruh tingkat perikanan, mulai perikanan artisanal atau subsistence, perikanan komersil hingga leisure fishing sehingga dapat meningkatkan hasil tangkap secara tajam. 


 Sumber Referensi:
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Badan Pengembangan sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan
Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan



Baca Juga kelamjutannya:
Pemasangan Rumpon

Jangan Lupa supaya pekerjaan lebih nyaman tetap tersenyum, Tunjukan Kreasimu

Konstruksi Rumpon

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa Rumpon yang dikenal sebagai tempat untuk menemtukan dan memastikan bagi ikan untuk tetap berkumpul ditempatnya, ini memiliki Konstruksi. Adapun Konstruksi tersebut merupakan suatu model yang dapat ditentukan. Komponen rumpon secara umum terdiri dari, ponton dan komponen bagian atas, tali rumpon, rantai bawah dan jangkar.  Perhatikan skematik rumpan pada gambar 2.1


jangkar
Gunakanlah jangkar yang terbuat dari balok semen cor dengan berat sekitar 900 kg.  Tebal dan lebar balok cor seoptimum mungkin untuk meningkatkan efek cengkeram dasar perairan.  Jangkar yang berbentuk selin-der atau drum bekas oli yang diisi semen kurang baik, karena akan menggeser rumpon menjauh akibat efek cuaca dan kondisi laut.


gambar 2.1 Jangkar Rumpon



Rantai Bawah Rantai baja panjang 15 meter dengan diamter 19 milimeter digunakan untuk menghubungkan jangkar ke talii rumpon.  Penyambungan menggunakan segel berukuran sesuai, seperti tampak pada Gamar 2.2.


gambar 2.3.komponen atas tali
 
Tali Rumpon
Tali rumpon terdiri dari dua bagian.  Bagian atas dan bagian bawah.  Bagian atas diameter 19 mm 8 – 12 strand bahan Nylon.  Bagian bawah tali PE diameter 22 milimeter 8 atau 12 strand.  Bagian bawah yang mengapung (gambar 2.1 komponen lengkung) harus mempu mengapungkan tali bagian bawah dari dasar laut.  Tujuannya adalah untuk mengurangi gesekan dasar laut terhadap tali.  Sementara bagian bawah komponen atas terbuat dari wire
 
sehinggga akan membentuk lengung katenari (komponen lengkung).  Tujuannya agar tali pelampung tidak mengambang dan untuk memperpendek atau memperpanjang. Panjang tali rumpon 25% dari kedalaman air.  Panjjang ini cukup aman jika kedalaman laut lebih besar dari yang diperkirakan.  Ponton tidak tertarik secara vertikal dan jangkar tidak terangkat ika terjadi cuaca buruk. 


Gambar 2.4


Ponton Ponton (lihat gambar 2.3) dapat berbentuk kotak atai selinder, terbuat dari pelat besi dengan ketebalan 5 mm.  Keliling 150 cm dan diameter 60 cm untuk memasang bendera tanda.  Jika memungkinkan dipasangi lampu yang dapat menyala sendiri jika hari gelap dan radar reflector.. Ditengahnya dipasakkan pipa bulat.  Bagian pipa atas sepanjang 80 cm dan bagian 105 cm berfungsi untuk mengikatkan rantai atas komponen atas tali rumpon.


Jadi Pada Prinsipnya
  1. Komponen rumpon secara umum terdiri dari, ponton dan komponen bagian atas, tali rumpon, rantai bawah dan jangkar.
  2. Komponen lengkung sebaiknuya membentuk lengkung catenary.
  3. Bagian bawah tali atas berfungsi menenggelamkan tali atas, dan bagian atas tali bawah untuk mengapungkan komponen bawah tali rumpon.
  4. Setiap sambungan menggunakan segel dan swivel.

Sumber Refernsi:
Kementerian Kelauan dan Perikanan
Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan
Pusat Penyuluhan Perikanan Jakarta




Demikian semoga Bermanfaat

Baca Juga kelamjutannya:
Pemasangan Rumpon

Jangan Lupa supaya pekerjaan lebih nyaman tetap tersenyum, Tunjukan Kreasimu




PEMASANGAN RUMPON



Postingan ini merupakan Informasi tentang Bagaimana Melakukan Pemasangan Rumpon di laut. Dalam Proses Pemasangan rumpon membutuhkan koordinasi sekuensi pekerjaan.  Mungkin saja berbeda sesuai disain dan waktu.  Koordinasi ini tergantung dari penataan dari kapal pemasang dan jumlah ruang kerja yang tersedia, serta metode yag digunakan untuk melego jangkar.  Pada kasus tertentu tergantung juga pada kondisi laut dan jauhnya posisi pemasangan.


 Prinsip pemasangan rumpon ada dua
 yaitu “jangkar dulu” atau “jangkar belakangan”.   Prinsip Pemasangan Rumpon Jangkar  Dulu Pemasangan dengan metode “Jangkar Dulu” adalah dengan menurunkan jangkar dulu, kemudian tali rumpon bagian bawah.  Tali ini akan meluncur terbawa oleh beratnya jangkar ke dasar laut.  Setelah jangkar “makan” maka sisa komponen rumpon diturunkan. Metode “jangkar dulu” digunakan jika kedalaman perairan tidak diketahui dengan pasti  Dalam kasus ini rantai atas belum dipasangkan ke tali rumpon sampai jangkar mencapai dasar laut.  Setelah jangkar makan, tali rumpon dikencangkan untuk mengukur kedalaman, gunanya untuk memperkirakan berapa panjang total tali

rumpon yang kana digunakan. 
Kemudian ujung atas tali rumpon dipasangkan ke ponton.  Selanjutnya ponton di lego. Sebaiknya gunakanlah winch jangkar agar kecepatan turun tali dapat diatur, atau jika terjadi sesuatu jangkar dan tali rumpon masih dapat dihibob ke atas kapal.    Metode ini sangat berbahaya jika menggunakan kapal berukuran kecil. Prinsip Pemasangan Rumpon Belakangan Pemasangan rumpon dengan metode “jangkar belakangan” adalah dengan menurunkan ponton, kemudian komponen tali rumpon dan terakhir adalah melabuhkan jangkar.  Jika memungkinkan arah bentangan tali disesuaikan dengan kontur dasar laut


  
Gambar   Jangkar  belakangan

Sebagai contoh, rumpon akan dipasangkann di kedalaman 1.000 meter, maka kapal harus mencoba berlayar sejauh 1 000 meter.  Setelah semua komponen tali rumpon berada di air, janbgkar dilabuhkan.  Metode ini memberikan probabilitas terbesar untuk menempatkan rumpon pada kedalaman yang dikehendaki. 
 
faktor yang mempengaruhi Pemasangan Rumpon
Faktor-faktor yang mem-pengaruhi pemasangan rumpon dan hingga rumpon duduk diam di dasar perairan.  Diantaranya adalah tekanan tali rumpon dan gerakan jangkar. Tekanan Tali rumpon Sesaat setelah jangkar tenggelam, tekanan pada tali rumpon meningkat dengan cepat sampai mencapai titik maksimum sesaat sebelum jangkar sampai idi dasar laut.  Akibatnya ponton dan jangkar bergerak arah horisontal saling mendekati ke posisi pemasangan rumpon.  Lihat gambar  

 Gambar   Efelk tekanan tali rumpon

 Gerakan Jangkar Jika jangkar saat diturunkan ke air, tidak langsung tenggelam secara vertikal, tapi melayang dan memutar seperti pendulum.  Hal ini diakibatkan oleh prinsip hidrodinamika, bentuk jangkar, luas permukaan bagian dasar jangkar, dan gerakan air dibawahnya.  Gerakan memutar dan melayang seperti pendulum ini terjadi hampir selama 15 menit (lihat gambar sebelah).

 Gambar Gerakan memutar dan melayang seperti pendulum ini terjadi hampir selama 15 menit

Memperkirakan kemana ponton hanyut Kecuali memang benar-benar tidak angin dan arus permukaan, ponton dan tali rumpon akan mulai hanyut segera setelah pemasangan dimulai.  Arah hanyut tergantung pada kekuatan dan arah angin dan arus, namun demikian pengaruh arus lebih besar dibanding pengaruh angin.  Kecuali kekuatan angin memang sangat besar.  Sebaiknya tidak

 Gambar   Memperkirakan arah dan kekuatan arus


memasang rumpon pada saat kekuatan angin besar (lihat gamabr).   Sangatlah mudah untuk mengestimasi arus permukaan dengan mengamati arah gerakan seutas tali kecil yang dibanduli gayung dan pengapung dan ditenggelamkan ke air.  Tali akan hanyut mengikuti arus, dan akan memberikan indikasi baik kecepatan maupun arah arus.  Perhatikan Gambar

 
Arah proses pemasangan “Jangkar belakangan” rumpon sebenarnya kapal bergerak lurus dengan arah kebalikan arah arus (arah arus harus diutamakan).  Jarak penurunan ponton adalah 2/3 dari panjang tali rumpon. Hati-hati ponton jangan sampai terseret kapal.  Perhatikan Gambar


 Gambar  Haluan pemasangan rumpon (bawah

Kapal Pemasang Rumpon
Gunakanlah kapal yang berukuran besar, lambung rendah, ruang kerjja geladak yang luas, memiliki winch atau boom.  Jangan menggunakan kapal berukuran kecil atau kapal besar dengan lambung tinggi.  Selain berbahaya  juga menyulitka dalam proses penurunan.  Gambar adalah contoh kapal yang sesuai untuk pemasangan rumpon.  


 Gambar   Kapal Pemasang rumpon


Penataan komponen rumpon di atas kapal
Pemasang Diagram pada Gambar 3.8 adalah ilustrasi penataan komponen rumpon di atas kapal pemasang.  Penataan rumpon mengikuti urutan logis dari mulai ponton hingga jangkar. Penjelasan gambar A: Rantai bawah; B: Jangkar dan meja peluncur jangkar; C: Gulungan tali rumpon diikat kuat (ikatan dibuka saat diturunkan); D: Ponton atau pelampung rumpon; E: Rantai atas; F: Ujung rantai diikat erat sampai saatnya dilego; G: Sambungan antara rantai bawwah dengan tali rumpon diikat sampai saatnya dilego. 

 Gambar  Penataan komponen rumpon sebelum di pasang


Mempersiapkan Komponen Rumpon
Komponen rumpon harus ditata dan disusun sesuai urutan logis mulai dari ponton hingga jangkar.  Penataan harus menghindarkan sekecil apapun dari resiko kegagalan atau kecelakaan awak kapal atau awaknya.


Ponton atau Pelampung
Rumpon Ponton atau pelampung rumpon harus ditempatkan di lokasi penurunannya, sehingga hanya dibutuhkan oleh garak kapal seminimal mungkin.  Lokasinya di sisi luar buritan kiri atau buritan kanan. Ponton harus diikat kuat dengan tambang. Ikatan harus 


Gambar   Penempatan pelampung di sisi luar buritan kiri sebelum diturunkan

 gambar penempatan Pelampung di sisi  Luar buritan sebelum diturunkan

kuat tapi mudah dilepas.   Landasi bawahnya dengan terpal atau karung untuk menghindari kerusakan pada badan kapal.  Termasuk juga tempat meluncurkan rantai jangkar, perhatikan gambar 3.9. Jika menggunakan kapal berukuran kecil, dan ponton atau pelapung harus ditunda sejak keluar dari pelabuhan.  Cara pelampung ditunda ini umum dilakukan jika keadaan laut bergelombang, dan hal ini sangat aman dilakukan jika kapal tidak memiliki winch untuk menurunkan komponen rumpon.  Perhatikan gambar , bagaimana ponton di tunda.  



Gambar   Menunda ponton dari pelabuhan ke lokasi penanaman rumpon.

 Rantai dan tali rumpon
Cara yang paling biasa dilakukan untuk menyimpan rantai dan tali rumpon adalah langsung ditata di dek kapal di lokasi penurunannya.  Keduanya harus terikat erat selama dalam pelayaran menuju lokasi penanaman rumpon.  Saat tiba di lokasi pengikatnya dilepas dan langsung diturunkan dari atas dek. 

Alternatif lain, jika ruang kerja sempit dan berbahaya menurunkan dari sisi lambung kapal, rantai dan tali disimpan dalam kotak kayu kokoh.  Kotak dapat ditempakan di palkah ikan.  Membuka gulungan tali dari coilnya harus benar, jika tidak akan terjadi tekukan pada tali. Cara termudah adalah dengan menggunakan alat pembuka atau penggulung tali.  Lihat gambar 

 Cara membuka gulungan Rumpon

 Gambar menggulung tali Rumpon atau wirw di deck

Tali rumpon yang telah dibuka sebaiknya digulung kembali di atas dek dengan Gambar   Cara membuka gulungan tali rumpon dari coil Gambar 3. 12  mengglung tali rumpon atau wire di  dek   menggunakan sistem angka delapan (lihat gambar 3.12).  Cara ini akan mengurangi resiko kusut atau terbelit susunannya.  Terutama jika tali terbuat dari wire.


Jangkar Rumpon   
Cara termudah dan paling aman menata jangkar sebelum diturunkan ke air adalah dengan menempatkannya di atas konstruksi kayu (berbentuk meja) yang sejajar dengan top bulkwark.  Perhatikan  gambar . 


 Penjelasan gambar 3.13 A: Jangkar rumpon; B: Besi siku penahan rantai pengikat block;C; Konstruksi kayu penumpu jangkar; D: Block penghantar rantai jangkar saat diturunkan; E landasan tebuat dari plywood.


Prosedur Pemasangan Rumpon
Segera setelah persiapan yang dijelaskan di atas.  Prosedur pemasangan rumpon adalah seperti yang dijelaskan berikut. Kapal melaju ke lokasi penanaman rumpon, untuk memastikan posisi penanaman rumpon dan arah hanyut pelampung.  Mencari kedalaman laut yang ditentukan dalam rencana penanaman rumpon (atau lokasi hasil survey).  Gunakanlah echo sounder.  :Posisi rumpon selai menggunakan GPS harus Gambar   Cara menata jangkar sebelum diturunkan ke air


pula dibandingkan dengan posisi yang diperoleh dengan membaring dua buah benda darat di kenal.  . 
Selanjutnya, pada posisi dimana kapal akan melakukan awal penurunan (“jangkar belakangan”).  Posisi ini harus berada tepat dibawah arus dari posisi penanaman rumpon yang direncanakan.  Panjang tali rumpon yang akan dipasang adalah 1.200 meter.  Sehingga posisi aal penurunan adalah sejauh 800 meter atau 2/3 dari panjangg total tali rumpon dari posisi rumpon.  


Posisi awal pemsangan di program ke GPS, kapal melaju ke posisi tersebut dan mulai proses pemasangan rumpon. Langkah pertama menurunkan pelampung dan rantai atas, kemudian tali drumpon diturunkan.  Haluan kapal diarahkan melawan arus (lihat gambar ). 


 Gambar 3. 14 Haluan kapal saat memasang rumpon

Setelah jangkar diturunkan, dan ditunggu beberapa waktu sampai rumpon tampak stabil.  Tentukanlah posisi sebenarnya penanaman rumpon setelah dipasang.  Sebaiknya posisi penanaman rumpo dilaporkan ke pihak yang berwenang yang mengatur wilayah penangkapan.


Pemeriksaan Rumpon Rumpon
harus diperiksa dan dipelihara secara berkala dan teratur sehingga apabila terjadi masalah dapat dideteksi secara dini, lihat gambar .  Komponen rumpon yanbg rusak diganti, sehingga mengurangi risiko kerugian prematur rumpon. Melakukan kunjungan inspeksi secara berkala dapat mengungkapkan penyebab potensi kerugian rumpon sebelum terjadi. Inspeksi teratur juga meningkatkan kemungkinan didapatnya pinpointing problem guna mengembangkan perbaikan desain rumpon di masa datang. 


 jadwal Pemeliharaan
 
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan kapal, kecil atau besar, cukup untuk satu atau dua orang untuk mengunjungi rumpon, guna melihat dari dekat baik di atas dan di bawah permukaan air. Kecuali  jika Gambar 3. 15  Jadwal pemeliharaan rumpon  hendak dilakukan perbaikan komponen rumpon, gunakanlah kapal berukuran besar yang dilengkapi dengan peralatan bongkar muat yang memadai.


Interval Pemeliharan
Selang waktu antar pemeriksaan tergantung oleh kondisi existing berjauhannya antar satu rumpon dengan rumpon lainnya yang dapat dikunjungi.  Jika usia pakai rumpan lama maka selang waktu antar pemeliharaan dapat tidak terlalu dekat, tapi jika usia pakai rumpon rendah maka selang waktu pemeriksaan harus lebih dekat. Terutama jika telah terjadi badai.  Idealnya rumpon harus diperiksa paling lambat setiap dua minggu sekali..


Konsultasi dengan Nelayan Pengguna
Seperti halnya seperti pemeriksaan langsung, nelayan menyediakan sumber informasi berharga karena mereka mengunjungi rumpon jauh lebih sering dibanding  tim pemeriksa. Kontak harus dipertahankan dengan nelayan pengguna rumpon, terutama bagi rumpon yang terpencil yang mungkin sulit untuk diperiksa secara teratur, dan nelayan harus didorong untuk melaporkan masalah yang mereka dapati.


Pemeriksaan Posisi Rumpon
Selama musim laut bergelombang besar dan kekuatan arus besar, pelapmung dan rumpon akan menerima tekanan berlebihan sehingga menggeser posisi rumpon dan kemungkinan juga mengangkat jangkar dari dasar perairan.  Pengangaktan jangkar yang kerap terjadi akibat badai akan memindahkan posisi rumpon sepanjang dasar perairan.  Biasanya rumpon akan bergeser ke peraian yang lebih dalam, yang menyebabkan pelampung akan tenggelam.   Namun demikian, jika kondisi badai yang terus menerus kemungkinan untuk mengurangi atau menambah berat jangkar, atau menambah atau mengurangi daya apung pelampung.  Posisi rumpon harus selalu dikonfirmasikan dengan posisi rumpon hasil pemeriksaan sebelumnya (Perhatikan gambar )  


Gambar 3. 16   Pergeseran posisi rumpon akibat cuaca buruk.


Lingkaran Putar Rumpon
Terlepas dari arah dan kekuatan angin atau arus, pergerakan ponton rumpon dibatasi oleh panangnya tali rumpon.  Ponton akan memiliki lingkaran putar tetap di permukkan air disebut dengan lingkaran puta rumpon.  Posisi tengah lingkaran berada tepat di atas jangkar rumpon dan radiusnyaadalah jarak dari rumpon ke posisi jangkar.  Rumpon bisa terletak sepanjang lingkaran putar tergantung pada arah arus atau angin atau gabungan keduanya lihat gambar. 

 Gambar  Lingkaran putar rumpon
 
Pemeliharaan dan Perawatan Rumpon
 Sebagian besar kerusakan yang terjadi pada rumpon adalah pada pelampung rumpon, atau kerusakan dibagian atas sekitar 30 meter dari permukaan.  Pengamatan visual secara berkala berpotensi mencegah terjadinya kerusakan fatal. Seperti halnya pekerjaan di bawah air lainnya, perbaikan rumpon memerlukan peralatan mekanik, rencana perbaikan yang dibuat secara teliti, dan upaya yang terkoordinasi.  Konsekwensinya adalah, memerlukan tenaga trampil yang dilengkapi dengan peralatan keselamatan dan mampu menggunakan peralatan yang sesuai serta mempu melaksanakan perbaikan rumpon dengan aman dan efektif.


Situasi Perawatan
Hasil pengamatan visual, akan menghasilkan sejumlah situasi yang membutuhkan perawatan dan perbaikan.  Kerusakan yang umum terjadi adalah kebocoran pelampung yang menyebabkan pelampung terisi air, pelampung terlepas, peralatan penyambung yang terpisah dari pelampung,  sangat berkarat dan rusak, tali yang terkelupas atau sebagian seratnya terabrasi. Perhatikan gambar 3.18.


Prosedur Perawatan
Jika kerusakan terjadi pada tali rumpon, maka perlu untuk mengangkat tali dan memperbaikinya langsung dilaut.  Perbaikan dilakukan dengan memotong yang rusak dan menggantinya dengan yang baru dengan cara splicing. Jika kerusakan terjadi pada ponton atau komponen atas rumpon, pendekatan perbaikan terbaik adalah dengan mengganti komponen tersebut


dan membawa yang rusakke darat  untuk pemeriksaan dan perbaikan lebih lanjut.  Pada pelaksanaannya pelampung harus diganti setiap enam bulan sekali untuk meminimalkan resiko kehilangan rumpon. 


 Gambar   Berbagai kerusakan yang terjadi pada komponen rumpon

Dalam kedua kasus di atas, sementara menggunakan kapal-kapal besar yang dilengkapi dengan peralatan bongkar muat membuat pekerjaan lebih mudah, pekerjaan ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan kapal yang lebih kecil, jika perlu pelampung ditunda ke pelabuhan.  Cara memperbaiki di laut perhatikan gambar  si bawah

 Gambar  Mengangkat tali rumpon ke kapal selama perbaikan di laut


Perbaikan seperti pada gambar 3.19  hanya boleh dilakukan pada saat cuaca tenang. Mengangkat Komponen Atas ke Kapal Jika kapal perawat dilengkapi dengan boom dan alat angkat berat, maka keseluruhan pelampung beserta komponen atas dngan mudah dapat diangkat ke atas kapal.  Perbaikan dapat dilaksanakan atau menggantinya dengan ponton atau pelampung yang baru.  Jika kapal tidak dilengkapi dengan peralatan angkagt berat, masih dimungkinkan untuk mengangkat komponen rumpon ke atas kapal menggunakan wwinch jangkar, peralatan hidrolik, block dan takal serta pengangkat rantai, atau menggunakan tenaga awak kapal.  Agar pelampung dapat diangkat ke kapal penyelam harus melepaskan seumlah sambungan pada tali rumpon.  Mudahnya adalah dengan mengikat tali lain pada kedalaman sekitar 15 meter, guna menahan bagian bawwah komponen rumpon atau untuk mengurangi beban berat yang harus diangkat.  Perhatikan gambar di bawah.


 
Gambar  Penyelam sedang melepaskan pelampung rumpon


BEBERAPA HAL PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN
  1. Prinsip pemasangan rumpon ada dua yaitu “jangkar dulu” atau “jangkar belakangan”.
  2. Faktor yang mempengaruhi saat pemasangan rumpon adalah tegangan tali dan gerakan jangkar..
  3. Haluan pemasang adalah kebalikan dari arah arus.
  4. Posisi awal penurunan pelampung pada metode “angkar Belakangan” adalah berjarak 2/3 dari panjang total tali rumpon dari posisi rumpon yag direncanakan.
  5. Haluan pemasangan rumpon berlawanan arah dengan arah arus.
  6. Gelombang besar dan arus kuat dapat menyebabkan posisi rumpon berpindah.
  7. Pemeriksaan rumpon harus dilakukan secara konsisten dan berkala.
  8. Sebagian besar kerusakan yang terjadi pada rumpon adalah pada pelampung rumpon, atau kerusakan dibagian atas sekitar 30 meter dari permukaan
  9. Perawatan rumpon di tengah laut memerlukan tenaga trampil, dengan menggunakan peralatan yang sesuai. 


 Sumber referensi: 
Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan, Penyuluh perikanan Pusat

Demikian semoga bermanfaat,


Baca Juga kelamjutannya:
Pemasangan Rumpon

Jangan Lupa supaya pekerjaan lebih nyaman tetap tersenyum, Tunjukan Kreasimu