Pages

Showing posts with label PENYU. Show all posts
Showing posts with label PENYU. Show all posts

Tuesday, December 4, 2012

Teknologi Budidaya lele sangkuriang



Penyuluh Perikanan Mukomuko, Postingan ini penyuluh perikanan membagikan lembaran Informasi perikanan tentang Petunjuk Budidaya lele sangkuriang. lembar Informasi ini merupakan pedoman atau petunjuk yang dapat digunakan untuk sahabat Penyuluh Perikanan sebagai pelaku utama atau pelaku usaha yang memiliki keinginan untuk melaksankan usaha dibidang Perikanan Budidaya,khususnya budidaya lele sangkuriang. Lembaran ini merupakan petunjuk semoga bermanfaat bagi anda semua.


Jika menurut anda lembaran informasi atau Panduan ini dirasa sangat penting silahkan anda pelajari dan dapat di download dibawah ini, semoga dengan Lembran informasi perikanan ini akan menambah pengetahuan dan wawasan sahabat semua.






Demikian semoga bermanfaat


Sumber:
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Badan Pengembangan sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan
Pusat Penyuluhan Perikanan

Wednesday, November 21, 2012

UPAYA PENGELOLAAN PELESTARIAN PENYU DI KABUPATEN MUKOMUKO



Penyuluh Perikanan.com._Untuk menjaga kelestarian sumberdaya kelautan pada umumnya,  dan khususnya pada Penyu sisik maka  agar penyu ini tetap berkembang dan tidak punah juga terjaga kelestariannya, sudah seharusnya  untuk  dilakukan upaya-upaya yang salah satunya adalah dengan melakukan  sistim Konservasi.

Konservasi penyu juga dapat dilakukan dimana mana khususnya diwilayah pesisir di seluruh Indonesia, sebab Sebagai Makhluk Tuham Manusia juga merupakan bagian dari alam yang tidak akan memiliki masa depan apabila alam dan sumber daya yang dikandungnya tidak dilestarikan(The World Conservation Strategy, 1980). Jadi  segala macam tindak pelestarian juga tidak akan pernah berhasil tanpa disertai dengan pembangunan yang bertujuan untuk mensejahterakan jutaan penduduk yang masih ada dalam garis kemiskinan. Untuk itu pelestarian dan pembangunan saling berhubungan sehingga perlu adanya suatu  konsep pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development).


Konsep Pembangunan yang berkelanjutan juga tergantung dari keberhasilan pemeliharaan lingkungan. Oleh sebab itu, Sistim pemeliharaan lingkungan adalah esensial. Pemeliharaan lingkungan ini setidaknya meliputi tiga prinsip utama, yaitu:

  1. Secara Terus menerus untuk Menjaga proses ekologi dan sistem penyangga kehidupan,
  2. Mengawetkan keanekaragaman genetik,
  3. Dan tetap untuk Mengupayakan pemanfaatan berkelanjutan bagi sumber daya alam yang dapat pulih.

Kegiatan konservasi pada Pelestarianpenyu adalah salah satu contoh nyata aplikasi ketiga dari prinsip dasar tersebut di atas. Melestarikan penyu berarti tetap menjaga kesinambungan suplai energi dari ruaya pakan ke pantai peneluran dalam bentuk telur.  Dengan demikian, pelestarian penyu laut pada hakekatnya adalah upaya luhur untuk tetap menjaga proses ekologi esensial dan sistem penyangga kehidupan.

Upaya  kegiatan Konservasi dalam pelestraian penyu yang dilakukan di Mukomuko,Propinsi Bengkulu merupakan Salah satu kegiatan Konservasi pada kawasan laut dan darat yang telah lama dilakukan di Desa  Retak Ilir  Kabupaten Mukomuko Propinsi Bengkulu, yaitu dengan melakukan sistim penangkaran Penyu. Sistim Penangkaran penyu ini memang masih sangat sederhana dan itu dilakukan oleh kelompok Masyarakat desa  setempat yg melibatkan pihak swasta yang dalam pelaksanaannya dibina oleh Pemerintah setempat dengan dukungan Pemerintah Pusat. Selain Hal tersebut diatas juga secara terus menerus melakukan sosialisasi kepada Masyarakat, Generasi muda sebagai penerus bangsa melalui anak-anak sekolah Mulai dari tingkat sekolah Dasar, menengah dan juga perguruan tinggi. Penangkaran penyu yang dilakukan oleh kelompok masyarakat setempat yang diberi nama Kelompok Penyu Lestari  merupakan sosok yang dapat diteladani, hal ini dapat dilihat dengan kesadaran mereka yang setiap hari melakukan kegiatan penjagaan secara bergantian, mulai dari pengamanan penyu, mengumpulkan dan mencari tempat bertelur yang selanjutnya ditempatkan pada tempat penangkaran untuk ditetaskan hingga menetas dan selanjutnya dikembalikan lagi ke laut  yang merupakan tempat bagi habitatnya.

salah satu Tujuan dilakukannya  konservasi wilayah pesisir  yang dilaksanakan di kabupaten Mukomuko, adalah sebagai   upaya yang telah dilakukan dengan tujuan untuk menjamin keberlangsungan populasi penyu yang sistim kegiatannya berguna untuk melindungi, melestarikan dan memanfaatkan wilayah pesisir serta ekosistemnya  agar tetap terjaga kelestariannya, terlindungi dan juga perkembangannya sekaligus berusaha untuk memperbanyak populasi Penyu tersebut melalui kegiatan tersebut (Pedoman Pengelolaan Konservasi Penyu dan Habitatnya, 2003).  

Upaya pelestarian dan restocking penyu ini sebenarnya sudah mulai dirintis sejak masa penjajahan Belanda, dan dasar–dasar peraturan yang telah ada masih digunakan sampai sekarang. Dewasa ini, kegiatan pelestarian lebih konkrit, bukan hanya pelarangan pemanfaatan penyu, tapi juga menyangkut pembinaan terhadap individu  yang dilindungi baik dalam kaitannya dengan habitat ataupun dengan peri kehidupannya. Tujuannya, agar terjaga keberadaan populasi penyu yang ada.

Ada beberapa langkah yang telah diupayakan oleh Kelompok Penyu Lestari yang ada di kabupaten Mukomuko, dalam pengelolaan Pelaksanaan kelestarian penyu, antara lain:

  1. Pengelolaan dan monitoring sarang penyu yang meliputi sarang alami dan sarang semi alami, pengelolaan hatchery,
  2. Penampungan telur dan tukik,
  3. Pengelolaan tukik
  4. Dan pelepasan tukik.

Dibawah ini merupakan gambar kegiatan yg dilakukan oleh kelompok penyu lestari di Retak Ilir Kabupaten Mukomuko

Demikian semoga bermanfaat.


 Sekilas Kegiatan Plestarian penyu dalam gambar

Diatas merupakan  Kelompok yg melakukan pengawasan pada malam hari, 
dilengkapi tenda utk istirahat

 Saat pengawasan dan pengamblan telur penyu utk dipindahkan ke tempat Khusus
 
 Dalam kegiatan ini ada juga campur tangan pihak asing sebagai Pemerhati
  terhadap Kelompok Penyu lestari
 Tukik anak penyu yg sudah siap untuk dilepas
Tukik - anak penyu siap untu dilepas
Selain Masyarakat sekitar,kegiatan ini juga menjadi perhatian masyarakat dari luar negeri 
dan merupakan sebagai pemerhati, bahkan ikut dalam memberikan bantuan kelancarannya
Selesai sudah Rangkaian Kegiatan dalam Gambar sebagai Upaya Pelestarian sumberdaya kelautan umumnya dan khususnya pelestarian penyu di Kabupaten Mukomuko,Propinsi Bengkulu

Demikian sebagai gambaran sekilas kegiatan pelestarian penyu di kabupaten Mukomuko, dengan demikian semoga di Daerah lain yang memiliki Kawasan peisir juga bisa untuk melakukan hal yang demikian yang sistim pengelolaanya dilakukan melalui kelompok Masyarakat, walupun bentuknya sederhana tapi sangat bermanfaat untuk kelangsungan generasi kita yang akan datang. sekian.....

Sumber Referensi:
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Dierektorat Jendral Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau kecil
Badan pengembangan SDMKP
Pusat Penyuluhan Perikanan
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Mukomuko
BP4K Kab.Mukomuko.
Penyuluh Perikanan Mukomuko

Tuesday, November 20, 2012

IDENTIFIKASI DAN MORFOLOGI PENYU SISIK BESERTA PENYEBARANNYA



Identifikasi dan Morfologi Penyu Sisik
Penyuluh Perikanan.com._Penyu juga merupakan reptil yang hidupnya di laut serta mampu untuk melakukan migrasi dalam jarak yang cukup jauh yaitu sepanjang kawasan Samudra Hindia, Samudra Pasifik dan Asia Tenggara (Fitriyanto, 2006). Dan Penyu juga termasuksalah satu dari sumber kehidupan bagi masyarakat pesisir.  Ketika para nelayan yang hidup di pulau-pulau yang sangat terpencil kemudian tidak bisa mengayuh perahunya ke laut untuk mencari ikan, maka biasanya telur penyu akan berperan sebagai sumber makanan untuk digunakan sebagai penyambung hidup mereka.


Kalau dilihat sistim perkembangbiakannya Penyu termasuk binatang ovipar, Akan tetapi sebenarbya Penyu sangat berbeda dengan kura-kura. Ada Ciri yang sebenarnya paling khas yang dapat membedakan penyu dengan kura-kura yaitu penyu tidak dapat menarik kepalanya ke dalam apabila merasa terancam. Meskipun hidup di laut, Penyu tidak memiliki insang seperti halnya ikan untuk bernapas, karena itu penyu sesekali akan muncul kepermukaan laut untuk mengambil Oksigen dan bernapas (Penyu Laut Indonesia).
Untuk Mengetahui bagian tubuh pada penyu beserta fungsinya dapat lihat Gambar dibawah ini sebagai berikut :

  1. Karapas, yaitu bagian tubuh yang di lapisi zat tanduk terdapat di bagian punggung dan berfungsi sebagai pelindung.
  2. Plastron, yaitu penutup pada bagian dada dan perut.
  3. Infra marginal, yaitu keeping penghubung antara bagian pinggir karapas dengan plastron. Bagian ini dapat digunakan sebagai alat identifikasi.
  4. Tungkai depan, yaitu kaki berenang di dalam air yang berfungsi sebagai alat dayung.
  5. Tungkai belakang, yaitu kaki bagian belakang (pore fliffer), berfungsi sebagai alat  penggali.

 Gambar. Bagian tubuh penyu ( Yusuf, 2000)
Identifikasi penyu berdasarkan bentuk luar (morfologi) setiap jenis penyu dapat dilihat pada Tabeldibawah ini
 Tabel Identifikasi Berdasarkan Bentuk Luar Jenis Penyu.
Jenis Penyu
Ciri – Ciri Morfologi

Penyu Hijau (Chelonia mydas)

Karapas berbentuk oval, berwarna kuning ke abu– abuan, tidak meruncing di punggung dengan kepala bundar
Penyu Pipih (Natator depressus)

Karapas meluas berbentuk oval, berwarna kuning ke abu–abuan tidak meruncing di belakang, kepala

Penyu abu–abu(Lephydochelys
olivacea)

Karapas berbentuk seperti kubah tinggi, terdiri dari 5 pasang “coastal scutes”, dimana setiap sisi terdiri dari 6 – 9 bagian. Bagian karapas lembut. Karapas berwarna hijau gelap dan bagian bawah berwarna kuning. Kepala penyu abu–abu tergolong besar.

Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)

Bentuk karapas seperti jantung (elongate), meruncing di puggung, kepalanya sempit serta karapasnya cokelat dengan beberapa variasi terang mengkilat

Penyu belimbing (Dermochelys coriacea)

Punggung memanjang berbentuk buah belimbing, kepalanya sedang serta membundar; kaki depan panjangdengan punggung berwarna hitam hamper seluruhnya disertai bintik–bintik putih.


Penyu tempayan (Caretta caretta)

Bentuk memanjang, meruncing di bagian belakang, kepala berbentuk “triangular” hampir seluruhnya berwarna cokelat kemerah–merahan.


Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) sangat mudah dibedakan dengan jenis penyu lainnya dengan melihat skutnya yang tebal dan tumpang tindih, yang menutupi karapasnya. Karapasnya sendiri berbentuk elip, dan ditutupi oleh lima skut sentral, empat pasang skut lateral, dan 11 pasang skut marginal. Skut dorsalnyalebih tebal dibanding penyu Hijau, dan berwama cerah. Karakteristik skut inilah yang menyebabkan penyu ini dieksploitasi secara besar-besaran untuk dijadikan ornamen, Warna skut sangat bervariasi dari regio satu ke regio lainnya. Skutnya memiliki corak garis-garis radial yang terdiri atas empat warna dasar yaitu hitam, coklat, merah, dan kuning. Lebar karapasnya adalah 70-79% dari total panjang karapas (diukur lurus - Scute Carapace Length). Jika pada penyu Hijau terdapat sepasang sisik prefrontalis, maka pada penyu Sisik terdapat dua pasang.

Untuk dapat membedakan jenis kelamin penyu dewasa dapat dilihat pada Gambar dibawah ini, dimana penyu jantan dewasa memiliki ekor yang lebih panjang dari pada ekor penyu betina. Selain itu hal lain yang membedakannya adalah ukuran kepala penyu jantan lebih kecil dari penyu betina. Hampir dapat dipastikan, penyu yang naik pada malam hari ke pantai adalah penyu betina (Nuitja, 1992).

 Gambar  Kelamin jantan dan betina, kiri jantan kanan betina
(A: Ekor panyu, B: Karapas C: Cloacal) (Nuitja, 1992).

Setiap penyu memiliki ciri khas tersendiri jadi secara fisik, orang akan lebih mengetahui dan memudahkan untuk membedakan jenis penyu tersebut. Untuk kepala dan karapas dari masing-masing penyu dilihat pada Gambar dibawah ini.
 Gambar Morfologi kepala dan karapas penyu (Rebel, 1974 dalam Yusuf, 2000).
 Nama ilmiah dari penyu sisik adalah Eretmochelys imbricata (Linne,1758 dalam Nuitja 1992). Di daerah pedesaan sering kali disebut penyu karang atau penyu genting. Disebut penyu karang karena binatang ini hidup di terumbu karang dan disebut penyu genting karena susunan karapasnya yang letaknya nyaris bersusun-susun seperti susunan genting.
 Gambar Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)
Ciri morfologi penyu sisik bentuk karapas seperti jantung (elongate) meruncing di punggung, kepalanya sempit serta karapasnya berwarna cokelat dengan beberapa variasi terang mengkilat (Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut, 2009). Penyu sisik dewasa berbentuk oval/ elips, bagian pinggiran karapas bergerigi, kecuali pada tukik dan hewan yang sangat tua (Nuitja 1992 dalam Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut, 2009). Karapas penyu sisik memiliki empat pasang sisik rusuk (coastal scute) yang tersusun tumpang tindih seperti genting, lima vertebral scute yang menyatu pada tulang belakang, di sekeliling tempurungnya terdapat lempeng-lempeng kecil yang disebut marginal scute berjumlah 13 yang saling tumpang tindih dan bergerigi. Sedangkan pada penyu muda biasanya bewarna hitam atau hitam kecoklatan dengan warna coklat terang pada keel, pinggir cangkang dan sirip dan leher atas. Penyu sisik mempunyai ukuran sedang, sempit dengan bentuk paruh yang lancip, panjangnya 21-33% dari panjang lurus karapas atau Straight Carapace Length (mean 27,6% SCL). Kepalanya mempunyai dua pasang sisik yang berjumlah tiga sampai empat sisik pada bagian samping dan juga pada bagian belakang mata ayang biasa disebut Post Orbital Scale (Yusuf, 2000).
Selain bentuk dan juga sisik yang berada dikepala bentuk paruh pada penyu pun berbeda-beda merupakan bentuk adaptasi penyu terhadap jenis makanan dan juga pola makannya. Penyu sisik mempunyai paruh yang tajam sehingga memungkinkan dapat mencari makan pada celah celah batu karang laut. Penyu sisik adalah pemakan sponge, namun kadang kala memakan alga, rumput laut, karang lunak dan juga kerang-kerangan (Zamani, 1998).

Penyebaran Penyu Sisik
Ummnya penyu sisik sering kali disebut penyu karang atau penyu genting. Disebut penyu karang karena binatang ini hidup di terumbu karang dan disebut penyu genting karena susunan karapasnya yang letaknya nyaris bersusun-susun seperti susunan genting.
Pada umumnya Penyu sisik ini banyak tersebar di daerah tropis dan subtropis, yaitu pada posisi lintang 25° LU sampai 25° LS. Untuk wilayah di indonesia pada umumnya penyebaran utama penyu sisik terdapat di Laut Jawa, Laut Flores, Selat Makasar, dan Selat Karimata. Penyu sisik menyebar ke daerah kepulauan yang terdapat terumbu karangnya antara lain Kepulauan Napia, Pulau Wasanii, Bunaken, Kepulauan Karimun Jawa, Kepulauan Seribu, Pulau Baluran, Bali Barat, Kepulauan Komodo, Pulau Mojo, Pangandaran (Nuitja, 1992). Penyu Sisikhidup di laut tropika dan Sub tropis di sekitar perairan yang terdapat terumbu karang yang kaya akan alga laut ( sea weed ) sedangkan perkawinan sering terjadi di laut yang memliki substrat sedikit berlumpur. Penyu sisik akan kembali ke pantai asal ia menetas untuk bertelur. Setelah menetas, anak-anak penyu sisik akan menghabiskan waktu di pantai sambil mencari makanan. PenyuSisik memakan sponge dan batu karang lembut. Penyu sisik terkadang membentuk koloni sendiri di pantai tempat bertelur dalam satu wilayah tertentu. Di luar wilayah tropis tercatat adanya penyu sisik meskipun tidak melakukan aktivitas bertelur. Wilayah yang dimaksud adalah bagian utara bumi, Atlantik bagian Barat dan Timur, Pasifik bagian Barat dan Timur (Kundiarto, 2010).
Sedangkan untuk siklus hidup penyu laut secara umum dapat di lihat pada Gambar dibawah ini.
 Gambar . Siklus hidup penyu (WWF– Bali 1998)

Keterangan:

  1. Induk penyu jantan dan betina memasuki masa perkawinan 2 minggu.
  2. Induk penyu jantan kembali ke laut untuk mengembara
  3. Induk penyu betina memasuki masa peneluran.
  4. Induk penyu betina kembali kelaut untuk mengembara.
  5. Telur penyu memasuki masa inkubasi selama + 7 minggu.
  6. Tukik menuju perairan & memasuki masa tahun yang hilang (5–20 tahun).
  7. Masa pertumbuhan dan perkembangan bagi tukik selama 30 tahun.
  8. Perairan pantai dangkal dan zona penyebaran dasar laut di penuhi oleh penyu muda sampai penyu dewasa.
  9. Induk penyu jantan dan betina kembali bermigrasi untuk musim kawin.
  10. Induk penyu jantan dan betina kembali ke perairan pantai.
  11. Induk jantan dan betina memasuki masa pemijahan Setelah mencapai ukuran 30 cm, penyu muda selanjutnya mendiami habitat makanannya selama beberapa tahun hingga dewasa dan untuk melakukan migrasi reproduksinya (Nuitja, 1992).


 Semoga bermanfaat

Sumber referensi:
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Direktorat Jendrak KP3K
Badan Pengembangan SDMKP
Pusat Penyuluhan Perikanan
wikipedia

Penyuluh Perikanan Kab.Mukomuko