Pages

Wednesday, June 13, 2012

TEHNIK BUDIDAYA KEPITING BAKAU


Postingan ini merupakan Kelanjutan dari postingan sebelumya, seperti yang sudah kita ketahui saat ini  para peminat Kepiting Bakau semakin hari kian semakin Bertambah, sedangkan para konsumen yang meminati kepiting ini juga semakin banyak baik dari dalam negeri Maupun Luar negeri.............Kurangnya pengetahuan terhadap Tehnik budidaya kepiting Bakau-Soka dapat memperlambat produksi dari jumlah yang ada terutama  di pasaran,  sehingga jika penangkapan dari alam, yang kesinambungan dan volume produksinya tidak dapat diandalkan, bahkan juga dapat di khawatirkan Habitat dan Regenerasi Kepiting Bakau akan menjadi Berkurang, ini juga pernah disampaikan sahabat saya Dalam Dunia Bloger Seperti catatan si OBOY,  Khususnya untuk Daerah Tarakan. Oleh karena itu sudah saatnya diusahakan secara lebih rasional yaitu melalui system budidaya.  

Tehnologi budidaya kepiting bakau itu telah diperkenalkan dan dipraktekkan di banyak negara seperti Jepang, Australia, China, India, Sri Langka, Philippina, Malaysia, dan tentu saja Indonesia. Khususnya di Negara kita sendiri,  usaha ini masih bersifat kecil-kecilan dan tidak berkesinambungan  karena kendala sumber benihnya mengingat di Indonesia belum ada yang mendirikan usaha Panti Pembenihan Kepiting. 

Budidaya kepiting dapat dikembangkan melalui beberapa jenis usaha , selain Pembenihan , yaitu : 
  1. Pembesaran dari benih menjadi kepiting ukuran konsumsi ; 
  2. Penggemukan yaitu memelihara kepiting hasil tangkapan dari alam yang beratnya dibawah standar menjadi ukuran konsumsi ; 
  3. Produksi kepiting cangkang lunak yaitu memelihara kepiting  yang sudah berukuran konsumsi tetapi bercangkang keras menjadi bercangkang lunak saat ganti kulit;  
  4. Produksi kepiting betina yang mengandung telur (matang gonad.). 

Tujuan utama dari Budidaya kepiting ialah agar harga jualnya lebih tinggi , sehingga meningkatkan penghasilan nelayan penangkap kepiting. Apabila produk dari budidaya itu dapat meningkatkan ekspor tentu akan menaikkan devisa Negara.  


A. Lokasi Budidaya Kepiting
Daerah yang cocok untuk lokasi budidaya kepiting  ialah  tambak yang bisa untuk budidaya bandeng dan udang. Tambak yang dasarnya berlumpur lebih cocok untuk kepiting.  Kadar garam airnya yang optimal berkisar 10-25 ppt . Sifat air lainnya yang cocok adalah : suhu 28-33 oC , pH 7,5 -8,5 dan DO lebih dari 5 ppm.


B. Benih kepiting
Terus terang saja Selama ini  dihasilkan dari penangkapan. ukurannya sangat bervariasi. Anakan kepiting yang berukuran berat  30-50 gram  dijadikan benih untuk budidaya  unit pembesaran .
Kepiting tangkapan yang ukurannya 150-200 gram menjadi benih untuk unit Penggemukan, terdiri dari kepiting jantan dan betina. Kepiting  ukuran itu juga dijadikan benih untuk unit  produksi cangkang lunak dan juga unit produksi kepiting bertelur, (betina saja.).

Benih kepiting untuk dibesarkan di lokasi lain, diangkut dengan cara yang sama seperti mengangkut kepiting untuk konsumsi.  Yaiut diikat capit-capitnya dengan tali , lalu digantungkan terbalik didalam bak atau ember yang diisi air payau. Pedagang biasanya membuat bak untuk penagngkut  itu ukuran garis tengah 50 cm.  Dapat juga dibuat dari fiber glass berbentuk kotak ukuran 50 x 50 cm , dalam 60 cm. 

Bak ukuran itu dapat memuat 150-200 ekor kepiting kecil-kecil berat 20-50 gram/ekor. Selama diangkut, kepiting direndam dalam air payau 10-25 ppt. Pengangkutan selama 7-8 jam , mortalitasnya berkisar 0 -40 %. (Gunarto,1989 dalam Cholik,1991).  


Seperti telah di dokumentasikan oleh  Cholik & Hanafi, 1991,  Tehnik budidaya kepiting yang dipraktekkan diberbagai daerah di Indonesia, dideskripsikan dibawah ini.

1.    Wadah
Wadah untuk memlihara kepiting  pembesaran, penggemukan , kepiting bertelur maupun kepiting cangkang lunak, diberbagai daerah dikembangkan sendiri oleh para petani dan nelayan tradisional secara sederhana, disesuaikan dengan kemampuan dan lokasi yang memungkinkan. 

1.1. Kotak dari bambu
Wadah  penggemukan itu kebanyakan dibuat dari bambu ukuran kotak 2 x 0,5 x 0,2 m  .Terbagi menjadi 2 bagian ( lihat gambar). Yang masing-bagian diberi tutup. Ruangan kotak itu disekat-sekat menjadi kotak-kotak kecil masing- masing  30 cm2. cukup untuk diisi dengan 1 ekor kepiting di setiap kotak tersebut.  Wadah seperti ini digunakan oleh para nelayan di Cilacap (Jawa Tengah ) dan juga di Bone (Sulawesi Selatan), untuk memelihara kepiting bertelur.

1.2. Kotak  plastik
Wadah yang mungkin digunakan juga ialah kotak dari plastic ukuran 60 x 40 x 20 cm.  Kotak ini juga di beri sekat-sekat menjadi 9 ruang masing-masing untuk 1 ekor kepiting.
Sistem kotak kecil ( disebut sistem baterei pada kandang ayam!) , ini berarti sangat hemat ruang atau padat penebaran tinggi ,yaitu 40 ekor kepiting per-M2.  
Dengan system ini mortalitas  hanya 5 % atau kurang, karena kepiting tidak dapat saling menyerang atau memangsa. Menurut Cholik (1991) kematian itu disebabkan oleh kegagalan  pada waktu ganti kulit.

Gambar: 7– Kotak bambu terapung  sistem baterei .

1.3. Kotak dari jaring  (Jaring apung)
Khusus untuk memelihara kepiting, Jaring apung yang dibuat berukuran kecil,  2,5 x 2,5 x 1 m  Bingkai diibagian atas dari papan sedikit agak lebar, sedemikian rupa sehingga papan bingkai itu menjorok kedalam , dapat menghalangi kepiting  keluar.  (lihat gambar : 8 )   dibawah ini.  Agar tidak hanyut terbawa arus, setiap sudut  diberi jangkar dengan  ikatan tali, seperti pada gambar itu.


   Gambar::8. Kotak Jaring Apung   (menurut Cholik dan Hanafi, 1994)

Metoda pemeliharaan kepiting dilakukan di petak tambak air payau . Petak luasnya  20 x 50 m = 100 m2,  petak tambak itu diberi pintu air 2 buah : satu untuk pemasukan air dan  satu untuk pembuangan. Didalam petak itu di sekat-sekat menjadi beberapa bagian dengan cara memasang pagar dari bambu.  Setiap bagian  ukurannya  misalnya 5 m x 10 m . dibagian  sekeliling pagar bambu dibuat lebih dalam berbentuk saluran keliling (caren ) sedalam 50-60 cm , sedangkan dibagian tengahnya menjadi pelataran yang dapat terendam air sedalam  30-40 cm.   (lihat gambar dibawah ini.) Metoda ini dapat ditemui di daerah Kamal, dan Tangerang  

1.4. Kotak berpagar tanpa caren
Dapat juga kotak-kotak yang dibuat dengan sekatan pagar bambu di dalam petak tambak, dibuat tanpa caren . Di dalam kotak-itu di bagian dalam pagar, dipasang bambu atau  gedek 0,5 -1 m dibawah permukaan air, dimana kepiting dapat berteduh. Seperti di  Lukis dibawah ini.. : Gambar: 7 menurut Cholik & Hanafi, 1991.



Gambar:9.Sekat petak tambak dengan pagar bambu.


1.5. Pagar dari jaring  dengan pintu air
Pemagaran  tambak dapat juga dipakai jaring  yang dipasang tegak menggunakan tihang-tihang kayu atau bambu. Pintu air juga dipasang saringan dari kerei bambu , seperti pada gambar: 10, dan tanpa caren  dalam pagar itu. Ditengah diberi pelataran terendam air 40-60 cm dimana kepiting mendapatkan makanan alami yang tumbuh disitu..
Gambar: 10 Pagar dari jaring berpintu air




Kotak dengan system pagar itu selain dipasang didalam petak tambak, dapat juga dipasang pada suatu teluk yang dangkal (lihat gambar: 13). Metoda ini dijumpai dipraktekkan petani tambak di Sumatera Utara. 


2.      Metoda  Pemeliharaan Kepiting
Telah diuraikan diatas, bahwa pemeliharaan kepiting  dilakukan dengan 4 macam  tehnik sesuai dengan tujuan jenis produksinya . Pada bagian ini diuraikan satu persatu. 


2.1. Pembesaran Benih
Yang paling banyak dilakukan metoda ini yaitu pembesaran kepiting hasil tangkapan yang masih berukuran kecil ( kurang dari 50 gram) dipelihara menjadi ukuran yang layak di konsumsi yaitu ukuran lebih besar dari 200 gram .  Pembudidayaan ini dilakukan secara tradisional yang bersifat ekstentif.  


2.2. Tempat Pemeliharaan
Tempat pembesaran ialah tambak yang biasa untuk memelihara bandeng dan udang.  Agar kepiting tidak keluar dari tambak, dibuatlah kurungan atau sekeliling tanggul tambak dipasang pagar dari bambu yang cukup rapat.  

Luas petak tambak yang dipergunakan untuk memelihara kepiting bervariasi, tergantung dari kepemilikan petani dan kondisi pengirannya dan juga aspek keamanan dipertimbangkan. Namun kisaran luas petak  antara  100 m2 sampai 0,5 ha. Petakan yang lebih besar lebih sukar di kelola , misalnya pengaturan air dan biaya pembuatan pagar akan lebih besar, sehingga biaya harus disesuaikan pula dengan kemampuan petani. 

Padat penebaran  sebaiknya 2 ekor/m2.  Derajat kehidupan dipengaruhi oleh kepatan tebar. Karena kepiting bersifat kanibal, semakin padat resiko dimangsa oleh sesamanya semakain besar.  Percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa pada padat tebar 1 ekor/m2 derajat kehidupan 77 % ; kepadatan 3 ekor.m2 sintasan 49% dan kepadatan 5 ekor/m2 sintasan hanya 32 % (Gunarto dan Cholik, 1990). Maka disepakati bahwa kepadatan tebar sebaiknya 2 ekor/M2  dimana sintasan dapat dicapai 70 % atau mungkin lebih. 
Lama pemeliharaan  3 bulan , dimana dari benih kepiting  berat awal 50 gram rata-rata , akan menjadi kepiting  dengan berat rata-rata 200 – 300 gram. Ukuran yang umum dipasarkan.


2.2.1. Pakan
Pakan yang diberikan ialah ikan rucah yang harganya murah atau binatang-binatang pengganggu di tambak seperti ular, belut yang dipotong-potong kecil-kecil. Di Negara lain seperti Malaysia dan Philippina , dianjurkan untuk memberi pakan kepiting  dengan bahan-bahan buangan dari penyembelihan hewan ( jerohan) ayam, dan ternak lain. Banyaknya ransum 3-5 % berat biomassa kepiting  2-3 kali sehari. Pemberian yang terlalu banyak , pakan akan bersisa dan membusuk dalam tambak sehingga kurang baik akibatnya bagi kepiting. Karena itu petani harus mengamati keadaan mutu air tambak, sehingga bila terjadi hal yang memburuk, dapat dilakukan pergantian air, pada waktu terjadi pasang. 


2.2.2. Pemanenan
Pada system pemeliharaan di tambak dengan pagar bambu  itu, cara pemanenan  Secara sederhana yaitu dimulai dengan membuang sebagian air tambak sampai kedalaman dalam petak  30 cm. Beberapa orang akan turun kedalam tambak membawa  keranjang untuk wadah kepiting yang ditangkap dan membawa sebatang bambu . Bambu itu di tancapkan  pada dasar tambak, lalu di tangkap oleh kepiting hingga dapat ditangkap dengan tangan saja.  Tetapi cara ini sering menyebabkan capitnya lepas, sehingga harga jualnya turun.  

Penangkapan secara total biasa dilakukan dengan pengeringan tambak, sehingga kepiting dapat ditangkap dengan seser, dan yang tersembunyi didalam lumpur dapat di juga ditangkap dengan seser dari bambu atau pengki untuk memungkinkan  mengeruk lapisan Lumpur tempat kepiting bersembunyi. 

2.2.3. Mengikat Kepiting Kepiting  mempunyai capit yang kuat, dan anggota badannya mudah putus, sedangkan bila anggota badan tidak lengkap, harga jualnya akan menurun.  Karena itu keterampilan cara mengikat kepiting  haruslah dipelajari dengan cermat. Dibawah ini disajikan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengikat kepiting hidup  dengan cara yang baik dan benar, agar kepiting tidak putus angota badan dan orang yang mengikatnya tidak terluka seperti di lukiskankan oleh  Rattanachote dan Dangwatanakul ( 1991).
Gambar:  14 - Mengikat Kepiting (Rattanachote & Dangwatanakul , 1991)
  
2.3. Penggemukan Kepiting
Penggemukan kepiting dilakukan  menggunakan wadah berupa kotak dari bambu yang di apungkan d dalam petak tambak. Konstruksi kotak bambu  (system) baterai) seperti dibahas pada buti r : 5.1.Setiap kotak kecil diisi seekor kepiting. 
Dengan system kotak-kotak kecil ini, sangat hemat dalam pemakaian ruang , dimana jumlah yang dipelihara  40 ekor kepiting per- m2. Lama pemeliharaan penggemukan ini hanya 3-4 minggu. Dari benih awal yang sudah berukuran 150-200 gram/ekor.  


2.4. Produksi kepiting cangkang lunak
Kepiting Bakau Oleh para petani  di Jawa Barat, kepiting cangkang lunak disebut kepiting “soka”.
Kepiting ini  mempunyai sifat secara periodik berganti kulit. Sementara kulitnya lepas, akan diganti dengan kulit baru yang masih lunak untuk beberapa jam lamanya sebelum menjadi keras kembali. Ketika cangkang lunak itu kepiting juga berkesempatan untuk tumbuh membesar. 

Frekuensi ganti kulit , pada yang masih muda  lebih cepat, semakin tua frekuensinya semakin jarang. 
Kepiting yang di pelihara sudah berukuran cukup besar yaitu 150-200 gram /ekor, dan lama pemeliharaan 2-3 minggu saja.  Pergantian kulit ini secara alami  dirangsang oleh faktor alam yaitu saat air pasang tinggi dari laut masuk  . Juga dipengaruhi oleh banyaknya pakan . Karena itu dalam pemeliharaan kepiting harus diberi pakan dalam jumlah cukup , tidak boleh kelaparan.

Bila wadah yang dipergunakan sistem baterei, dimana kepiting seekor dipelihara dalam satu kotak , sehingga tidak saling memangsa, maka derajat kehidupan selalu tinggi bahkan tidak ada yang mati.

Wadah yang digunakan dianjurkan seperti dilukiskan pada butir 5.1. diatas. Jadi sama dengan wadah untuk tujuan Penggemukan kepiting. 


2.5. Produksi kepiting bertelur
Para konsumen di restoran-restoran internasional, banyak menggemari kepiting yang mengandung telur. Memang kepiting yang penuh mengandung telur  sangat lezat . Telurnya berwarna merah jingga memenuhi seluruh rongga dibawah karapas.  Harganya menjadi berlipat 3-4 kali dibanding dengan kepiting yang gemuk tetapi tidak mengandung telur ! 

Yang dipelihara untuk ini tentu hanya kepiting berjenis kelamin betina saja, dan ukurannya sudah mencapai 200 gram atau lebih.  Petunjuk untuk postingan  ini telah diterangkan bahwa kepiting betina dapat dipercepat proses pematangan gonadnya dengan cara diablasi salah satu matanya.

Untuk jenis produksi ini , sebaiknya digunakan wadah berupa kotak-kotak dari bambu juga (sistem baterei) dimana seekor kepiting dipelihara di dalam satu kotak seperti digambar dan dijelaskan pada butir 5.1. 

Kepiting betina yang dipilih untuk dipelihara  ialah yang sudah cukup ukurannya ( dewasa) yaitu 200 gram atau lebih. Tidak ada tanda-tanda berpenyakit. 

Mula-mula kepiting betina tsb dipelihara dengan diberi pakan yang bermutu baik yaitu ikan rucah yang segar , juga cumi-cumi dan kerang-kerangan. Bahan pakan itu tentu harganya cukup mahal, tetapi harga produksinya juga mahal, sebagai kepiting bertelur .

Banyaknya ransum 2-3 % berat tubuh kepiting per-hari. Jenis pakan tsb. cara pemberiannya dicuci bersih lebih dahulu , lalu dipotong-potong kecil-kecil agak mudah dimakan oleh kepiting yang memang ukurannya sudah cukup besar. Pakan ini diberikan  selang sehari , mengingat kadang didaerah tertentu jenis cumi-cumi dan kerang-kerangn tidak selalu mudah diperoleh dan harganya cukup mahal.  

Selain pakan  tersebut diatas, kepiting  juga dapat diberi pakan berupa pelet kering yang biasa diberikan untuk udang ditambak , yaitu pelet udang klas “grower” (untuk udang yang sedang tumbuh ).Dosis pelet kering itu 2-3 % berat kepiting/hari, yang diberikan 2 kali , pagi dan sore. Malahan pakan pelet itu dapat diberikan sebagai pakan yang utama setiap hari.  Kepiting ternyata suka makan pelet kering itu.  3 hari setelah kepiting dipelihara, sehingga sudah cukup beradaptasi, lalu dilakukan ablasi mata. 

Kepiting dipegang dengan tehnik khusus agar japit dan anggota tubuh lainnya tidak putus.  Biasanya hanya tehnisi yang sudah terampil yang dapat dengan sempurna melakukannya.

Lalu satu mata kepiting itu di potong dengan gunting yang lebih dahulu dipanaskan (dibakar), agar lukanya cepat kering dan tidak mengeluarkan banyak cairan. Selesai ablasi, kepiting di rendam sementara didalam ember yang diisi larutan PK  3 ppm agar tidak infeksi. Setelah di desinfeksi selama 5 menit, kepiting  dikembalikan ke dalam kandangnya /kotaknya . Pemeliharaan selanjutnya , berupa pemberian pakan dan pengaturan pengairannya agar menjamin kepiting calon induk tsb. hidup optimal.

Biasanya setelah 3 hari , telur didalam gonadanya sudah mulai tumbuh dan 7 hari  gonada sudah berkembang penuh.  Tandanya dapat dilihat di bagian belakang tubuhnya di batas antara karapas dengan abdomen yang terlipat itu , mengembang dan berwarna merah -jingga.  Maka kepiting ini harus segera di panen dan dijual kepada pemesan.

Kepiting yang bertelur ini sebenarnya merupakan calon induk yang dapat dipelihara di Panti Pembenihan agar menghasilkan anak-anak kepiting. Yaitu sebelum di ablasi , lebih dahulu dikawinkan, agar betina ini mendapat sperma dari pejantannya un tuk fertilisasi telur-telurnya.  Namun karena tujuannya untuk konsumsi  di restoran, maka tidak perlu dikawinkan lebih dahulu.

Hal yang perlu dijaga oleh setiap petani yang memelihara kepiting, terutama untuk eksport, haruslah menjaga agar anggota badan (kaki-kaki, japit, dll) tidak putus. Karena anggota tubuh yang cacat akan menurunkan nilai jualnya.


Jadi Pada Prinsipnya dalam Usaha Budidaya Kepiting bakau ini, Ada 4 metoda budidaya kepiting  menurut  Produk yang dihasilkan , yaitu 
1.       Pembesaran dari benih menjadi kepiting  ukuran konsumsi.
2.       Penggemukan : kepiting jantan betina  agar menjadi lebih gemuk, harga meningkat
3.       Produksi kepiting cangkang lunak.
4.       Produksi kepiting bertelur. 


Lama pemeliharaan, pada no. 1 , 1-2 bulan , tergantung ukuran benih di awal pemeliharaan dan ukuran permintaan pasar/konsumen.

Pada no:2 ,  hanya 3-4 minggu. Pada no: 3,  3-4 minggu  Pada no:4 , 3 minggu sampai 1 bulan.
a.  Wadah  pemeliharaan  ada beberapa macam. Yang paling baik hasilnya ialah system Baterei,  berupa kotak dari bambu yang disekat-sekat  menjadi kotak-kotak kecil ukuran 30 cm2, masing-masing untuk wadah  satu ekor kepiting. Dengan kotak- kecil ini kepiting lebih aman terhadap kanibaisme , ketika sedang dalam kondisi ganti kulit. Sehingga wadah semacam ini menghasilkan derajat kehidupan 95-100%. 

b.  Wadah  berupa jaring apung, dapt digunakan , dengan ukuran 2,5 x 2,5 x 1 m  dipasang pada perairan  umum , diberi jngkar agar tidak terhanyut oleh arus.    Bila dipelihara jantan atau betina saja  secara terpisah, akan dapat mengurangi kanibalisme.

c.   Tambak bekas memlihara udang dan bandeng, dapat di sekat-sekat dengan  kerei bambu yang di tancapkan  20=30 cm kedalam Lumpur  agar kepiting tidak lolos.  Di bagian tengah kotak di beri pelataran tanah yang lebih tinggi , agar kepiting mencari makan. Sedangkan caren keliling yang agak  dalam ( 30-50 cm) kepiting dapat berteduh.    Pemeliharaan ini untuk pembesaran  dan /atau penggemukan kepiting. Hasilnya  mortalitas mencapai 10-20 % karena kanibalisme.

d.  Pemeliharaan kepiting didalam pagar (pen culture) dengan pagar bambu itu dapat juga dipasang pada teluk yang dangkal. Biasanya kepiting  sebagai benih (diawal pemeliharaan sudah cukup besar (100-150 gram)  agar menjadi gemuk sebelum di jual. 

e.  Wadah pemeliharaan berupa bak dari semen seperti di dalam Panti Pembenihan yang biasanya untuk udang, baik untuk memelihara kepiting calon induk sampai mengandung telur tingkat 2, tetapi tidak sampai memijah.  Ini perlu rangsangan  pengembangan telur /gonada dengan cara  ablasi mata, seperti diterangkan pada Materi Pokok 2. Disini hanya dipelihara kepiting betina saja, pejantan tidak diperlukan  karena yang berproduksi telur hanya yang betina saja. Bila dicampur jantan, malahan bisa  menyebabkan lebih banyak kematian karena kanibalisme.  

Budidaya (pemeliharaan kepiting) kesemuanya memerlukan pemberian pakan  yang harus diberikan secara cermat. Pakan harus  mencukupi dosisnya yaitu 5-10 % berat kepiting yang dipelihara seluruhnya ( biomassa) per-hari, diberikan 2 kali sehari.   Pakan harus dari bahan yang mudah didapat dan harganya tidak mahal, seperti, ikan rucah, kotoran dari penyembelihan hewan, sisa-sisa makanan dari restoran. Bila harga pakan  mahal misalnya pelet, tentu tidak menguntungkan bagi petani. 

Cara pemanenan kepiting dapat secara serentak (panen total) yaitu mengeringkan seluruh tambak tempat pemeliharaan kepiting.  Atau panen secara selektif, bial menggunakan system baterei, dimana kepiting yang bercangkang lunak  di panen. Yang lain, dipelihara lebih lanjut sampai ganti kulitnya.  

Cara panen sebagian (selektif) juga dilakukan untuk kepiting bertelur. Yang sudah mengandung telur saja yang dipanen.  Penanganan kepiting setelah dipanen haruslah dilakukan secara cermat supaya tidak mematahkan kaki-kakinya. Kepiting yang cacat, nilai jualnya akan menurun.  

Kepiting yang dipelihara didalam petak tambak yang diberi berpagar, waktu air surut, air didalam petak juga di surutkan sampai tinggal 20 cm. Ketika pasang naik, air di masukkan melalui pintu air, kepiting akan berenang menentang arus air laut yang mengalir masuk. Ini memudahkan pengumpulan kepiting yang berenang menentang arus air itu. Sifat  yang berenang menentang arus ini disebut “rheotaxis”. 

Kepiting yang ditangkap segera diikat secara sistematik dengan cara ikatan yang benar  agar kaki  atau capit tidak patah.  Hanya orang yang sudah terampil melakukan pengikatan yang berhasil mengerjakannya.  Karena itu para peserta kursus harus  berlatih mengikat kepiting dengan benar.

Pengangkutan jarak dekat, sampai 2-3 jam perjalanan, kepiting yang sudah diikat dengan benar, digantungkan terbalik dimasukan ke dalam kotak, sepanjang perjalanan harus dipercik dengan air payau, agar tetap basah. Metoda pengangkutan ini dapat berhasil hidup 90 % atau lebih.  



Keterangan
Postingan ini di maksudkan sebagai bahan pengetahuan  teori dasar bagi para pelaku utama , Pengusaha dan para pemerhati  budidaya Kepiting. Kemungkinan besar para pembaca  sama sekali belum pernah belajar yang mendalam tentang   Budidaya Perikanan pada umumnya dan budidaya kepiting bakau pada khususnya.  Namun demikian, para pembaca dan pengguna ini mempunyai minat yang cukup terhadap budidaya perikanan. Oleh karena itu  Artikel ini sebagai pengetahuan dasar, haruslah di pelajari dan dipahami secara sungguh-sungguh sebelum yang bersangkutan memulai  melakukan budidaya kepiting bakau.  Tanpa mempelajari teori sebagai dasar, kiranya mustahil, seseorang akan dapat memulai usaha budidaya kepiting ini.  

Juga setelah pelaku budidaya dan pengusaha, memulai usaha ini, tentu secara terus menerus mengingat dasar pengetahuan ini dan juga harus mengikuti  perkembangan  dan kemajuan tehnologi yang mungkin terjadi dikalangan para pelaku utama budidaya kepiting yang lain dan para peneliti serta akademisi yang pasti melakukan penelitian di bidang budidaya kepiting. 

Sangat di anjurkan agar para pelaku budidaya kepiting , mengikuti perkembangan tehnologi budidaya kepiting yang lebih mutahir, yaitu dengan cara menyimak tulisan/publikasi baik berupa karya-karya tulis, seminar, diskusi,  maupun publikasi dari media elektronik (inter net)  baik siaran yang bersumber di dalam maupun di luar negeri.  

Demikianlah , petunjuk singkat ini  merupakan pengetahuan awal untuk budidaya kepiting yang merupakan rangkuman dari berbagai   hasil penelitian para  peneliti/ cendekiawan bidang perikanan yang publikasinya  tersebar di berbagai perpustakaan, sehingga ini memudahkan para pemula dalam menimba ilmu khususnya budidaya Kepiting.  Semoga Karya tulis ini  dapat bermanfaat untuk perkembangan pembangunan Perikanan khususnya Budidaya Perikanan , lebih khusus lagi Budidaya


Untuk diketahui sebagai tambahan
Tambahan  1
1.       Tubuh kepiting berkulit/ bercangkang keras terdiri dari zat khitin. Kulit keras itu menghambat pertumbuhan, karena itu Kepiting secara periodic  berganti kulit, untuk mendapat kesempatan membesarkan tubuhnya. Bentuk tubuh kepiting tambak dari bagian dorsal (atas) berupa karapas yang membulat , sedangkan bagian kepala dada dan organ tubuh bagian dalam seperti alat pencernaan makanan, alat reproduksi , dsb. berada di dalam/ tertutup oleh karapas tsb. Bagian abdomen berupa segitiga terbentuk dari beberapa ruas , melipat erat dibawah ( bagian ventral) dari tubuhnya. Kaki jalan ke-1 berbentuk capit yang besar . kaki-kaki jalan no 2,3,4 berujung runcing berfungsi untuk berjalan; pasangan kaki jalan nomer 5 , berupa kaki dayung. 

2.   Pada kepiting jantan abdomen berbentuk segitiga yang sempit; pada betina berupa segitiga yang melebar.  Pada betina kaki-kaki renang berbulu sebagai tempat melekatnya telur-telurnya setelah dibuahi, dan yang sedang dieramkan. Pengeraman telur lamanya 10-12 hari , dilakukan olrh induk betina.

3.   Tempat hidup atau habitat kepiting bakau ialah wilayah perairan estuaria  yaitu hutan bakau, tambak , saluaran dan sungai sampai laut dekat pantai yang berair payau. Adapun wilayah penyebarannya  meliputi perairan pantai didaerah Indo-Pasifik, dari pantai timur benua Afrika, sampai kepulauan Polynesia, dari pulau-pulau di Jepang bagian selatan sampai pantai utara benua Australia. 

4.  Kepiting melakukan perkawinan di perairan estuaria sampai di laut. Telur setelah dibuahi , ditempelkan pada umbai-umbai (bulu-bulu kaki renang dibawah abdomen induk betina. Lama pengeraman telur 10-12 hari, menetas menjadi Pre-zoea yang setelah 30 menit, berubah menjadi Zoea-1 yang hidup planktonis dan makanannya terdiri fitoplankton : Chaetoceros sp. , Tetraselmis sp.  dan zooplankton yang ukurannya lebih kecil-kecil : Brachionus sp. dan nauplii Artemia.. Zoea bermetamorfosa setiap 3-4 hari untuk ber-turut-turut menjadi Zoea-2, Zoea-3, Zoea-4 dan Zoea -5. Total lamanya 18-20 hari, berubah menjadi stadia Megalopa. Megalopa berumur 5-7 hari berubah menjadi Crablet , yaitu benih kepiting kecil yang organ tubuhnya sudah menyerupai kepiting besar. Crablet berganti kulit setiap 4-7 hari berganti kulit dan tumbuh menjadi berukuran lebih besar. Pada umur 50-70 hari Crablet sudah dapat di jual sebagai benih kepiting untuk di deder ditempat yang lebih luas. 

5.      Benih kepiting yang dihasilkan di Panti Pembenihan berupa stadia Crablet berukuran 2-5 cm ( pada umur 50-70 hari)  untuk di pelihara di tempat pembesaran hingga bebrapa bulan lamanya menjadi kepiting ukukuran konsumsi dengan berat  150-200 gram atau lebih.  Namun sementara ini, benih kepiting   hasil tangkapan dari alam, telah berukuran  berat 30-50 gram . yang juga dijadikan benih dari awal pemeliharaan pembesaran menjdai kepiting ukuran konsumsi. 


Tambahan  2
  1. Calon induk dan induk kepiting dapat diperoleh dari hasil penangkapan di alam. Dengan syarat , anggota badannya utuh tidak ada cacat dan tidak ada penyakit. Calon induk dan induk kepiting  dipelihara  didalam bak-bak  didalam Panti Pembenihan.
  2. Pematangan gonad dilakukan dengan tehnik ablasi satu mata pada kepiting betina . Tehnik ablasi ini mendorong mempercepat proses pematangan gonad pada binatang Krustasea pada umumnya (termasuk udang dan Kepiting). Selain itu, agar proses pematangan gonad berhasil sempurna, harus juga di barengi dengan pemberian pakan yang bernilai gizi sesuai dengan kebutuhan kepiting , dan pengelolaan kualitas air yang sesuai. Telah diketahui juga bahwa bak pemeliharaan induk harus diberi dasar Lumpur agar perkembangan gonad menjadi baik ( telur yang dihasilkan banyak dan kemampuan pertumbuhan larva akan baik).
  3. Induk kepiting  setelah diablasi dipelihara di dalam bak yang di beri  dasar lapisan Lumpur , kedalaman air 50-80 cm diatas lapisan Lumpur , cukup aerasi dengan 1 batu aerasi per –m2 . Pakan berupa daging cumi-cumi , ikan , kekerangan yang segar dengan dosis ransum 5-10% berat  biomassa per-hari yang diberikan 2 kali pagi dan sore. Untuk kelengkapan gizi, dapat diberi pelet kering berkualitas seperti untuk induk udang windu ( kadar protein 40%), sebanyak 2-3 % biomassa per-hari dan diberikan 2-3 kali per-minggu.
  4. Pada Panti Pembenihan, Zoea-1 sampai Zoea 5 diberi pakan  berupa fitoplankton (Chaetoceros sp . dan  Tetraselmis sp.) dan zooplankton (Brachionus sp. dan nauplii Artemia sp.) semuanya disediakan  sebagai kultur di dalam Panti Pembenihan. Stadia Megalopa  ukuran lebih besar dan bersifat lebih agresif dan kanibal. Agar mengurangi kematian akibat kanibalsme, bak perlu diberi tempat persembunyian berupa  potongan jaring-jaring bekas atau tali rafiah yang dibuat ikatan dan pemberat agar tenggelam sampai dasar bak.  Megalopa pakan  berukuran lebih besar , maka diberikan Artemia yang ditetaskan umur 5 hari banyaknya pakan sekenyangnya. Setelah Megalopa umur 10 -12 hari akan berubah menjadi Crablet (benih kepiting). Sifatnya hidup didasar  (bentik). Pakan berupa  cacahan daging ikan, udang atau kerang yang di blender. Sampai kenyang. Umur 50-70 hari  benih kepiting dapat dijual untuk dipelihara di pendederan dalam kolam tanah (tambak) atau didalam hapa yang dipasang di dalam petak tambak.
  5. Penanggulangan penyakit diutamakan dengan cara memelihara kebersihan bak dan ruang dan lingkungan Panti Pembenihan. Penularan dari luar di cegah dengan pelaksanaan Cara Budidaya yang Baik  dan Bio security. Pemakaian anti biotika telah dilarang penggunaannya karena akan bersifat mengendap didalam Lumpur dan beberapa menyebabkan kanker pada manusia. Dianjurkan pemakaian bahan kimia sebagai disinfeksi yaitu merendam benih dan kepiting yang baru didatangkan dari luar  denga larutan PK 2-3 ppm selama 10-15 menit untuk membunuh organisme pemyakit seperti bacteria, jamur, protozoa. Atau sebagai disinfektan juga dapat dipakai larutan formalin 100-200 ppm selam 15-20 menit.

Tambahan 3
1. 4 macam cara budidaya Kepiting dibedakan menurut tujuan produksi yang akan dihasilkan , yaitu : 
  1. Pembesaran   : dari benih menjadi kepiting ukuran konsumsi (200gram atau lebih)
  2. Penggemukan   : kepiting  yang masih ukuran cukup besar 100-150 gram, dipelihara  3-4 minggu menjadi  kepiting berat 200-300 gram atau lebih, agar harga jualnya lebih tinggi.
  3. Produksi kepiting cangkang lunak (kepiting soka), dari kepiting yang berukuran sudah besar  untuk menjadi kepiting yang baru ganti kulit (berkulit lunak). Masa pemeliharaan 3-4 minggu. 
  4. Produksi kepiting bertelur .  Kepiting betina berukuran 150-200 gram dipelihara kira2 1 bulan , dirangsang perkembangan gonadanya dengan cara ablasi mata, ditunggu 1-2 minggu pasca ablasi agar gonada berkembang . Gonad yang berkembang dapat dilihat dari celah belakang karapas yang berwarna merah dan nampak menggembung penuh telur.

2. Wadah  pemeliharaan 
  1. Wadah  pemeliharaan  ada beberapa macam. Yang paling baik hasilnya ialah system Baterei ,  berupa kotak dari bambu yang disekat-sekat  menjadi kotak-kotak kecil ukuran 30 cm2, masing-masing untuk wadah  satu ekor kepiting. Dengan kotak- kecil ini kepiting lebih aman terhadap kanibaisme, ketika sedang dalam kondisi ganti kulit. Sehingga wadah semacam ini menghasilkan derajat kehidupan 95-100%. 
  2. Wadah  berupa jaring apung, dapt digunakan, dengan ukuran 2,5 x 2,5 x 1 m  dipasang pada perairan  umum, diberi jngkar agar tidak terhanyut oleh arus.    Bila dipelihara jantan atau betina saja secara terpisah, akan dapat mengurangi kanibalisme.
  3. Tambak bekas memlihara udang dan bandeng , dapat di sekat-sekat dengan  kerei bambu yang di tancapkan  20=30 cm kedalam Lumpur  agar kepiting tidak lolos.  Di bagian tengah kotak di beri pelataran tanah yang lebih tinggi, agar kepiting mencari makan. Sedangkan caren keliling yang agak  dalam ( 30-50 cm) kepiting dapat berteduh. 
  4. Pemeliharaan ini untuk pembesaran  dan /atau penggemukan kepiting. Hasilnya  mortalitas mencapai 10-20 % karena kanibalisme.
  5. Pemeliharaan kepiting didalam pagar (pen culture) dengan pagar bambu itu dapat juga dipasang pada teluk yang dangkal. Biasanya kepiting  sebagai benih (diawal pemeliharaan sudah cukup besar (100-150 gram)  agar menjadi gemuk sebelum di jual. 
  6. Wadah pemeliharaan berupa bak dari semen seperti di dalam Panti Pembenihan yang biasanya untuk udang , baik untuk memelihara kepiting calon induk sampai mengandung telur tingkat 2 , tetapi tidak sampai memijah.  Ini perlu rangsangan  pengembangan telur /gonada dengan cara  ablasi mata, seperti diterangkan pada Materi Pokok 2.  Disini hanya dipelihara kepiting betina saja , pejantan tidak diperlukan  karena yang berproduksi telur hanya yang betina saja. Bila dicampur jantan , malahan bisa  menyebabkan lebih banyak kematian karena kanibalisme.


3.  Sampai saat ini Bebeapa hal yang Mungkin di  lakukan di Indonesia.
Kendalanya ialah kekurangan benih karena belum ada usaha Panti Pembenihan kepiting Bakau dan selama ini hanya diperoleh dari penangkapan di alam. Juga karena pakan untuk pembesaran kepiting  yang terutama terdiri dari ikan rucah, tidak selalu mudah diperoleh dan persaingan dengan keperluan konsumsi lain.



Sumber Referensi:
Kementerian Kelautan dan perikanan
Badan pengembangan sumberdaya Mnusia kelautan dan perikananan
Pusat penyuluhan kelautan dan perikanan
Selanjutnya Baca juga


Demikian semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan
selamat mencoba dan terima kasih
Demikian selamat mencoba, semoga postingan ini bermantaat dan dapat membantu sebagai tambahan atau wawasan.....




Saturday, June 9, 2012

Betapa Mulianya Wanita Itu

 

Masya ALLAH! ..........
Betapa amat  sayangnya ALLAH Subhanahu wata'ala pada wanita................
sebagaimana dalam  firmanNya, yang artinya bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai kita ikut/tunduk kepada cara-cara/peraturan yang diproduct.
Bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukumNya/peraturanNya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan yang dibuat manusia. Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu.
Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya. Berbahagialah wahai para wanita. Tunaikan dan tegakkan agamamu, niscaya surga menantimu.


 
Sumber Referensi:
Alqur'an, alhadist,
Majalah Muslimah, mutiara hikmah
Mbah google.............
Sumber-sumber lainya 


Demikian Semoga bermanfaat
Anda juga disarankan untuk Tersenyum, Jangan lupa Juga Baca yang satu ini,  Mantapkan Hati secara Rileks, Biar Hati tetap Tentram ,  disamping dapat  Terhibur

MENGENAL RUMPON

Rumpon  merupakan salah perlengkapan dalam istilah perikanan tangkap khususnya penangkapan ikan yang dalam kurun waktu yang belum lama dan banyak digunakan oleh para nelayan baik skala kecil maupun besar. Pancing tegak dapat ditemui di wilayah perairan dalam.  Terutama di sekita rumpon  laut dalam.  Daerah penangkapannya terletak pada alur ruaya ikan-ikan pelagis besar. 

Postingan ini menjelaskan seluk beluk rumpon Mulai Yang terdiri sari:

Tujuan penulisan dalam postingan ini adalah memberi informasi teknologie yang berkaitan dengan penangkapan Ikan  di Laut dengan Sarana Prasarana Rumpon, pancing tegak.

PENGENALAN RUMPON
Didalam  Melakukan Metoda penangkapan yang mendasari teknologi penangkapan ikan, terdapat empat faktor utama yang harus anda pahami, yaitu:
1.       Ikan apa yang hendak ditangkap (Biologi Ikan), 
2.       dimana ikan akan ditangkap (fish ground),
3.       bagaimana sifatnya (fish behaviour)
4.       dan berapa jumlah yang akan/boleh ditangkap (stock assessments dan kelestarian). 

Dari keempat faktor di atas, fish ground merupakan faktor penentu dalam menentukan keberhasilan penangkapan ikan, tanpa mengetahui fish ground ikan yang menjadi tujuan daerah penangkapan adalah pekerjaan menangkap ikan yang sia-sia. 

Fishing  ground di alam merupakan suatu lingkungan kehidupan yang disukai ikan untuk berkumpul.  Berbagai faktor yang menyebabkan ikan mau berkumpul di lingkungan yang sesuai untuknya, yang dapat dipelajari pada mata kuliah biologi perikanan. 

Secara umum ikan akan berkumpul yaitu:
1.       Pada saat makan,
2.       saat hendak memijah,
3.       dan saat bermigrasi (tuna adalah ikan yang bersifat higly migratory).

Sebuah pertanyaan yang selalu menggelitik para nelayan adalah bagaimana menangkap ikan yang paling mudah.  Jawabannya sederhana mungkin “jawaban bodoh” adalah menangkap ikan yang sedang “ngumpul” dan syukur-syukur “diem”.   Pernyataan “ngumpul dan diem” inilah yang memacu para nelayan berupaya mengumpulkan ikan dengan berbagai cara.  Cara yang sudah lama kita kenal adalah dengan menggunakan rumpon (fish agregate device) dan menggunakan atraksi cahaya.  

Mencari fish ground alam bukan pekerjaan mudah. Contoh yang paling sederhana adalah pada penangkapan ikan kembung dengan menggunakan payang tradisional,  kumpulan ikan hanya dapat diketahui oleh para nelayan yang sudah berpengalaman, atau berdasarkan pengetahuan yang diturunkan dari orang-orang tua mereka, bahkan tidak jarang dibarengi dengan mistis.  Contoh pada perikanan modern, bagaimana hunting purse seiner “around the ocean, by day, by weeks, even by month” hanya untuk mencari dan mengejar kumpulan-kumpulan ikan tuna yang sedang bermigrasi.


Di Indonesia penelitian-penelitian tentang keempat hal tersebut di atas terutama mengenai ikan-ikan yang hidup di kawasan perairan Indonesia boleh dikatakan masih langka.  Banyak data yang masih tersimpan di benak-benak para nelayan, para fishing master dan nakhoda kapal penangkap ikan bahkan perusahaan perikanan.  Indonesia sudah mencoba suatu langkah yang didasarkan pada teknologi penginderaan jarak jauh (Indrajah, remote sensing) sehingga mampu memantau perubahan suhu dan kandungan klorofil di permukaan laut hampir diseluruh perairan Indonesia. 

Namun demikian perlu diingat bahwa, teknologi ini didasarkan pada pendeteksian perubahan suhu permukaan dan pergerakan air laut, sehingga untuk menentukan suatu fishing ground diperlukan data pendukung utama, yaitu data (insitu) hasil tangkapan.  Data inilah yang sulit diperoleh selain untuk melakukan penelitian yang demikian memerlukan biaya yang tidak sedikit dimana kita (Indonesia) belum banyak memilikinya.   Data indrajah dapat diperoleh setiap saat, namun data hasil tangkapan kontinuw dari waktu ke waktu pada fishing ground yang sama masih menjadi pertanyaan besar.   

Secara nasional Indonesia (dalam hal ini Departemen Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perikanan telah menerapkan Proyek Fishing Log Book) dimana data hasil tangkapan di berbagai tempat pendaratan ikan dan kapal-kapal penangkap “diharapkan” dapat dicatat.  Selain itu Indonesia telah lama mengenal teknologi pendeteksian bawah air (Underwater fish detection devices). Dari hanya untuk memperkirakan kedalaman perairan hingga sekarang dapat digunakan untuk memprediksi baik karakteristik  perairan maupun biotanya.  Data hasil pendeteksian fish finder diproses dengan menggunakan program analisis seperti EP 500 pada komputer PC sederhana, atau secara life video sehingga dapat diprediksi jumlah densitas per spesies dan ukuran per ekor, berdasarkan layer tertentu dari dasar laut hingga ke permukaan dan kawasan, bahkan kecepatan dan arah pergerakan (schooling maupun individu), berdasarkan ukuran layer.  Mungkin suatu saat berbagai upaya di atas akan dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan suatu daerah penangkapan ikan tertentu pada waktu tertentu dan tersedia secara kontinu sekaligus “dapat dipahami dan mudah serta disukai” oleh para nelayan.

Berbicara mengenai fishing ground, tidak boleh terlepas dari berbagai kondisi perairan yang dinamis, kitapun harus memahami physical oceanography-nya, harus mengetahui kondisi dasar perairannya, dan lain sebagainya semua faktor alam yang mempengaruhi teknologi penangkapan ikan, seperti arus, angin, musim, gelombang, dll.).  Kondisi fisik daerah penangkapan akan sangat mempengaruhi Teknik Penangkapannya (fishing technique), Kapal Penangkap (fishing vessel), Disain Alat Penangkap Ikan (fishing gear design), Perlengkapan Kapal Penangkap Ikan (fishing equipment), Perlengkapan Komunikasi (communication equipment),  Perlengkapan Navigasi (navigational equipment), Kualifikasi dan kualitas SDM (fishing master, nakhoda, dan anak kapalnya), Biaya Operasional (bahan bakar, pelumas, bahan makanan, hak dan jaminan sosial bagi awak kapal seperti: gaji, premi, asuransi, sakit, bahkan keluarga yang ditinggalkannya), hingga manajemen. 

Ikan pada umumnya adalah predator, yang besar memakan yang lebih kecil, yang paling kecil memakan crustacea, crustacea memakan plankton.  Sehingga pada salah satu mata rantai makannya adalah sangat tergantung dengan adanya unsur hara, chlorophyl dan sinar matahari menciptakan proses photosintesanya. 

Indonesia memperoleh sinar matahari sepanjang tahun. Hampir seluruh pulau-pulau besar memiliki sungai yang mengalirkan “bahan unsur hara, yang belum terdekomposisi..??”, pada kenyatanya, dengan terjadinya penggundulan hutan, maka yang dialirkan adalah sampah hutan dan endapan lumpur.  Diperparah lagi dengan hampir punahnya hutan mangrove dimana terciptanya awal rantai makanan biota laut.  Dengan kata lain sebesar apapun ikan di samudra sana, makanannya berawal di mangrove.   Belajar dari phenomena ini maka terciptalah fish ground buatan.  Awalnya rumpon dibuat untuk menghasilkan unsur hara ditengah laut dari daun kelapa yang membusuk, kemudian terciptalah photosintesa, berlanjut dengan tumbuhnya phitoplankton, zoo plankton, berkumpul pula crustacea, dan biota  laut tingkat tinggi yang berukuran makin besar dan makin besar akibat adanya sifat predator. 


Kita mengenal dua jenis fish ground,
1.       pertama adalah fish ground alami,
2.       dan kedua adalah fisih ground buatan. 

Fish ground alami adalah fish ground yang sudah ada di laut. 
Sedangkan fish ground buatan adalah fish ground yang diciptakan oleh manusia yang dibuat semirip mungkin dengan fish ground alami, yang dikenal dengan rumpon (Fish Aggregate Devices; FAD).  


Ditinjau dari konstruksi dan lokasi pemasangannya rumpon dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1.       rumpon dangkal
2.       dan rumpon laut dalam.

Dewasa ini, dengan diciptakannya alat pendeteksi bawah air (fish finder) yang cukup terjangkau harganya.  Rumpon tidak lagi dibuat untuk menciptakan rantai makanan, tapi rumpon dimanfaatkan sebagai attractor di fish ground yang telah diketahui melalui fish finder. 


Ditinjau dari segi pengoperasiannya dibagi menjadi dua pula, yaitu :
1.       Rumpon tidak tetap (rumpon kenvensional yang berasal dari Tegal, Pekalongan, dan sekitarnya),
2.       Rumpon tetap (rompong di Sulawesi dan payaos dari Filipina). 


Sedangkan ditinjau dari segi bahan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
1.       Rumpon yang terbuat dari bagian tumbuhan.
2.       Rumpon yang terbuat bukan tumbuhan
3.       Rumpon yang terbuat dari gabungan bagian tumbuhan dan bukan tumbuhan 


Fishing ground buatan :
Fishing ground buatan adalah suatu metoda bagaimana mengumpulkan ikan dengan menciptakan suasana atau lingkungan yang mirip dengan habitat asli dari jenis ikan yang hendak dikumpulkan. Pemilihan bahan untuk rumpon didasarkan pada penciptaan kondisi lingkungan tersebut.  Salah satunya untuk menciptakan rantai makanan.  Rantai makanan dibagi dalam dua proses.  Proses pertama menciptakan rantai makanan (food chain) yang akan menghasilkan kelimpahan zooplankton dan macronekton.  Proses kedua adalah menciptakan berlangsungnya hukum alam pada kehidupan ikan yaitu sifat predator (ikan besar memakan ikan yang kecil).  Pada proses yang kedua inilah yang diharapkan terjadi pengumpulan berbagai jenis dan ukuran ikan, dimulai dari ikan-ikan kecil hingga yang lebih besar secara bertahap.  Bila diperkirakan telah berkumpul ikan-ikan dalam jumlah yang banyak maka fungsi rumpon telah tercipta dengan baik. 


Rumpon Buatan dari Bagian Tumbuhan Proses dekomposisi pada tumbuhan yang direndam di air laut hingga menghasilkan makanan yang diperlukan melalui beberapa tahapan.

1. Tahap pertama: Proses pembusukan (dekomposisi) tumbuhan (chlorophyll) akan menumbuhkan diatomeae.

2. Tahap kedua: Melimpahkan diatom yang sangat diperlukan sebagai makanan bagi phytoplankton.
3.  Tahap ketiga:  Terkonsentrasinya phytoplankton yang merupakan makanan utama bagi zooplankton.  (Phytoplankton dan zooplankton telah ada melimpah di seluruh lapisan perairan laut yang dapat cepat berkembang biak).  

Setelah melimpahnya zooplankton maka akan mengundang ikan-ikan kecil untuk berkumpul dan memakannya.   Pada tahapan ini terjadilah proses kedua yaitu, penciptaan kondisi lingkungan  dimana ikan besar memakan ikan kecil.  Sekaligus memberikan perlindungan kepada ikan kecil untuk tidak dimakan secara langsung oleh ikan-ikan besar.   Sifat perlindungan rumpon terhadap ikan kecil ini ditujukan untuk memperpanjang waktu sehingga ikan-ikan dari berbagai jenis dan ukuran dapat lebih banyak berkumpul dalam jumlah yang besar.  Ilustrasi rumpon koonvensional beserta komponennya disaji pada gambar di bawah ini


 gambar 2.1 dan 2.2
gambar 1.1. Rumpon Buatan Konvensional



 Gambar 1. 2 Komponen rumpon konvensional

PERSYARATAN:
1.       Tumbuhan harus yang mengandung banyak chlorophyll dan segar (bukan kering).
2.       Harus dapat cepat membusuk dan tahan lama (sekitar 15 hari) atau lebih (beserat memanjang dan liat).
3.       Harus dapat menciptakan lingkungan yang teduh (untuk berlindung dari biota yang tingkatnya lebih tinggi dan sinar matahari langsung).
4.       Mudah diangkat, diperbaharui, dipindah dan murah harganya.    


Rumpon Buatan dari Bahan Bukan Tumbuhan Proses pengumpulan ikan di rumpon sama dengan yang dijelaskan di atas, hanya saja ada perbedaan proses yang terjadi pada rumpon yang terbuat dari bahan bukan tumbuhan. 

Rumpon yang terbuat dari tumbuhan tidak mampu bertahan lama (15 hari), sehingga diperlukan perbaikan, penambahan atau penggantian rumpon yang mengakibatkan pemborosan waktu, dan biaya yang berefek pada non efisiensi.   Proses siklus rantai makanan dan siklus kehidupan biota laut dari rumpon non tumbuhan (Gambar 113 – 115) adalah  bersumber dari food chain dan coral life  cycle,  yaitu memberikan tempat tumbuh atau menempel biota karang sesuai dengan tingkat yang paling rendah hingga tingkat tertinggi dalam proses pembentukan lingkungan karang yang diupayakan untuk menciptakan habitat dari jenis ikan tertentu.

Rumpon laut dalam dapat dipasang pada kedalaman antara 270 – 3.700 m, dengan berbagai disain mulai dari pelampung bambu, drum, pontoon besi, pontoon alumunium, dan fiber glass. 

Perkembangan FAD dengan berbagai keberhasilannya dalam menarik perhatian ikan untuk berkumpul dalam jumlah besar, telah mempengaruhi seluruh tingkat perikanan, tidak hanya perikanan artisanal atau subsistence, dapat meningkatkan hasil tangkap dan dapat melakukan penangkapan harian (one day fishing) juga  perikanan komersil dapat meningkatkan hasil tangkapannya dengan tajam, leisure fishing hampir setiap hari dapat menangkap ikan.  


FAD juga dapat mengurangi konsumsi bahan bakar, dengan mengurangi waktu pencarian (searching time) ikan, ikan-ikan besar yang berada di bawah rumpon dapat ditangkap dengan hand line sementara kapal drifting (Shomura, et al., 1982).  Rumpon jenis demikian ditampilkan pada gambar 2.3.


PERSYARATAN:
Secara teknis material apapun yang direndam di air laut merupakan media tumbuh atau tempat menempelnya biota karang.  Namun tujuan pembuatan rumpon ini tidak terlepas dari persyaratan harus mudah ditangani, mudah dipindah atau mudah diperbaiki,  sehingga dihindarkan bahan-bahan non tumbuhan yang tidak mudah korosif, dan aerodinamis.   


Gambar 1. 3  Rumpon Buatan dari Bahan Bukan Tumbuhan


  Gambar 1. 4 Rumpon Buatan dari Bahan Tumbuhan dan Bukan Tumbuhan


Rumpon untuk Menangkap Nener Ikan bandeng
adalah jenis ikan yang dapat hidup di dua perairan yang berbeda kadar garamnya, yaitu perairan laut dan perairan payau.  Saat akan memijah bandeng pergi ke perairan laut yang memiliki kadar garam tinggi, dan  saat ikan akan beranjak dewasa bandeng akan berpindah ke air payau, diawali  dari bandeng masih berbentuk burayak (nener).   Burayak akan beruaya mencari air yang berkadar rendah dengan menelusuri tempat-tempat terlindung pada tepian pantai, atau sungai. Dewasa ini bandeng dapat dibudidayakan di tambak air payau.  Namun benihnya ditangkap dari alam dengan menggunakan rumpon.  Rumpon paling sederhana yang terbuat dari jalinan daun pisang kering ini dipasang memotong alur ruaya nener dengan tujuan memberikan perlindungan buatan.  Gambar 192 berikut mengilustrasikan bagaimana seorang nelayan menangkap burayak bandeng di tepian pantai.


1.5. Ikan-ikan yang Tertarik pada Rumpon
Rumpon memikat berbagai jenis ikan pada berbagai kedalaman bedasarkan musim sepanjang tahun.    Ikan-ikan tuna berukuran kecil biasanya mengelompok di dekat permukaan.  Tuna yang lebih besar seperti Madidihang (Yellowfin tuna), tuna mata besar (bigeye tuna) dan albakora (Albacore)  umumnya mengelompok didekat rumpon pada kedalaman 50 meter hingga 300 meter, terkadang juga berada di dekat permukaan khususnya pada malam hari.  Ikan lainnya seperti lemadang (rainbow runner), marlin, cucut, layaran juga biasanya tertarik rumpon

 Gambar 1. 5  Ikan pelagis yang tertarik pada rumpon


Situs FAD terbaik tambat adalah daerah datar yang luas dengan kemiringan sedikit atau tidak ada. Daerah yang luas adalah penting karena, forreasons dijelaskan dalam bagian 2C, path sebenarnya jangkar dari keturunan selama penyebaran agak unpredict-mampu. Akibatnya jangkar mungkin berakhir beberapa ratus meter dari tempat pendaratan dimaksudkan. Flatareas sempit, lereng tajam, dan drop-off curam, semua meningkatkan potensi jangkar berakhir di kedalaman yang salah. Thiscould menyebabkan kerusakan tambat atau stres dan kegagalan premature


Penempatan Rumpon
Pemasangan rumpon memerlukan beberapa persyaratan, diantaranya adalah dasar perairan,

Dasar Perairan:
Kontur dasar perairan terbaik untuk menanamkan rumpon adalah dasar datar yang luas atau sedikit kemiringan. Daerah yang luas adalah penting karena, alur pergeseran jangkar saat diturunkan sangat tidak bisa diprediksi. Akibatnya mungkin jangkar terletak beberapa ratus meter dari tempat penanaman yang telah ditentukan


 Gambar 1. 7 Dasar perairan yang baik untuk menanamkan rumpon (Gate, 198)

Dasar rata yang sempit, slope yang sempit, lereng curam,  Flatareas sempit, lereng tajam, menyebabkan meningkatkan potensi penempatan jangkar yang keliru, menyebabkan terjadinya kegagalan.  Perhatikan gambar 1.6. Dasar laut datar atau landai juga akan membantu mencegah jangkar terseret ke kedalaman air yang dalam ketika terjadinya



 Gambar 1. 6  Dasar perairan

 tegangan geser rumpon akibat cuaca buruk. Dasar perairan yang berbentuk gunung yang curam, jurang laut, atau celah sempit harus dihindari, karena akan menyebabkan kegagalan prematur penanaman rumpon, misalnya akibat gesekan tali pada batu atau pegunungan. Rumpon bisa hilang atau bergeser jauh, jangkar bisa terseret ke dalam air yang lebih dalam, atau penanaman mungkin tidak berfungsi sesuai dengan desain yang direncanakan.  


Kedalaman: 
Rumpon yang ditempatkan di perairan dangkal kurang dari 500 meter umumnya tidak efektif mengagregasi tuna. Selain itu, biaya penanaman rumpon meningkat sebanding dengan kedalaman, karena semakin dalam semakin panjang tali tambat yang dibutuhkan.

Rumpon yang ditempatkan di perairan dalam, Rumpon yang ditanam pada kedalaman antara 1000 - 2000 m umumnya berfungsi dengan baik. Pada kondisi tertentu, bagaimanapun, mungkin perlu untuk menanamkan rumpon di kedalaman yang lebih besar

 gambar.Kisaran Kedalaman Penanaman Rumpon

Kondisi Laut dan Cuca:

Gambar Perairan yang berarus kuat

Berhati-hati, untuk menghindari wilayah perairan yang bercuaca buruk, dan laut yang terlalu bergelombang, untuk mengurangi nelayan untuk memperbaiki rumpon.  Pada kondisi seperti ini, biaya investasi akan tinggi dibanding denngan manfaat yang dihasilkannya. Perairan yang berarus kuat harus dihindari. Seperti juga cuaca buruk dan laut kasar, arus kuat akan meningkatkan ketegangan pada tali rumpon, menyebabkan komponen tali cepat rusak.  Ilayah ber arus deras sering terjadi di ujung pulau (tanjung), dan selat sempit di antara pulau-pulau yang berdekatan.    Jarak antar rumpon: Umumnya rumpon akan mengagregasi lebih efektif jika ditempak pada jarak sekitar 4 – 5 mil laut dari terumbu karang ke arah laut.   Jarak antar rumpon sekitar 10 – 12 mkil laut.  Jjarak ini cukup untuk menghindari interferensi dari karang dan rumpon lainnya  Tentu saja selalu ada pengecualian. Beberapa rumpon yang ditanam lebih dekat ke pantai telah berhasil mengagregasi ikan secara efektif. Wilayah yang memiliki dasar curam (slope) tidak mungkin untuk menanam rumpon pada jarak 4 atau 5 mil laut dari pantai karena terlalu dalam. Namun demikian, ketika memilih sebuah situs baru yang belum pernah diuji sebelumnya, bila memungkinkan gunakan jarak tersebut di atas.


 Gambar jarak rumpon

 Aksesebilitas dan Keselamatan:
Rumpon harus ditempatkan agar aman untuk dicapai dari pelabuhan.  Letak lokasi dan jarak dari pantai tergantung pada kondisi laut dan jarak operasi yang aman untuk perahu berukuran kecil.  Nelayan sangat berpengalaman mengenai faktor dan kondisi laut disekitarnya.   


 Gambar 1.11. Akses bilitas Rumpon
 
Umumnya untuk meningkatkan keselamatan dengan mengonsentrasikan rumpon pada suatau wilayah yang dikenal.  

 Jadi pada prinsipnya kita mengetahui bahwa:

1. Fish ground merupakan faktor penentu dalam menentukan keberhasilan penangkapan ikan, tanpa mengetahui fish ground ikan yang menjadi tujuan penangkapan adalah pekerjaan menangkap ikan yang sia-sia.

2. Fish ground terbagi menjadi dua jenis, pertama adalah fish ground alami, dan kedua adalah fish ground buatan

3. Ditinjau dari segi bahan, bahan rumpon dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
a.       Rumpon yang terbuat dari bagian tumbuhan.
b.      Rumpon yang terbuat bukan tumbuhan
c.       Rumpon yang terbuat dari gabungan bagian tumbuhan dan bukan tumbuhan   

4. Pemilihan bahan untuk rumpon konvensional adalah didasarkan pada penciptaan kondisi lingkungan yang mirip dengan kondisi lingkungan yang disukai oleh ikan.  Salah satunya untuk menciptakan rantai pertama makanan.  Rantai makanan dibagi dalam dua proses.  Proses pertama menciptakan rantai makanan yang akan menghasilkan kelimpahan zooplankton.  Proses kedua adalah menciptakan berlangsungnya hukum alam pada kehidupan ikan yaitu sifat predator.

5. Proses siklus rantai makanan dan siklus kehidupan biota laut dari rumpon non tumbuhan adalah bersumber dari coral life cycle, yaitu memberikan tempat tumbuh atau menempel biota karang sesuai dengan tingkat yang paling rendah hingga tingkat tertinggi dalam proses pembentukan lingkungan karang yang diupayakan menciptakan habitat dari jenis ikan tertentu.

6. Rumpon  telah mempengaruhi seluruh tingkat perikanan, mulai perikanan artisanal atau subsistence, perikanan komersil hingga leisure fishing sehingga dapat meningkatkan hasil tangkap secara tajam. 


 Sumber Referensi:
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Badan Pengembangan sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan
Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan



Baca Juga kelamjutannya:
Pemasangan Rumpon

Jangan Lupa supaya pekerjaan lebih nyaman tetap tersenyum, Tunjukan Kreasimu